Hipertensi, Pembunuh Senyap yang Kian Mengintai: Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegahnya
METROJATENG.COM, SEMARANG – Meski sering kali tidak menimbulkan gejala, hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, satu dari tiga orang dewasa mengalami tekanan darah tinggi, dan banyak di antaranya tidak menyadari kondisinya hingga muncul komplikasi serius seperti gagal jantung, stroke, atau gangguan ginjal.
Hipertensi terjadi ketika tekanan darah seseorang mencapai 130/80 mmHg atau lebih. Kondisi ini membuat jantung bekerja lebih keras memompa darah, yang dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan organ vital lainnya.
Tekanan darah biasanya dinyatakan dalam dua angka: tekanan sistolik (angka atas) dan tekanan diastolik (angka bawah).
-
Sistolik (120 mmHg) menunjukkan tekanan saat jantung memompa darah keluar.
-
Diastolik (80 mmHg) menggambarkan tekanan ketika jantung beristirahat dan mengisi darah kembali.
Nilai normal untuk orang dewasa adalah 120/80 mmHg. Jika tekanan ini terus meningkat tanpa kendali, risiko penyakit kardiovaskular akan semakin tinggi.
Secara medis, hipertensi dibagi menjadi dua jenis:
-
Hipertensi primer, yang penyebab pastinya belum diketahui dan berkembang perlahan selama bertahun-tahun.
-
Hipertensi sekunder, yang muncul akibat kondisi tertentu, seperti penyakit ginjal, gangguan tiroid, kelainan pembuluh darah, penggunaan obat tertentu, hingga kecanduan alkohol.
Menariknya, ada pula fenomena “white coat hypertension” , tekanan darah meningkat karena rasa cemas saat diperiksa tenaga medis, namun kembali normal ketika pasien berada di rumah.
Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena hipertensi, di antaranya:
-
Usia di atas 65 tahun
-
Obesitas atau jarang berolahraga
-
Riwayat keluarga dengan tekanan darah tinggi
-
Kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol
-
Pola makan tinggi garam
-
Gangguan tidur seperti sleep apnea
-
Kondisi medis lain seperti diabetes atau penyakit ginjal
Bahkan kehamilan pun dapat memicu hipertensi, yang dikenal dengan istilah preeklamsia.
Gejala yang Sering Tak Terasa
Disebut sebagai “silent killer”, hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala apa pun hingga mencapai tahap berbahaya. Namun pada kondisi ekstrem, ketika tekanan darah mencapai 180/120 mmHg atau lebih, penderita bisa mengalami:
-
Sakit kepala hebat
-
Mual dan muntah
-
Mimisan
-
Gangguan penglihatan
-
Nyeri dada
-
Detak jantung tidak teratur
Jika gejala ini muncul, kondisi tersebut termasuk krisis hipertensi dan harus segera mendapat penanganan medis.
Meski berbahaya, hipertensi bisa dicegah dan dikendalikan dengan perubahan gaya hidup. Dokter menyarankan masyarakat untuk:
-
Mengurangi konsumsi garam dan makanan olahan
-
Berhenti merokok dan membatasi alkohol
-
Rutin berolahraga minimal 30 menit per hari
-
Mengelola stres dengan baik
-
Melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala
Pemeriksaan rutin menjadi langkah penting karena banyak penderita tidak menyadari dirinya memiliki tekanan darah tinggi.
Comments are closed.