Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Wastam Dorong Sosialisasi Empat Pilar MPR di Banyumas untuk Perkuat Ketahanan Bangsa Jelang HUT ke-80 RI

METROJATENG.COM, BANYUMAS – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI menggelar sebuah inisiatif strategis di Desa Pandak, Baturraden, Banyumas. Kegiatan ini mengusung misi besar, yaitu memperkuat pemahaman masyarakat tentang Empat Pilar Kebangsaan, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Acara ini menjadi sorotan bukan hanya karena momentum menuju usia ke-80 tahun kemerdekaan, tetapi juga karena urgensi situasi yang dihadapi bangsa. Menurut MPR RI, Indonesia tengah menghadapi krisis nilai-nilai kebangsaan yang berpotensi menggerogoti persatuan dan kesatuan nasional.

Anggota MPR RI, H. Wastam SE. SH. MH, dalam sambutannya menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap menurunnya pemahaman ideologi di kalangan generasi muda. Ia merujuk pada data Lembaga Survei Indonesia (2024) yang menyebutkan hanya 38 persen pemuda yang hafal Pancasila secara lengkap, dan hanya 25 persen yang benar-benar memahami makna Bhinneka Tunggal Ika.

“Angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah alarm bagi bangsa di usia 80 tahun merdeka,” tegas Wastam. Ia mengingatkan bahwa lemahnya pemahaman dasar ideologi negara dapat menjadi celah yang mengancam ketahanan nasional.

Selain krisis pemahaman, Wastam juga menyoroti berbagai tantangan sosial yang kian mengkhawatirkan, mulai dari lonjakan kasus judi daring yang mencapai 300 persen, hingga maraknya konsumsi konten negatif di kalangan generasi Z. “Di usia emas kemerdekaan, kita justru diuji oleh krisis jati diri,” ungkapnya.

Caption Foto : Lebih dari 150 orang antusias mengikuti acara sosialisasi 4 pilar MPR RI. (Foto : Dok. Tim Wastam),

 

Empat Pilar Sebagai Solusi

Acara sosialisasi Empat Pilar MPR yang berlangsung Kamis, (31/7/2025) ini, dihadiri lebih dari 150 peserta, mulai dari pelajar, tokoh masyarakat, hingga organisasi kemasyarakatan dan  difokuskan pada upaya penerapan nilai-nilai Empat Pilar untuk menghadapi persoalan nyata di lapangan.

Salah satu fokus utama adalah pemberantasan judi daring. Pendekatan yang diambil berlandaskan Sila Kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, dengan mengedukasi masyarakat tentang bahaya eksploitasi manusia yang melekat pada praktik tersebut. Selain itu, Sila Kelima Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menjadi dasar dalam mendorong pemberdayaan ekonomi kreatif sebagai alternatif mata pencaharian yang produktif.

Program literasi digital “Ibu Melek Digital” juga diluncurkan untuk membekali perempuan dalam melindungi keluarga dari dampak negatif dunia maya. Inisiatif ini dilengkapi layanan rehabilitasi melalui Pusat Dukungan Komunitas, guna membantu korban judi daring dan paparan konten negatif pulih secara psikologis dan sosial.

Sesi dialog interaktif menjadi bagian paling hidup dari acara. Satrio, seorang pemuda, mempertanyakan strategi konkret Pancasila dalam memerangi judi daring. Ibu Dwi, seorang ibu rumah tangga, menyoroti peran perempuan dalam menjaga ketahanan keluarga di era digital. Sementara Hendrik, aktivis dari GRIB Jaya, mengangkat isu stereotip negatif terhadap organisasi kemasyarakatan.

Menanggapi hal itu, perwakilan MPR RI memaparkan langkah-langkah terukur. Pemerintah berkomitmen mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum sekolah, melanjutkan pemblokiran 1.200 situs judi daring oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta membangun 100 pusat pelatihan UMKM bagi pemuda.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) juga akan melatih 5.000 ibu sebagai Duta Digital Keluarga dan mendorong penggunaan teknologi parental control. Sementara itu, upaya mengubah citra ormas akan ditempuh melalui program kontribusi sosial nyata, termasuk program mentoring bagi mantan anak jalanan.

Rekomendasi Strategis untuk Indonesia Emas 2045

Sebagai hasil akhir, MPR RI merumuskan tiga rekomendasi strategis menjelang HUT ke-80 RI:

  1. Penyusunan Peta Jalan Pendidikan Kebangsaan 2025–2045.

  2. Pembentukan Desa Pancasila di 100 wilayah rawan konflik dan degradasi moral.

  3. Penciptaan Indeks Ketahanan Digital Keluarga untuk mengukur kesiapan menghadapi tantangan era digital.

Acara ditutup dengan seruan “Banyumas Berdaulat Digital” yang digaungkan bersama tokoh masyarakat setempat, sebagai simbol komitmen kolektif menjaga nilai-nilai kebangsaan.

“Empat Pilar bukan sekadar konsep di atas kertas, tetapi kompas yang akan membawa kita menuju Indonesia Emas 2045,” tandas Wastam. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya seremonial, melainkan langkah awal membangun masa depan bangsa yang tangguh, berdaulat, dan berkarakter.

Comments are closed.