Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Kemenag Godok Fasilitator untuk Sebarkan Kurikulum Berbasis Cinta

METROJATENG.COM, JAKARTA – Kementerian Agama mulai mempersiapkan langkah besar untuk mempercepat penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di dunia pendidikan. Puluhan calon fasilitator digembleng melalui Pra-Pelatihan Fasilitator atau Training of Facilitator (ToF) yang digelar di Peacesantren Welas Asih, Garut, Jawa Barat.

Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM (BMBPSDM) Kemenag, Ali Ramdhani, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi fondasi penting dalam menyatukan visi, merumuskan strategi komunikasi, dan memastikan pemahaman yang tepat tentang KBC.

“Ini adalah langkah awal untuk membentuk pelatih yang tidak hanya menguasai teori, tapi juga mampu menanamkan nilai-nilai cinta secara nyata di madrasah,” jelasnya.

Ali Ramdhani menyampaikan pesan filosofis tentang cinta sejati, yang menurutnya harus murni, tanpa pamrih, dan abadi, seperti kasih seorang ibu kepada anaknya yang lahir melalui lima air kehidupan,  ketuban, darah, air susu, keringat, dan air mata.

“Cinta inilah yang ingin kita hadirkan di ruang-ruang pendidikan. Cinta yang membentuk karakter, menguatkan jiwa, dan menumbuhkan empati,” tegasnya.

Kegiatan Pra-ToF ini terselenggara berkat kolaborasi Kemenag, Project INOVASI, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), serta Peacesantren Welas Asih. Tidak hanya membedah konsep cinta, pelatihan juga dirancang menyentuh dimensi psikologis, sosial, dan spiritual, dengan tujuan membangun budaya sekolah (school culture) yang humanis dan berlandaskan nilai kemanusiaan.

Kepala Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Pendidikan dan Keagamaan, Mastuki, menambahkan bahwa pelatihan harus realistis dan selaras dengan kehidupan nyata di madrasah maupun sekolah.

“KBC bukan mata pelajaran biasa, melainkan spirit yang hidup di lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Cinta harus menjadi budaya, bukan sekadar teori,” kata Mastuki.

Ia menegaskan, keberhasilan KBC membutuhkan kolaborasi lintas pihak, dari tokoh masyarakat hingga lembaga yang telah terbukti mengamalkan pendidikan karakter berbasis cinta. Pra-ToF ini menjadi gerbang menuju paradigma baru pendidikan Indonesia: pendidikan yang membumi, memanusiakan, dan menyembuhkan.

Comments are closed.