Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Saat Cobaan Datang Bergantian, JKN Menjadi Sandaran Keluarga Arif

METROJATENG.COM, SEMARANG — Wajan besar itu tak pernah benar-benar berhenti mengepul. Potongan ayam yang baru diangkat dari minyak panas langsung berpindah ke cobek berisi sambal yang baru diulek. Di sebuah sudut Lapangan Bung Karno, Ungaran, Arif Sampurno dengan cekatan membungkus pesanan demi pesanan nasi geprek sambil sesekali menyapa pelanggan yang sudah akrab dengan senyumnya.

Tak banyak yang tahu, di balik kesibukan sederhana itu, Arif baru saja melewati salah satu fase terberat dalam hidupnya.

Dalam waktu kurang dari enam bulan, dua orang yang paling berarti baginya harus keluar masuk rumah sakit. Sang istri menjalani operasi pengangkatan kista, sementara putri keduanya didiagnosis menderita batu empedu. Dua ujian kesehatan datang nyaris tanpa jeda, menguji bukan hanya ketahanan ekonomi keluarga, tetapi juga kekuatan hati seorang ayah.

“Kalau tidak ada BPJS Kesehatan, saya benar-benar tidak tahu harus mencari biaya dari mana. Apalagi istri dan anak saya sakitnya hampir bersamaan,” tutur Arif lirih.

Setelah pensiun dari BPR Restu Arta, Arif tak lagi memiliki penghasilan tetap. Bersama istrinya, ia membuka usaha nasi geprek sederhana. Ketika dagangan sepi, ia melanjutkan hari dengan menerima pesanan sebagai pengemudi ojek online. Dari pekerjaan itulah kebutuhan keluarga dipenuhi sedikit demi sedikit.

Cobaan pertama datang pada April 2026. Wiwik Kus Sutristiyani, sang istri, mengeluhkan nyeri di bagian perut. Awalnya mereka mengira hanya sakit biasa. Namun rasa nyeri terus berulang hingga akhirnya Arif membawa istrinya ke Instalasi Gawat Darurat RS Panti Wilasa Citarum Semarang.

Pemeriksaan demi pemeriksaan dilakukan. Setelah menjalani USG atas anjuran dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Roby Surya Putra, Sp.OG, keluarga itu menerima kabar yang membuat mereka terdiam. Di rahim Wiwik ditemukan kista berukuran sekitar 10 sentimeter.

“Saya benar-benar kaget. Tidak pernah menyangka ternyata sebesar itu,” kenang Arif.

Dokter menyarankan operasi harus segera dilakukan. Namun, yang paling membebani pikiran keluarga itu bukanlah tindakan operasinya, melainkan biaya yang mereka bayangkan harus disiapkan.

Wiwik bahkan sempat menolak menjalani operasi. Ia khawatir pengobatannya justru menjadi beban bagi keluarga yang kini hanya mengandalkan usaha kecil.

Melihat keraguan itu, Arif meminta kakaknya ikut memberikan pengertian. Bersamaan dengan itu, dokter menjelaskan bahwa seluruh tindakan operasi dijamin oleh Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan.

“Mendengar biaya operasi ditanggung BPJS Kesehatan, istri saya akhirnya mau menjalani operasi,” katanya.

Operasi dilakukan menjelang Hari Raya Idulfitri. Saat banyak keluarga sibuk menyiapkan perayaan, Arif menghabiskan waktunya di depan ruang operasi. Di balik pintu itu, doa menjadi satu-satunya yang bisa ia panjatkan.

Syukurlah, operasi berjalan lancar. Wiwik berangsur pulih dan kembali ke rumah. Namun, kebahagiaan itu belum sempat benar-benar dinikmati.

Belum sebulan berselang, putri kedua mereka, Risqita Dwi Anggi, mulai mengeluhkan nyeri perut yang datang berulang. Beberapa kali berobat, tetapi rasa sakit tak juga hilang.

Hingga suatu sore pada pertengahan Juni 2026, Risqita mendadak meringis kesakitan saat bercanda bersama kakaknya. Arif kembali menyalakan sepeda motornya menuju RS Panti Wilasa Citarum.

Hasil pemeriksaan menunjukkan Risqita menderita batu empedu. Ia harus menjalani rawat inap. Operasi belum dapat dilakukan karena masih terdapat peradangan sehingga dokter memutuskan memberikan pengobatan terlebih dahulu sembari memantau kondisinya.

“Yang penting sekarang anak saya sembuh dulu. Kami rutin kontrol dan USG setiap bulan,” ujar Arif.

Dua anggota keluarga yang sakit dalam waktu berdekatan membuat Arif semakin menyadari arti penting perlindungan kesehatan.

Sebagai pensiunan yang kini menggantungkan hidup dari usaha kecil, ia tak sanggup membayangkan apabila seluruh biaya rawat inap, operasi, pemeriksaan laboratorium, hingga pengobatan lanjutan harus dibayar sendiri.

“Saya benar-benar bersyukur menjadi peserta BPJS Kesehatan. Saya bisa fokus mendampingi istri dan anak sampai sembuh tanpa terus memikirkan biaya rumah sakit.”

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Semarang, dr. Sari Quratul Ainy, MM., AAK., mengatakan kisah keluarga Arif menjadi pengingat bahwa risiko kesehatan dapat datang kapan saja tanpa bisa diprediksi.

Menurutnya, Program JKN hadir agar masyarakat memperoleh kepastian akses pelayanan kesehatan tanpa harus dihantui kekhawatiran biaya.

“Peserta dapat fokus menjalani pengobatan. Apabila mengalami kendala selama mendapatkan pelayanan, mereka dapat menghubungi Petugas PIPP maupun BPJS SATU yang tersedia di rumah sakit mitra,” ujarnya.

Komitmen pelayanan yang setara juga ditegaskan Humas RS Panti Wilasa Citarum Semarang, Suko Dwi Nugroho. Menurutnya, rumah sakit tidak pernah membedakan pelayanan bagi pasien peserta JKN maupun pasien umum.

“Prinsip kami tidak membeda-bedakan pasien. Selama memenuhi ketentuan pelayanan dan indikasi medis, seluruh pasien memperoleh pelayanan yang sama. Keselamatan dan kenyamanan pasien selalu menjadi prioritas kami,” katanya.

Kini, kehidupan Arif mulai kembali berjalan normal. Setiap pagi ia kembali menyiapkan ayam goreng, mengulek sambal, dan melayani pelanggan seperti biasa.

Namun ada satu hal yang berubah.

Baginya, kartu JKN bukan lagi sekadar kartu yang disimpan di dalam dompet. Kartu itu menjadi pengingat bahwa ketika musibah datang tanpa permisi, keluarganya tidak harus berjuang sendirian.

“Ketika masih sehat kita sering merasa tidak membutuhkan BPJS Kesehatan. Tapi saat sakit datang, baru terasa betapa pentingnya memiliki jaminan kesehatan,” ucapnya.

Karena itulah Arif mengajak seluruh peserta JKN untuk disiplin membayar iuran sebagai wujud semangat gotong royong, agar setiap orang tetap memiliki kesempatan memperoleh pelayanan kesehatan saat membutuhkannya.

Di balik setiap bungkus nasi geprek yang disiapkannya setiap hari, tersimpan kisah tentang seorang ayah yang berusaha tetap tegar ketika ujian datang berturut-turut. Dan di balik kisah itu, terselip keyakinan sederhana: harapan selalu memiliki tempat selama masih ada kesempatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa dibatasi kemampuan membayar. (*)

Comments are closed.