METROJATENG.COM, JAKARTA – Di balik listrik yang menerangi rumah, menggerakkan mesin industri, dan menopang aktivitas masyarakat, ada energi yang tersimpan jauh di bawah permukaan bumi. Panas dari perut bumi itu diolah menjadi listrik melalui pembangkit panas bumi, sumber energi yang terus diandalkan dalam perjalanan Indonesia menuju masa depan yang lebih bersih.
Bagi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), menjaga energi tersebut tetap mengalir bukan sekadar urusan menghasilkan listrik. Keandalan pembangkit, kesiapan pasokan uap, dan ketepatan pemeliharaan menjadi bagian penting untuk memastikan panas bumi dapat memberi manfaat secara berkelanjutan.
Kerja panjang itu membuahkan hasil. Sepanjang Januari hingga September 2026, produksi listrik dari wilayah kerja yang dioperasikan sendiri oleh PGE mencapai 4.114 gigawatt hour (GWh). Angka tersebut menjadi rekor tertinggi produksi perusahaan untuk periode sembilan bulan sekaligus melampaui target 3.801 GWh.
Realisasi produksi mencapai 108,22% dari target. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika produksi tercatat 3.747 GWh, capaian tersebut meningkat sekitar 9,8%.
Angka-angka itu menggambarkan lebih dari sekadar pertumbuhan produksi. Di baliknya, terdapat upaya menjaga pembangkit tetap siap beroperasi, mengoptimalkan potensi reservoir, serta memastikan pasokan uap sebagai penggerak turbin tetap terjaga.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan, rekor produksi tersebut menjadi pijakan bagi perusahaan untuk melanjutkan pertumbuhan bisnis secara disiplin, dengan tetap mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik, transparansi, dan kepatuhan terhadap regulasi.
“Rekor produksi ini menjadi pijakan yang kuat bagi kami. Kami optimistis dapat terus tumbuh secara disiplin, sehingga keunggulan operasional PGE memberi manfaat bagi pemegang saham, masyarakat, dan ketahanan energi Indonesia,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Menjaga Keandalan di Lapangan
Menghasilkan listrik dari panas bumi membutuhkan pengelolaan yang cermat. Selain mengandalkan sumber daya alam, operasional pembangkit harus ditopang kesiapan peralatan, pengelolaan reservoir, serta pemeliharaan yang terencana agar produksi dapat berlangsung secara konsisten.
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho menyebut capaian produksi tertinggi tersebut merupakan hasil dari disiplin operasi dan pemeliharaan pembangkit, optimalisasi produksi, serta kesiapan pasokan uap di berbagai wilayah kerja.
Hasilnya terlihat dari indikator keandalan pembangkit hingga September 2026. Equivalent Availability Factor (EAF) kumulatif mencapai 98,51%, melampaui rencana sebesar 92,20%. Sementara itu, Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) hanya 0,21%, jauh di bawah batas rencana 1,48%.
Kedua indikator tersebut menunjukkan bahwa kesiapan pembangkit terjaga dan gangguan operasi yang memaksa unit berhenti relatif rendah.
“Capaian ini merupakan wujud nyata komitmen kami menjaga keandalan listrik panas bumi. Hasil ini buah dari disiplin mengelola reservoir, kesiapan pembangkit, dan eksekusi pemeliharaan yang semakin efisien,” kata Andi.
Dari lima area operasi, Kamojang menjadi penyumbang produksi terbesar. Wilayah kerja ini menghasilkan 1.438 GWh atau 118,77% dari target, dengan kontribusi sekitar 35% terhadap total produksi.
Lumut Balai mencatat produksi 702 GWh atau 115,84% dari target. Adapun Lahendong menghasilkan 658 GWh atau 106,44% dari target. Kinerja kedua wilayah tersebut didukung kesiapan pasokan uap, pembangkit yang terjaga, serta penyerapan listrik yang tinggi.

Capaian di berbagai wilayah kerja itu memperlihatkan bagaimana optimalisasi aset yang telah beroperasi menjadi salah satu penopang penting pertumbuhan produksi PGE.
Di tengah peningkatan produksi, PGE juga berupaya menjaga kekuatan finansial agar pengembangan energi panas bumi dapat berlanjut. Operasional yang solid menjadi salah satu fondasi bagi perusahaan untuk memperluas kapasitas sekaligus menjaga daya saing investasi.
Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabarat menyampaikan, pada semester I-2026 perusahaan membukukan pendapatan sebesar US$79,61 juta, meningkat 15,48%.
Untuk mendukung proyek-proyek berikutnya, PGE juga berupaya memperluas akses pembiayaan dengan biaya yang kompetitif. Sejumlah proyek strategis perusahaan telah masuk dalam Green Book Bappenas 2026, sehingga membuka peluang memperoleh pendanaan konsesional dari lembaga pembiayaan internasional.
Pendanaan dengan biaya modal lebih rendah diharapkan dapat meningkatkan keekonomian proyek dan memperkuat daya saing investasi panas bumi.
Bagi PGE, pengembangan usaha tidak hanya berkaitan dengan penambahan kapasitas. Perusahaan juga perlu menjaga keseimbangan struktur permodalan, antara ekuitas dan utang, serta mempertahankan profil kredit yang kuat.
Membuka Jalan bagi Energi Bersih
Setelah mencatat rekor produksi selama sembilan bulan pertama, PGE kini menghadapi tantangan berikutnya: menjaga momentum hingga akhir tahun sekaligus menyiapkan kapasitas baru.
Perusahaan menargetkan produksi listrik tahunan sekitar 5.255 GWh pada 2026. Untuk mencapainya, fokus pada kuartal IV diarahkan pada pemeliharaan keandalan pembangkit dan optimalisasi aset yang telah beroperasi.
Pada saat bersamaan, sejumlah proyek ekspansi terus dikembangkan, di antaranya Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8.
PGE membidik kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034.
Saat ini, perusahaan mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang 1.932 megawatt (MW). Sebanyak 727 MW dioperasikan dan dikelola langsung oleh PGE, sedangkan 1.205 MW lainnya dikelola melalui skema Kontrak Operasi Bersama.
Kapasitas di wilayah kerja tersebut berkontribusi sekitar 70% terhadap total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia. Pengembangan sumber energi ini juga memiliki potensi mengurangi emisi karbon dioksida sekitar 10 juta ton per tahun.
Rekor produksi 4.114 GWh menjadi penanda bahwa panas bumi memiliki peran penting dalam menopang pasokan listrik nasional. Namun, menjaga capaian itu tetap berkelanjutan membutuhkan konsistensi dalam mengelola sumber daya, merawat pembangkit, dan memastikan proyek-proyek baru dapat berkembang.
Di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat dan tuntutan pengurangan emisi, pekerjaan PGE tidak berhenti pada pencapaian angka produksi. Tantangan berikutnya adalah memastikan potensi panas dari perut bumi dapat terus diubah menjadi listrik yang andal, sekaligus memperbesar kontribusi energi bersih bagi Indonesia. (*)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.