Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Dari Bengkel Kecil Sekolah, Pertamina Lubricants Menumbuhkan Mimpi Besar Siswa SMK Kendal

Berawal dari tak bisa mengganti oli, Arfaiasa dan Nabris kini belajar menjadi mekanik, melayani pelanggan, hingga bercita-cita memiliki bengkel sendiri. Melalui praktik, bimbingan guru, dan dukungan Pertamina Lubricants, keterampilan mereka tumbuh menjadi bekal menuju kemandirian.

METROJATENG.COM, KENDAL – Deru mesin sepeda motor terdengar bersahutan di bengkel Speed Karya, SMK Harapan Mulya Kendal. Di antara kendaraan yang menunggu diservis, sejumlah siswa sibuk memeriksa komponen, mengganti oli, dan mempelajari bagian-bagian mesin. Tangan mereka penuh pelumas, bergerak mengikuti arahan guru, sesekali berhenti untuk memastikan setiap pekerjaan dilakukan dengan benar.

Bagi Arfaiasa, siswa kelas X jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM), suasana itu kini menjadi bagian dari kesehariannya. Semula memang canggung, namun karena pelajaran praktik harus dilakukan,  ia pun mulai terbiasa memegang perkakas, mengenali komponen kendaraan, dan mencoba pekerjaan yang dahulu terasa sulit.

Mengganti oli saja pernah menjadi tantangan baginya. Apalagi membongkar mesin sepeda motor yang membutuhkan ketelitian dan pemahaman tentang cara kerja setiap komponen.

“Dulu sempat takut, karena belum bisa membongkar mesin. Sekarang, setelah banyak praktik, sudah terbiasa. Tidak hanya ganti oli dan bongkar mesin, saya juga belajar menawarkan oli yang pas untuk kendaraan  kepada konsumen ,” tutur Arfaiasa.

Kemampuannya berkembang melalui latihan yang berulang. Dari pekerjaan sederhana, ia belajar memahami mesin, menggunakan peralatan, dan menyelesaikan tugas dengan lebih percaya diri.

Bengkel sekolah bukan sekadar tempat mempraktikkan teori. Di sana, Arfaiasa mulai mengenal dunia kerja sekaligus melihat peluang ekonomi dari keterampilan yang sedang dipelajarinya.

“Dulu bongkar mesin takut, tidak bisa merangkai seperti asalnta. Namun berkat bimbingan guru, ia kini berani, dan siap mengerjakan pekerjaan mulai ganti oli, servis dan lainnya,” tuturnya percaya diri.

Pengalaman serupa dialami Nabris, siswa kelas XI jurusan TSM. Saat pertama masuk SMK Harapan Mulya Kendal, ia mengaku belum mampu mengganti oli. Kini, ia mulai terbiasa melakukan servis, mengganti kampas rem, memeriksa kondisi kendaraan, hingga membantu membongkar mesin.

“Dulu ganti oli saja belum bisa sama sekali. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa menerima pekerjaan servis, mengganti kampas rem, dan membantu membongkar mesin,” kata Nabris.

Keterampilan itu mulai ia praktikkan di luar sekolah. Ketika berada di rumah, Nabris terkadang membantu memperbaiki sepeda motor milik keluarga atau tetangga. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan menghadapi persoalan kendaraan yang beragam.

Ia belajar bahwa mekanik tidak boleh terburu-buru menentukan kerusakan. Setiap komponen harus diperiksa dengan cermat sebelum memutuskan apakah cukup diperbaiki atau perlu diganti. Penjelasan kepada pemilik kendaraan pun harus disampaikan secara jujur agar kepercayaan pelanggan tetap terjaga.

Dari pengalaman itu, Nabris mulai membayangkan masa depan yang ingin dibangunnya.

“Saya ingin punya usaha bengkel sendiri, membuka bengkel untuk masyarakat,” ujarnya.

Keinginan tersebut masih membutuhkan persiapan panjang. Ia harus terus meningkatkan keterampilan, menambah pengalaman, dan memahami cara mengelola usaha. Namun, cita-cita itu kini memiliki pijakan: pengalaman praktik dan kesempatan mengenal pekerjaan mekanik secara langsung.

“Kelak setelah lulus sekolah, saya ingin buka bengkel sendiri dan menjadi mekanik yang handal,” ungkapnya.

BONGKAR MESIN MOTOR – Dua siswa SMK harapan Mulya Kendal tengah membongkar mesin motor untuk diperbaiki di bengkel Speed Karya milik SMK Harapan Mulya Kendal. (tya/redmetrojateng)

 

Tempa keterampilan di bengkel sekolah

Perkembangan Arfaiasa dan Nabris tidak lepas dari pembelajaran praktik yang mereka jalani di bengkel Speed Karya, yang berada di lingkungan SMK Harapan Mulya Kendal, Jalan Soekarno-Hatta.

Di tempat ini, siswa tidak hanya belajar memperbaiki kendaraan. Mereka juga diperkenalkan pada proses pelayanan, pencatatan pekerjaan, dan tanggung jawab terhadap kendaraan milik pelanggan.

Kepala Program Keahlian TSM sekaligus pengelola bengkel, Agus Wuryanto menyampaikan sebelum melakukan servis, siswa berlatih mendengarkan keluhan pemilik kendaraan dan mencatat pekerjaan dalam surat perintah kerja. Setelah itu, mereka memeriksa kendaraan dan melakukan perbaikan dengan pengawasan guru.

Agus dalam pembelajaran praktik selalu  menekankan pentingnya praktik untuk meningkatkan keterampilan siswa agar lebih siap menghadapi kebutuhan industri.

“Melalui pengalaman langsung, siswa belajar menghubungkan teori dengan persoalan di lapangan. Mereka juga dibiasakan bekerja sesuai prosedur, menggunakan peralatan dengan tepat, dan bertanggung jawab atas hasil pekerjaannya,” tegasnya.

Proses tersebut membekali siswa dengan pemahaman bahwa pekerjaan mekanik membutuhkan lebih dari kemampuan teknis. Ketelitian dalam memeriksa kerusakan harus diikuti komunikasi yang baik, kejujuran dalam menjelaskan kondisi kendaraan, serta kedisiplinan menyelesaikan pekerjaan.

Bagi siswa yang ingin merintis usaha, pengalaman di bengkel juga menjadi pengenalan awal terhadap kebutuhan pelanggan dan proses pelayanan. Mereka dapat melihat bagaimana keterampilan yang dipelajari di sekolah diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Dorong  Wirausaha Muda

Kepala SMK Harapan Mulya Kendal, Rikha Imaniarti, mendorong pendidikan vokasi agar tidak hanya menyiapkan lulusan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga membangun keberanian berwirausaha.

Pembelajaran di bengkel menjadi salah satu cara memperkenalkan siswa pada peluang tersebut. Mereka dapat memahami, kemampuan memperbaiki kendaraan memiliki nilai ekonomi apabila dikembangkan bersama pelayanan yang baik dan pengelolaan usaha yang tepat.

Lulusan SMK memiliki beragam pilihan setelah menyelesaikan pendidikan, mulai dari bekerja di bengkel atau perusahaan otomotif hingga membuka usaha secara mandiri. Namun, merintis bengkel membutuhkan persiapan yang lebih luas daripada kemampuan memperbaiki mesin.

Calon pengusaha perlu mempertimbangkan peralatan, modal kerja, ketersediaan suku cadang dan pelumas, pengelolaan keuangan, serta cara membangun kepercayaan pelanggan.

Bengkel Speed Karya memberikan gambaran mengenai bagaimana pembelajaran keterampilan dapat berjalan beriringan dengan kegiatan usaha. Bengkel yang mulai beroperasi pada 2022 itu mencatat omzet sekitar Rp12 juta pada awal usahanya. Pada Januari hingga Agustus 2026, omzetnya meningkat  mencapai sekitar Rp102 juta.

“Omset bengkel terus meningkat, pelanggan juga bertambah, bahkan sudah mencapai 200 lebih.ini menunjukan kesungguhan siswa dalam belajar. Sikap para siswa yang belajar sungguh-sungguh, membuat konsumen puas dan menumbuhkan kepercayaan pada pelanggan untuk mempercayakan perwatan motornya di bengkel Speed Karya SMK Harapan Mulya,” terangnya

Perkembangan tersebut memperlihatkan potensi kegiatan usaha di lingkungan sekolah. Pada saat yang sama, keberadaan bengkel menyediakan ruang bagi siswa untuk mengenal pekerjaan servis dalam suasana yang mendekati dunia kerja.

Pengalaman semacam ini membantu siswa memahami hubungan antara kompetensi, kualitas pelayanan, dan keberlangsungan usaha. Bagi Arfaiasa dan Nabris, hal itu menjadi gambaran nyata mengenai keterampilan yang dapat terus dikembangkan setelah lulus.

Menurut Rikha banyak alumni yang sukses menjadi pengusaha bengkel diantaranya, Sumaidi , berhasil mengembangkan usaha bengkel mandiri dengan omset tertinggi hingga Rp30 juta per bulan. Kini ia menjadi mitra aktif Pertamina Enduro dengan prestasi penjualan mencapai  200 liter per bulan. 

Selain memberikan pengalaman praktik di bengkel, program EHS juga menghadirkan pengalaman belajar yang memperkenalkan siswa pada ekosistem otomotif secara lebih luas bagi SMK yang berprestasi, salah satunya melalui kesempatan mengikuti program Coaching Mekanik VR46 Academy di Pertamina Mandalika GP.

Peluang Pasar Pelumas

Cita-cita kedua siswa itu tumbuh di tengah kebutuhan perawatan sepeda motor yang besar di Indonesia. Kendaraan roda dua digunakan masyarakat untuk bekerja, bersekolah, berdagang, dan menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.

Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) dalam bahan yang dihimpun untuk naskah ini mencatat penjualan sepeda motor domestik mencapai sekitar 5,01 juta unit sepanjang Januari–September 2026.

Besarnya penggunaan kendaraan tersebut turut menciptakan kebutuhan terhadap perawatan berkala, termasuk penggantian oli, pemeriksaan rem, dan perbaikan mesin.

Sementara itu, laporan riset pasar Mordor Intelligence memperkirakan pasar pelumas Indonesia mencapai sekitar 1,20 miliar liter pada 2025, mencakup kebutuhan otomotif dan industri. Segmen pelumas otomotif diperkirakan mencapai sekitar 550,3 juta liter atau sekitar 45 persen

Angka tersebut merupakan estimasi riset pasar komersial, bukan data resmi pemerintah. Meski demikian, besarnya kebutuhan pelumas menunjukkan adanya peluang ekonomi bagi berbagai pelaku usaha, mulai dari distributor dan toko oli hingga bengkel serta mekanik mandiri.

Peluang itu tetap harus diimbangi kompetensi. Mekanik perlu memahami spesifikasi kendaraan dan memilih pelumas sesuai rekomendasi pabrikan. Pengetahuan produk, ketepatan servis, serta keterbukaan dalam menjelaskan pekerjaan menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan pelanggan.

Dengan bekal tersebut, lulusan SMK berpeluang mengembangkan keterampilan teknis menjadi sumber penghasilan, baik sebagai pekerja maupun pengusaha. Namun, keberhasilan usaha tetap bergantung pada kualitas pelayanan, kemampuan mengelola modal, dan konsistensi memenuhi kebutuhan pelanggan.

EDEKASI – Jajaran management PT Pertamina Lubricant tengah memberikan edukasi kepada siswa dan guru pembimbing praktik mekanik SMK Harapan Mulya tentang pelumas di aula SMK Harapan Mulya Kendal, Rabu (16/9/2026). (tya/redmetrojateng)

 

Pertamina Lubricants Buka Jalan

Melihat potensi bengkel Speed Jarya dalam menciptakan tenaga mekanik dan  mendekatkan siswa dengan kebutuhan dunia kerja dan usaha, PT Pertamina Lubricants mendukung pengembangan bengkel Speed Karya melalui program Enduro Home Service (EHS).

Program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan kegiatan usaha kepada siswa SMK.

Corporate Secretary PT Pertamina Lubricants, Rika Gresia, mengatakan program EHS telah membina 53 SMK di Indonesia.

“Melalui program tersebut, siswa mendapat kesempatan berhadapan dengan pelanggan dari luar sekolah, belajar menangani keluhan, dan memahami pentingnya pelayanan. Pengalaman itu membantu mereka mengenali tuntutan pekerjaan yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran teori,” katanya saat mengunjungi bengkel Speed Karya SMK Harapan Mulya Kendal, Rabu,(16/9/2026)

Dukungan juga diberikan kepada lulusan yang ingin merintis usaha. Bentuknya antara lain peralatan kerja, dukungan identitas usaha atau branding, lemari pajang, serta produk pelumas sebagai modal awal.

“Bagi lulusan yang memiliki keterampilan tetapi terkendala sarana, dukungan tersebut dapat membantu membuka langkah pertama. Peralatan dan produk menjadi bagian dari kebutuhan untuk memulai usaha, sementara kemampuan teknis dan pengelolaan pelanggan menentukan bagaimana usaha itu berkembang,” tambahnya.

Kolaborasi antara sekolah dan dunia industri menjadi penting untuk mempertemukan pembelajaran dengan kebutuhan pasar. Sekolah membangun kompetensi dasar, sedangkan dukungan dunia usaha membantu siswa mengenal produk, standar pelayanan, dan pengalaman menghadapi pelanggan.

Keberlanjutan program juga perlu ditopang pendampingan, peningkatan keterampilan, serta pemahaman pengelolaan keuangan. Dengan begitu, pengalaman selama sekolah dapat menjadi bekal yang lebih kuat bagi lulusan yang ingin bekerja maupun membangun usaha mandiri.

Bagi Arfaiasa dan Nabris, perjalanan menjadi mekanik profesional masih panjang. Mereka perlu terus berlatih, memperdalam pengetahuan tentang mesin, dan belajar menghadapi kebutuhan pelanggan yang semakin beragam.

PELUANG PASAR – Pelumas Pertamina memiliki peluang pasar besar, bagi pertumbuhan ekonomi, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan pemilik bengkel dan karyawannya. (tya/redmetrojateng)

 

Namun, keduanya kini telah melangkah lebih jauh dibandingkan ketika pertama kali belajar. Arfaiasa mulai berani membongkar mesin dan mengenal penjualan pelumas, sedangkan Nabris mulai mempraktikkan keterampilannya untuk membantu memperbaiki kendaraan di lingkungan tempat tinggalnya.

Perubahan itu menunjukkan bahwa kesempatan belajar dapat menumbuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknis. Pengalaman praktik membantu siswa membangun kepercayaan diri, mengenali peluang, dan mulai merencanakan masa depan.

Guru membimbing mereka memahami pekerjaan dengan benar. Sekolah menyediakan ruang untuk berlatih dan mengenal kegiatan usaha. Sementara itu, dukungan Pertamina Lubricants memperluas kesempatan siswa untuk mendekatkan keterampilan dengan kebutuhan dunia kerja.

Mungkin suatu hari nanti, Arfaiasa atau Nabris benar-benar memiliki bengkel sendiri. Ada papan nama di depan pintu, peralatan yang tersusun rapi, dan pelanggan yang datang mempercayakan kendaraannya.

Jika hari itu tiba, perjalanan mereka akan bermula dari bengkel sekolah, ketika mengganti oli saja pernah terasa sulit.

Di Speed Karya, pekerjaan sederhana menjadi awal dari proses yang lebih besar. Bukan hanya membentuk calon mekanik yang terampil, tetapi juga menumbuhkan keberanian untuk bermimpi, kemauan untuk terus belajar, dan harapan untuk membangun kehidupan yang mandiri. (*)

Comments are closed.