Kitab Akhlak Karya Gus Nasrul Tuai Apresiasi Tiga Kiai Sepuh NU
Raudhah al-Mubtadi’in Bahas Akhlak di Tengah Dinamika Kehidupan Modern
METROJATENG.COM, JEPARA – Kitab Raudhah al-Mubtadi’in fi ‘Ilm al-Akhlaq al-Mu’ashirah karya Dr. KH Nasrulloh Afandi, Lc, MA atau Gus Nasrul mendapat sambutan dan apresiasi dari sejumlah kiai sepuh serta tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Di antaranya mantan Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, Pengasuh Pesantren Lirboyo Kediri KH Kafabihi Mahrus Ali, dan Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir.
Gus Nasrul, yang merupakan kiai muda Pesantren Raudhatul Mubtadiin Balekambang, Jepara, menulis kitab tersebut sebagai referensi ilmu akhlak yang dikaitkan dengan berbagai persoalan kehidupan masyarakat modern. Kitab yang baru terbit dalam Juz 1 setebal 230 halaman itu mendapat respons positif dan hingga Agustus 2026 telah dipesan hampir 1.000 eksemplar.
Dalam pendahuluannya, Gus Nasrul yang juga Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru NU menegaskan bahwa eksistensi sebuah bangsa dan negara sangat bergantung pada akhlak warga negaranya. Menurutnya, kajian akhlak akan terus relevan selama kehidupan manusia masih berlangsung.
Pada bagian awal, kitab tersebut mengulas sumber akhlak yang bersandar pada Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad SAW. Gus Nasrul juga membahas pengertian akhlak secara etimologi dan terminologi serta pandangan sejumlah filsuf Yunani seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles mengenai akhlak dan kebahagiaan manusia.
Pembahasan kemudian diarahkan pada berbagai jenis akhlak berdasarkan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Manusia memiliki potensi akhlak karimah atau terpuji dan akhlak sayyiah atau tercela sehingga diperlukan kemampuan menjaga diri dalam kehidupan sosial.
Gus Nasrul juga menguraikan akhlak berdasarkan konteks hubungan manusia, yakni akhlak kepada Allah SWT, sesama manusia, diri sendiri, serta lingkungan dan benda di sekitarnya. Persoalan seperti penebangan liar, illegal logging, serta membuang sampah dan limbah sembarangan disebut sebagai bagian dari perilaku yang mencerminkan kurangnya akhlak terhadap lingkungan.
Tidak berhenti pada konsep, kitab tersebut juga membahas urgensi akhlak dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Termasuk kebutuhan terhadap akhlak mulia, posisi akhlak dalam kehidupan bermasyarakat, hingga langkah strategis membentuk generasi berakhlak karimah di ruang publik pada era modern.
Disebut Jadi Benteng Moral Era Digital
Mantan Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj memberikan pengantar atau kalimah al-taqdim untuk kitab tersebut. Ia menilai perubahan nilai, deviasi sosial, dan keterbukaan informasi di era digital membutuhkan benteng spiritual yang kuat melalui aktualisasi ajaran akhlakul karimah.
“Kitab ini diharapkan menjadi benteng pertahanan agama, prinsip-prinsip Islam, dan akhlak mulia bagi umat Nabi Muhammad SAW di masa kini,” ungkap Kiai Said dalam catatan dan video yang beredar.
Ia juga menilai, karya Gus Nasrul sebagai karya besar serta menganjurkan para santri, pelajar, dan akademisi di lingkungan pesantren untuk membaca dan membedah kitab tersebut secara mendalam.
Kiai Lirboyo Apresiasi Bahasa Arab
Apresiasi juga disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri KH Kafabihi Mahrus Ali. Ia menilai terbitnya kitab tersebut menjadi salah satu bukti keberhasilan kaderisasi ulama pesantren.
Gus Nasrul diketahui merupakan alumnus Pesantren Lirboyo dan menyelesaikan studi doktoral bidang Maqashid Shariah di Universitas Al-Qarawiyyin, Maroko. Kiai Kafabihi juga mengapresiasi sikap Gus Nasrul yang tetap mempertahankan karakter pesantren serta menjunjung tinggi penghormatan kepada guru.
Dari sisi penulisan, Kiai Kafabihi menilai kitab tersebut memiliki struktur bahasa Arab yang fasih, kokoh, dan sistematis atau uslub ‘arabi salim matin. Karena itu, kitab tersebut dinilai layak menjadi salah satu rujukan dalam pengembangan kurikulum pendidikan Islam dan pesantren.
Dinilai Menjawab Kebutuhan Zaman
Sementara itu, Wakil Rais Aam PBNU, KH Afifuddin Muhajir, turut memberikan apresiasi terhadap karya Gus Nasrul. Ia menilai keunikan kitab tersebut terletak pada kemampuan penulis menghubungkan kajian akhlak dengan berbagai disiplin ilmu dan persoalan kehidupan modern.
Menurut Kiai Afifuddin, kitab tersebut hadir pada momentum yang tepat ketika masyarakat dunia membutuhkan pegangan moral di tengah krisis etika. Ia juga mengapresiasi rekam jejak Gus Nasrul sebagai akademisi, peneliti yang aktif dalam forum Bahtsul Masail NU, sekaligus dai yang berdakwah hingga ke berbagai daerah, termasuk pedalaman Papua.
Dukungan para ulama tersebut memperkuat posisi Raudhah al-Mubtadi’in fi ‘Ilm al-Akhlaq al-Mu’ashirah sebagai literatur yang tidak hanya membahas ilmu akhlak, tetapi juga menawarkan perspektif etika dalam menghadapi dinamika kehidupan modern.
Gus Nasrul mengatakan, kitab tersebut akan dikembangkan secara berkelanjutan karena persoalan akhlak di masyarakat terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
“Karena ini kajian akhlak modern yang terus berkembang sesuai permasalahan di tengah masyarakat modern, maka kitab tersebut akan ditulis secara berkala, bersambung, satu tahun bisa satu juz, insyaallah sebagai upaya menjawab kebutuhan umat,” harapnya.
Pesantren Raudhatul Mubtadiin Balekambang sendiri merupakan salah satu pesantren yang telah berdiri sejak 1884. Lembaga pendidikan tersebut kini menaungi berbagai jenjang pendidikan, mulai MI, MTs, MA, SMK, PDF Wustha, PDF Ulya, Ma’had Aly, Politeknik Balekambang, hingga program tahfiz Al-Qur’an.(*)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.