Percepat Swasembada Beras, Pemerintah Optimistis Tak Impor Lagi dalam Tiga Bulan ke Depan
METROJATENG.COM, JAKARTA – Pemerintah optimistis Indonesia akan mencapai swasembada beras lebih cepat dari target semula. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan, percepatan target ini merupakan hasil kerja kolektif antara pemerintah, petani, dan seluruh pihak yang terlibat dalam sektor pangan.
“Target awal Bapak Presiden kepada kami empat tahun. Setelah 21 hari menjadi tiga tahun, 45 hari kemudian menjadi satu tahun. Alhamdulillah, kalau tidak ada aral melintang, dua sampai tiga bulan ke depan Indonesia tidak impor lagi,” ujar Amran.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional tahun ini mencapai 33,1 juta ton dan diperkirakan menembus 34 juta ton hingga akhir 2025. Angka tersebut naik sekitar 4 juta ton dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan produksi ini menunjukkan keberhasilan berbagai program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, termasuk penyediaan pupuk, bantuan alat mesin pertanian, serta perluasan lahan produktif.
Peningkatan produksi juga berdampak langsung pada stabilitas harga. Pada September 2025, Indonesia mencatat deflasi beras sebesar 0,13 persen, pertama kalinya dalam lima tahun terakhir pada musim paceklik. Kondisi ini menandakan ketersediaan beras nasional mencukupi, bahkan surplus.
“Stok cadangan beras pemerintah saat ini mencapai 3,8 juta ton, dengan tambahan satu juta ton untuk operasi pasar. Ini artinya pangan kita aman dan harga di tingkat konsumen terkendali,” terang Amran.
Menurutnya, keberhasilan sektor pertanian juga berkat kerja keras jutaan petani di seluruh Indonesia yang terus meningkatkan produktivitas di tengah tantangan perubahan iklim.
Capaian Indonesia juga mendapat pengakuan internasional. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menempatkan Indonesia sebagai negara dengan peningkatan produksi pangan terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) sebagai indikator penting kesejahteraan petani, kini mencapai 124,36 poin, jauh melampaui target nasional sebesar 110 poin.
“NTP naik berarti petani makin sejahtera. Ini bukti bahwa hasil kerja keras mereka benar-benar berdampak,” jelas Amran.
Dorong Hilirisasi dan Ekonomi Desa
Selain mengejar swasembada, Kementerian Pertanian juga mendorong hilirisasi pertanian agar hasil panen diolah di dalam negeri. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah dan memperkuat ekonomi desa.
“Kita tidak boleh lagi mengekspor bahan mentah. Semua harus diolah di dalam negeri agar keuntungan bisa dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat,” tegasnya.
Dengan berbagai capaian tersebut, Amran yakin Indonesia sedang berada di jalur yang tepat menuju kemandirian pangan nasional. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat tani menjadi kunci keberhasilan program ini.
“Kalau semua terus bersinergi, insyaallah dalam tiga bulan ke depan kita benar-benar bisa berhenti impor beras. Itu bukan mimpi, tapi kerja nyata,” pungkasnya.
Comments are closed.