Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Dari Dapur Warga Cilacap, Minyak Jelantah Jadi Berkah bagi Lingkungan dan Ekonomi

METROJATENG.COM, CILACAP – Di banyak rumah, minyak goreng yang sudah menghitam biasanya berakhir di saluran pembuangan atau dibuang begitu saja. Setelah digunakan berkali-kali, minyak itu dianggap tak lagi berguna. Namun, bagi kelompok ibu-ibu di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, minyak jelantah justru membuka jalan menuju lingkungan yang lebih bersih sekaligus menambah penghasilan keluarga.

Di tangan para penggerak bank sampah, limbah dapur yang semula tak bernilai mulai dikumpulkan, ditimbang, lalu disalurkan kepada mitra pengumpul. Ada uang yang bisa dibawa pulang, ada kebutuhan pangan yang bisa diperoleh, dan ada sampah yang tak lagi mencemari lingkungan.

Perubahan itu tumbuh dari langkah sederhana: mengajak warga tidak membuang minyak jelantah sembarangan, melainkan mengumpulkannya agar bisa dimanfaatkan kembali.

Salah satu kelompok yang merasakan manfaatnya adalah Bank Sampah Cahaya Asri di Kelurahan Tegal Kamulyan, Cilacap. Di bawah kepemimpinan Rumdani Prapti Sumiwi, kelompok ini mengumpulkan sekitar 50–60 kilogram minyak jelantah setiap bulan.

Jumlah itu terkumpul dari rumah-rumah warga yang mulai memahami bahwa minyak bekas memasak masih memiliki nilai ekonomi. Minyak yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan kini menjadi komoditas yang dapat ditukarkan dengan uang maupun kebutuhan pangan, seperti telur.

“Awalnya kami tidak mengetahui minyak jelantah bisa dimanfaatkan untuk apa. Setelah mendapat penjelasan dari Pertamina Patra Niaga bahwa minyak jelantah memiliki nilai jual, kami semakin semangat mengumpulkannya,” ujar Rumdani.

Bagi Rumdani, perubahan itu bukan semata-mata soal bertambahnya pemasukan kelompok. Ada kesadaran baru yang tumbuh di tengah masyarakat. Warga mulai melihat bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan kegiatan besar. Kebiasaan memilah dan mengumpulkan limbah rumah tangga pun bisa menjadi langkah nyata.

“Alhamdulillah, lingkungan menjadi lebih bersih, minyak jelantah tidak berserakan, ekonomi kelompok juga meningkat, dan jumlah nasabah kami semakin banyak,” katanya.

Ketika Limbah Dapur Menjadi Sumber Penghasilan

Cerita serupa hadir di Kelurahan Kutawaru. Bank Sampah Abhipraya yang dipimpin Herry Yanto telah menggerakkan pemilahan sampah sejak 2019. Seiring waktu, kelompok tersebut memperluas kegiatannya dengan mengumpulkan minyak jelantah melalui program pembinaan Pertamina Patra Niaga.

Perubahan cara pandang menjadi bagian penting dari perjalanan itu. Minyak bekas yang sebelumnya dianggap tak berguna kini memiliki nilai ketika dikumpulkan dan disalurkan melalui jalur yang tepat.

“Dulu minyak jelantah hanya dibuang, tetapi sekarang masyarakat bisa mengumpulkannya dan mendapatkan penghasilan,” kata Herry.

Ia mengapresiasi edukasi, pembinaan, dan fasilitasi yang diberikan Pertamina Patra Niaga. Dukungan tersebut membantu anggota bank sampah memahami peluang pemanfaatan limbah sekaligus memperkuat kegiatan kelompok.

Bagi bank sampah yang tumbuh dari lingkungan permukiman, perubahan kebiasaan warga menjadi modal penting. Semakin banyak rumah tangga yang bersedia memilah dan mengumpulkan minyak jelantah, semakin besar pula peluang kelompok untuk menjaga kesinambungan kegiatan.

Di Kelurahan Tegal Kamulyan dan Kutawaru, minyak jelantah menjadi penghubung antara kepedulian lingkungan dan manfaat ekonomi yang bisa dirasakan langsung masyarakat.

Mengolah Sampah, Menumbuhkan Kemandirian

Upaya serupa dilakukan Bank Sampah Beo Asri. Kelompok yang dipimpin Sri Widowati ini telah bergerak dalam pengelolaan sampah rumah tangga sejak 2012. Pada 2023, mereka memperluas kegiatan dengan mengumpulkan minyak jelantah yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.

Namun, aktivitas Beo Asri tidak berhenti pada minyak bekas memasak. Kelompok ini juga mengolah sampah plastik dan memanfaatkan sisa palet menjadi berbagai produk, mulai dari kursi, meja, hingga rak.

Ragam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa sampah dapat dikelola melalui berbagai cara sesuai dengan karakter dan potensi bahan yang tersedia. Sebagian limbah dapat disalurkan kepada mitra pengumpul, sedangkan material lain diolah kembali menjadi barang yang memiliki fungsi.

Dalam prosesnya, dukungan berupa pembinaan, pelatihan, serta bantuan sarana dan prasarana dari Pertamina Patra Niaga turut memperkuat kapasitas kelompok.

“Kami sangat berterima kasih karena Pertamina Patra Niaga tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga perhatian dan pembinaan kepada kami,” ujar Sri.

Ia berharap pendampingan tersebut terus berlanjut agar bank sampah semakin berkembang dan mampu meningkatkan kesejahteraan anggota maupun warga di sekitarnya.

Bagi kelompok-kelompok ini, keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya sampah yang terkumpul. Kemampuan mempertahankan partisipasi warga, mengembangkan kegiatan, dan memastikan hasil pengumpulan tersalurkan juga menentukan keberlanjutan program.

Dari Lingkungan Rumah Tangga Menuju Energi Berkelanjutan

Di balik aktivitas pengumpulan minyak jelantah, terdapat peluang pemanfaatan yang lebih luas. Minyak bekas memasak dapat menjadi salah satu bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Pemanfaatan tersebut membuka hubungan antara kegiatan sederhana di lingkungan permukiman dan upaya pengembangan energi yang lebih berkelanjutan. Minyak jelantah yang dikumpulkan warga berpotensi masuk ke dalam rantai pasok bahan baku energi, selama memenuhi persyaratan kualitas dan pengolahan yang berlaku.

Dengan demikian, partisipasi masyarakat tidak berhenti pada upaya mencegah pencemaran. Pengumpulan yang dilakukan secara terorganisasi juga berpotensi mendukung pemanfaatan sumber daya secara lebih bertanggung jawab.

Komitmen terhadap upaya tersebut terlihat saat Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka mengapresiasi kegiatan pengumpulan minyak jelantah oleh bank sampah binaan Pertamina Patra Niaga dalam kunjungannya ke Kilang Cilacap, Senin (26/10/2026).

Ia menilai keterlibatan ibu-ibu dan komunitas setempat menunjukkan bahwa kepedulian lingkungan dari lingkup rumah tangga dapat terhubung dengan inovasi energi nasional.

“Saya mengapresiasi peran ibu-ibu dan komunitas di Cilacap yang telah berkontribusi dalam pengelolaan minyak jelantah. Ini menunjukkan bahwa kegiatan sederhana yang dimulai dari rumah bisa terhubung dengan inovasi energi nasional dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tuturnya.

Apresiasi itu sekaligus menyoroti peran masyarakat sebagai bagian penting dalam pengelolaan limbah. Sebab, sebelum minyak jelantah dapat dimanfaatkan lebih lanjut, ada proses yang harus dimulai dari sumbernya: rumah tangga yang bersedia mengumpulkan, kelompok yang mengorganisasi, dan mitra yang menyalurkan.

VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan pengalaman ketiga bank sampah tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan minyak jelantah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

“Pengelolaan minyak jelantah membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, pendampingan yang berkelanjutan, serta terbukanya akses penyaluran hasil pengumpulan. Melalui kolaborasi tersebut, limbah rumah tangga dapat dikelola secara lebih bertanggung jawab dan memiliki nilai guna yang lebih besar,” ujarnya.

Perubahan Besar Berawal dari Kebiasaan Kecil

Perjalanan Cahaya Asri, Abhipraya, dan Beo Asri menunjukkan bahwa perubahan lingkungan dapat berawal dari kebiasaan yang kerap luput dari perhatian. Minyak bekas memasak yang dahulu dibuang begitu saja kini dikumpulkan melalui kegiatan bersama, memberi manfaat ekonomi, dan membuka peluang pemanfaatan lebih lanjut.

Di balik setiap wadah minyak jelantah yang terkumpul, ada warga yang mulai mengubah kebiasaan. Ada penggerak bank sampah yang merawat partisipasi masyarakat. Ada pula upaya membangun sistem agar limbah rumah tangga tidak berakhir sebagai pencemar.

Dari dapur-dapur warga Cilacap, langkah menuju lingkungan yang lebih bersih dan ekonomi yang lebih berkelanjutan terus dirajut. Bukan melalui perubahan besar dalam semalam, melainkan lewat kesediaan mengumpulkan sesuatu yang dahulu dianggap tak berguna.

Minyak jelantah mungkin telah kehilangan fungsinya untuk menggoreng. Namun, ketika dikelola dengan tepat, sisa minyak itu masih menyimpan peluang untuk memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.