Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

DPR Soroti Kerusakan Hutan Usai Banjir Sumatera Tewaskan 303 Warga, Pemanggilan Kemenhut Dijadwalkan

METROJATENG.COM, SEMARANG – Gelombang banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah provinsi di Sumatera tidak hanya menyisakan duka mendalam dengan ratusan korban jiwa, tetapi juga memunculkan kembali peringatan keras soal kondisi hutan di Indonesia. Parlemen kini turun tangan, mencium adanya kejanggalan di balik bencana yang disebut sebagai salah satu yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.

Komisi IV DPR RI telah menetapkan agenda pemanggilan terhadap Kementerian Kehutanan pada Kamis mendatang. Tujuannya: menggali jawaban mengenai dugaan maraknya praktik pembalakan liar yang diduga memicu parahnya kerusakan dan besarnya jumlah korban.

Pemanggilan ini dilakukan setelah beredar luas video banjir yang membawa kayu gelondongan dalam jumlah besar—sebuah tanda yang dinilai tidak mungkin terjadi tanpa kerusakan hutan di hulu.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari, menegaskan bahwa fenomena ini tidak bisa dilihat sebagai hujan ekstrem semata. Ia menilai bahwa material kayu besar dan lumpur pekat yang terbawa banjir menjadi petunjuk kuat adanya kerusakan hutan massif yang selama ini luput dari pengawasan.

“Kami akan memanggil Kementerian Kehutanan untuk meminta penjelasan menyeluruh. Illegal logging harus dihentikan. Jika hutan kita terjaga, tidak mungkin banjir membawa kayu gelondongan sebesar itu,” ujar Abdul Kharis.

Ia juga mendesak adanya penyelidikan terpadu bersama pihak kepolisian untuk mengungkap akar persoalan ini secara transparan. Menurutnya, dengan korban jiwa mencapai ratusan, pemerintah tidak boleh lagi bersikap reaktif, tetapi harus tegas memberantas pelanggaran lingkungan.

Abdul Kharis menyebut Presiden Prabowo Subianto memiliki peran strategis dalam menekan praktik perusakan hutan yang terus berulang. Ia berharap ketegasan pemerintah pusat dapat menutup ruang bagi para pelaku kejahatan lingkungan.

“Kerugian yang ditimbulkan bukan hanya materi, tetapi juga nyawa. Ini saatnya penanganan serius,” tegasnya.

Deforestasi Diduga Jadi Faktor Utama

Spekulasi publik mengenai kerusakan hutan menguat setelah berbagai rekaman amatir menunjukkan batang-batang kayu dalam jumlah besar terbawa arus banjir. Banyak kalangan menyebut kondisi tersebut sebagai cerminan nyata maraknya pembalakan ilegal di kawasan hulu yang bertahun-tahun tidak tersentuh penindakan tegas.

Sementara itu, dampak kemanusiaan dari bencana ini terus bertambah. Data BNPB tercatat sebanyak 303 korban meninggal dunia dan 279 orang masih hilang. Provinsi Sumatera Utara menjadi wilayah dengan jumlah korban tertinggi, yakni 166 orang meninggal. Wilayah yang paling terdampak meliputi Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga. Di Provinsi Aceh, 47 warga dilaporkan meninggal dunia, terutama dari Bener Meriah, Aceh Tenggara, dan Aceh Tengah. Pencarian korban hilang masih terus dilakukan.

Comments are closed.