Indonesia Berpeluang Jadi Raja Panas Bumi Dunia, Kamojang Jadi Contoh
METROJATENG.COM, BANDUNG – Indonesia memiliki peluang besar menjadi negara dengan kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) terbesar di dunia. Potensi yang mencapai 23.202,77 megawatt (MW) menjadi modal kuat untuk menggeser Amerika Serikat dari posisi teratas, asalkan pengembangannya dilakukan secara konsisten dan melibatkan berbagai pihak.
Staf Khusus Wakil Presiden RI Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pembangunan Sosial, Tina Talisa, menilai peluang tersebut sangat realistis. Saat ini, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dengan kapasitas terpasang panas bumi sekitar 2,77 gigawatt (GW).
“Jadi nomor satu di dunia itu menurut pemerintah sangat masuk akal sebetulnya untuk dicapai, tapi memang catatannya adalah kita mesti bareng-bareng,” ujar Tina saat mengunjungi Area Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).
Kunjungan tersebut tidak hanya untuk melihat operasional pembangkit panas bumi yang dikelola PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), tetapi juga meninjau pemanfaatan energi bersih untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi panas bumi Indonesia mencapai 23.202,77 MW. Namun, kapasitas yang telah terpasang baru 2.776,39 MW atau sekitar 11,6 persen dari total potensi tersebut.
Artinya, sebagian besar sumber daya panas bumi nasional masih menyimpan peluang untuk dikembangkan. Menurut Tina, posisi Indonesia di kawasan cincin api atau Ring of Fire memberikan keunggulan geologis yang dapat menjadi fondasi pengembangan energi bersih di masa depan.
“Posisi nomor dua di dunia, tapi memang masih ada ruang pengembangan sangat besar, karena kita belum sampai 12 persen, baru 11,6 persen dari total potensi,” katanya.
Meski demikian, potensi besar tersebut perlu diimbangi kolaborasi pemerintah, industri, dan para pemangku kepentingan agar pengembangan panas bumi dapat berjalan optimal.
Panas Bumi Tak Sekadar Menghasilkan Listrik
Di Kamojang, Tina melihat bagaimana pemanfaatan panas bumi tidak berhenti pada produksi listrik. Energi tersebut juga membuka peluang ekonomi baru melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan PGE.
Sejumlah program yang dikunjungi antara lain kelompok produsen pupuk GeO-Fert, Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekarsari, serta pelaku usaha kopi yang terlibat dalam program KANYAAH (Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal for Harmony).
Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah Geothermal Dry House, fasilitas pengeringan biji kopi yang memanfaatkan panas bumi. Teknologi ini mampu memangkas waktu pengeringan dari sebelumnya 30–45 hari menjadi hanya 3–10 hari.
Percepatan proses tersebut membantu petani mengolah hasil panen dengan lebih efisien. Program ini telah mendukung 320 keluarga petani kopi di sekitar Kamojang, dengan produk yang berhasil menembus pasar Asia dan Eropa.
Bagi Tina, praktik tersebut menunjukkan bahwa pengembangan energi bersih dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat. Manfaat panas bumi tidak hanya dirasakan melalui pasokan listrik, tetapi juga melalui peningkatan nilai tambah hasil pertanian dan terbukanya akses pasar.
“Kamojang ini menjadi benchmark untuk melihat bukan hanya soal energinya, tetapi juga keterhubungannya dengan aspek sosial dan lingkungan. Keberlanjutan itu betul-betul ada di sini dan perlu dijaga bersama, terutama melalui kolaborasi dan komunikasi yang intensif dengan masyarakat serta pemerintah daerah. Dan sekali lagi, ini bukti nyata,” ujarnya.
Produksi Listrik Capai Level Tertinggi dalam Tiga Tahun
Selain meninjau program pemberdayaan, Tina juga melihat upaya pelestarian lingkungan melalui Pusat Konservasi Elang Kamojang dan mengunjungi kawasan Kawah Kamojang. Di kawasan tersebut terdapat sumur panas bumi KMJ-3, yang menjadi bagian dari sejarah eksplorasi panas bumi Indonesia sejak 1926.
Sementara itu, Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, mengatakan Kamojang terus menunjukkan kinerja operasional yang baik. Produksi listriknya bahkan mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Menurut Andi, pencapaian tersebut didukung pengelolaan reservoir, pemeliharaan aset, inovasi teknologi, serta penerapan standar keselamatan secara konsisten.
“Kamojang terus menunjukkan kinerja operasional yang sangat baik, dengan produksi listrik yang mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Capaian ini menjadi bukti komitmen kami menjaga keandalan pembangkit,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan pengelolaan panas bumi tidak cukup diukur dari besarnya produksi listrik. Kehadiran perusahaan juga harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang hidup di sekitar wilayah operasional.
“Lebih dari itu, kami ingin memastikan kehadiran operasi panas bumi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitarnya,” kata Andi.
Pengalaman Kamojang memperlihatkan bahwa pengembangan panas bumi memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar menyediakan energi bersih. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, sumber daya ini dapat memperkuat ketahanan energi nasional, mendorong ekonomi masyarakat, sekaligus menjaga lingkungan.
Bagi Indonesia, potensi panas bumi yang belum tergarap menjadi peluang besar untuk memperkuat posisi di tingkat global. Namun, untuk mencapai peringkat pertama dunia, tantangannya bukan hanya mengembangkan pembangkit, melainkan juga memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan.(*)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.