Produksi Padi Jateng Diproyeksi Tembus 9,3 Juta Ton, Setya Ari Usulkan Tiga Program Ketahanan Pangan untuk Banyumas-Cilacap
METROJATENG.COM, PURWOKERTO – Jawa Tengah diperkirakan kembali mencatat surplus produksi padi pada 2025. Kondisi ini dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat ketahanan pangan hingga tingkat daerah, khususnya di wilayah selatan Jawa Tengah seperti Banyumas dan Cilacap.
Wakil DPRD Jawa Tengah, Setya Arinugroho, menilai capaian surplus produksi padi harus berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani dan nelayan. Karena itu, ia mendorong tiga program prioritas yang dinilai realistis dan dapat segera diimplementasikan untuk memperkuat sektor pertanian dan perikanan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, produksi padi pada 2024 mencapai 8,89 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara 5,11 juta ton beras. Capaian tersebut menempatkan Jawa Tengah sebagai produsen padi terbesar kedua di Indonesia setelah Jawa Timur.
Sementara itu, proyeksi Kementerian Pertanian menunjukkan produksi padi Jawa Tengah pada 2025 berpotensi meningkat menjadi 9,30 juta ton GKG atau tumbuh sekitar 4,64 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Jawa Tengah surplus lebih dari 9 juta ton merupakan capaian yang patut diapresiasi. Namun yang lebih penting adalah bagaimana petani dan nelayan di Banyumas maupun Cilacap ikut merasakan manfaatnya,” kata Setya Ari.
Menurutnya, terdapat tiga kebutuhan mendesak yang harus menjadi perhatian pemerintah, yakni ketersediaan air, fasilitas penyimpanan hasil produksi, serta kepastian pasar bagi petani dan nelayan.

Tiga Program Prioritas Ketahanan Pangan
1. Revitalisasi Irigasi Mikro
Program pertama yang diusulkan adalah perbaikan jaringan irigasi tersier untuk menjamin ketersediaan air bagi lahan pertanian. Langkah ini dinilai penting mengingat luas panen padi di Jawa Tengah pada 2024 tercatat menurun 5,36 persen menjadi 1,55 juta hektare dibandingkan tahun sebelumnya.
Setya Ari mendorong adanya pemetaan kondisi irigasi di tingkat usaha tani agar rehabilitasi dapat dilakukan secara bertahap dan tepat sasaran.
2. Pembangunan Lumbung Pangan Desa dan Cold Storage
Program kedua adalah pembangunan fasilitas penyimpanan gabah, hasil pertanian, serta produk perikanan di setiap kecamatan di Banyumas dan Cilacap.
Menurutnya, keberadaan lumbung pangan dan cold storage akan membantu mengurangi kehilangan hasil pascapanen sekaligus memberi ruang bagi petani dan nelayan untuk menjual produknya pada saat harga lebih menguntungkan.
3. Kemitraan Petani dan Nelayan dengan Industri
Program ketiga adalah mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memfasilitasi kerja sama langsung antara kelompok tani dan nelayan dengan industri pengolahan, pengelola cold storage, maupun jaringan ritel modern.
Skema tersebut diharapkan mampu memangkas rantai distribusi, mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak, serta menciptakan harga jual yang lebih stabil bagi produsen di tingkat bawah.
Setya Ari menegaskan, tiga program tersebut akan terus dikawal dalam pembahasan APBD Jawa Tengah 2026 agar alokasi anggaran untuk penguatan infrastruktur pertanian dan perikanan di wilayah selatan memperoleh perhatian yang lebih besar.
“Predikat Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional harus dibuktikan dengan kerja nyata di lapangan. Jika irigasi berjalan baik, hasil panen tersimpan aman, dan petani bisa menjual produknya dengan harga layak tanpa bergantung pada tengkulak, itulah ketahanan pangan yang benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkasnya. (*)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.