Di Balik Jutaan Paket JNE, Ada Rindu Seorang Ayah dari Semarang ke Ujung Timur Indonesia
JNE Jadi Penghubung Kasih Keluarga di Perantauan
METROJATENG.COM, SEMARANG – Bagi sebagian orang, layanan pengiriman hanya soal mengantarkan barang dari satu titik ke titik lain. Namun bagi Sukaryono, warga Perum Bukit Kencana Jaya Semarang, layanan logistik memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Selama hampir satu dekade, JNE menjadi jasa pengiriman yang menjadi penghubung antara dirinya dan anak-anak yang merantau hingga ke berbagai penjuru Indonesia. Dipilihnya JNE sebagai layanan, karena ia percaya JNE tidak hanya mengirim paket tepat waktu, barang yang dikirim aman tiba ditujuan.
Kisah itu bermula pada 2016 ketika putranya Arya Wahyu Nugroho, berangkat ke Jakarta untuk menempuh pendidikan tinggi. Sejak saat itu, Sukaryono rutin mengirim berbagai kebutuhan dari rumah di Semarang. Mulai dari dokumen penting, buku kuliah, makanan rumahan, seperti ayam dan bebek ungkep yang sudah divakum, bandeng presto, lunpia hingga hasil kebun yang dipanen sendiri.
“Saya ingin anak-anak tetap merasakan perhatian dari rumah. Kalau tidak bisa bertemu, setidaknya ada kiriman yang bisa mereka terima,” kata Sukaryono.
Namun perjalanan mengirim perhatian itu tidak selalu berjalan mulus. Sukaryono mengaku pernah mengalami pengalaman buruk saat menggunakan jasa pengiriman lain.
Saat itu, ia mengirim mangga hasil panen dari kebunnya. Paket dijanjikan tiba dalam waktu dua hari. Namun kenyataannya, kiriman tersebut baru sampai hampir dua minggu kemudian.
“Untung saya kirim mangganya masih mengkal. Coba kalau sudah matang, tentu busuk semua,” kenang Sukaryono.
Keterlambatan tersebut bukan hanya membuatnya khawatir terhadap kondisi barang. Ia juga harus berulang kali menghubungi pihak pengiriman untuk memastikan keberadaan paket yang dikirim, karena barang tidak juga sampai.
“Saya sampai harus terus menanyakan paket sudah sampai atau belum. Padahal yang dikirim makanan dan buah yang tidak bisa terlalu lama di perjalanan,” ujarnya.
Pengalaman itulah yang akhirnya membuat Sukaryono memutuskan beralih menggunakan JNE.
Menurut dia, ketepatan waktu menjadi faktor utama yang membuatnya tetap setia menggunakan layanan tersebut hingga sekarang.
Tiba Tepat Waktu
“Bagi saya yang penting barang sampai sesuai waktu. Kalau makanan atau buah terlambat, kualitasnya pasti menurun. Sejak menggunakan JNE, saya merasa lebih tenang,” katanya.
Tidak hanya mengirim makanan dan hasil kebun, Sukaryono juga mempercayakan pengiriman dokumen penting kepada JNE. STNK, pelat nomor kendaraan hingga BPKB beberapa kali dikirim kepada anak-anaknya yang berada di luar Jawa. Bahkan JNE juga memberikan jaminan asuransi.
Menurutnya, adanya perlindungan asuransi menjadi salah satu alasan yang membuat dirinya merasa aman. Adanya asuransi terhadap pengiriman barang tentunya membuat pelanggan semakin nyaman.
“Bukan hanya makanan. Dokumen penting juga saya kirim lewat JNE karena ada perlindungan asuransi. Jadi lebih tenang,” ujarnya.
Kini kedua putranya telah menyelesaikan pendidikan dan bekerja jauh dari kampung halaman. Arya Wahyu Nugroho bertugas di Tarakan, Kalimantan Utara, sementara putra bungsunya, Ardian Fajri Saputra, bertugas di Kepulauan Aru, Maluku.
Meski jarak semakin jauh, kebiasaan mengirim paket tidak pernah berhenti. Bahkan setiap hari raya Idul Fitri Sukaryono masih mengirim berbagai makanan khas Semarang seperti wingko babat, lumpia, telur asin, serta aneka masakan rumahan yang dibuat sang istri, ke ibu kos kedua putranya maupun sanak saudara lainnya di Jakarta.
Meski kedua putranya telah merantau jauh di luar pulau Jawa, sampai saat ini ia masih mengirim paket baik untuk putranya maupun untuk ibu kos kedua putranya di Jakarta. Pengiriman ini dilakukan sebagai bentuk terima kasih kepada ibu kos yang telah ikut menjaga kedua putranya selama menjalani pendidikan di Jakarta.
“Kalau mereka menerima makanan dari rumah, rasanya kami ikut hadir di sana,” katanya.
Meski dipisahkan lautan dan ribuan kilometer, tradisi mengirim paket tidak pernah berhenti. Bahkan setelah masa kuliah berakhir dan anak-anaknya mulai bekerja, Sukaryono tetap rutin mengirimkan berbagai kebutuhan dari Semarang.
“Ada satu hal yang selalu membuatnya bahagia, yakni ketika anak-anaknya mengabarkan bahwa kiriman makanan telah tiba,” terangnya.
Menariknya, kepercayaan Sukaryono terhadap JNE tidak hanya dibangun oleh kecepatan pengiriman, tetapi juga transparansi layanan.
Ia mencontohkan saat pernah berencana mengirim telur asin ke Kepulauan Aru. Saat itu petugas JNE di jln Kyai Saleh Semarang, justru menyarankan agar pengiriman tidak dilakukan karena waktu tempuh yang panjang berpotensi membuat produk rusak sebelum tiba di tujuan.
“Bagi saya itu bentuk tanggung jawab. Mereka tidak hanya menerima barang, tetapi juga memikirkan kondisi barang ketika sampai,” ujar Sukaryono.
Kini, lebih dari satu dekade sejak pertama kali mengirim paket untuk anaknya yang kuliah di Jakarta, kebiasaan itu masih terus berlangsung, hingga kedua putranya harus berkerja hingga ujung Indonesia. Kardus-kardus yang berangkat dari Semarang bukan hanya berisi makanan, buah-buahan, atau dokumen penting.
Di dalamnya tersimpan doa yang tak pernah putus, perhatian yang tak pernah berkurang, dan kerinduan seorang ayah yang ingin selalu hadir dalam kehidupan anak-anaknya.
Sebab bagi Sukaryono, jarak mungkin memisahkan keluarga. Namun kasih sayang selalu menemukan jalannya untuk sampai ke tujuan.

Branch Manager JNE Semarang, Wahyu Sangerti, mengatakan kepercayaan pelanggan memang menjadi aset utama perusahaan. Menurutnya, setiap hari JNE tidak hanya mengirim barang, tetapi juga menghubungkan kebutuhan dan harapan masyarakat.
Di wilayah Semarang, JNE didukung sekitar 600 karyawan dan lebih dari 100 armada operasional. Sementara secara nasional, perusahaan menangani sekitar satu juta paket setiap hari.
“Layanan reguler masih menjadi layanan yang paling banyak digunakan masyarakat karena menawarkan keseimbangan antara kecepatan pengiriman dan biaya yang terjangkau,” kata Wahyu.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan pelanggan saat ini tidak hanya berasal dari individu, tetapi juga dari pelaku usaha yang terus berkembang.
Kontribusi terbesar pengiriman berasal dari segmen korporasi yang mencapai lebih dari 40 persen. Selebihnya berasal dari pelanggan ritel dan pelaku social commerce yang memanfaatkan platform digital untuk berjualan.
Untuk mendukung pertumbuhan UMKM, JNE menghadirkan layanan Fulfillment Service yang memungkinkan pelaku usaha memperoleh fasilitas pergudangan, pengelolaan stok, pengemasan hingga pengiriman dalam satu sistem terintegrasi.
“Layanan ini membantu pelaku usaha lebih fokus mengembangkan bisnisnya, sementara kebutuhan logistik kami yang menangani,” ujar Wahyu.
Di balik angka jutaan paket yang bergerak setiap hari, terdapat kisah-kisah sederhana yang jarang terlihat. Salah satunya adalah kisah Sukaryono.
Bagi pria itu, paket bukan sekadar barang yang berpindah tempat. Di dalam setiap kardus yang dikirim dari Semarang menuju Tarakan atau Kepulauan Aru, tersimpan doa, perhatian, dan kerinduan yang tidak pernah berkurang.
Sebab bagi seorang ayah, jarak mungkin memisahkan ruang dan waktu. Namun kasih sayang selalu menemukan jalannya untuk sampai ke tujuan. (*)
Comments are closed.