Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Inflasi Jateng Naik 0,23 Persen, Harga Cabai dan Bawang Jadi Pemicu Utama

 

METROJATENG.COM, SEMARANG – Kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah kembali mendorong inflasi di Jawa Tengah pada Mei 2026. Namun demikian, laju inflasi masih berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia, yakni 2,5±1 persen.

Berdasarkan data terbaru, Jawa Tengah mencatat inflasi bulanan sebesar 0,23 persen (month to month/mtm) pada Mei 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan April 2026 yang mengalami deflasi 0,03 persen, namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,28 persen.

Pendorong utama inflasi berasal dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,07 persen. Komoditas cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah menjadi penyumbang terbesar kenaikan harga. Kondisi cuaca ekstrem, serangan organisme pengganggu tanaman, hingga kekeringan di sejumlah sentra produksi menyebabkan produktivitas menurun dan pasokan berkurang.

Kabupaten Temanggung tercatat mengalami penurunan produksi cabai, sementara sentra bawang merah di Kabupaten Pati dan Demak juga terdampak kondisi serupa. Situasi tersebut diperparah dengan meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha dan musim hajatan.

Selain bahan pangan, harga minyak goreng juga mengalami kenaikan akibat terbatasnya pasokan dan meningkatnya biaya produksi, terutama dari sisi bahan pendukung seperti plastik kemasan.

Meski demikian, tekanan inflasi pangan berhasil diredam oleh turunnya harga telur ayam ras dan daging ayam ras. Melimpahnya pasokan di tingkat peternak membuat kedua komoditas tersebut memberikan andil deflasi dan membantu menahan laju kenaikan harga yang lebih tinggi.

Inflasi juga dipengaruhi oleh Kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan yang memberikan andil sebesar 0,06 persen. Harga telepon seluler kembali meningkat seiring naiknya harga komponen elektronik seperti chipset dan memori akibat tingginya permintaan global untuk kebutuhan industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Sementara itu, Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga turut menyumbang inflasi. Kenaikan harga LPG non-subsidi yang dilakukan pada April 2026 masih berdampak terhadap harga yang dibayar konsumen hingga Mei 2026.

Di sisi lain, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya justru mengalami deflasi sebesar 0,05 persen. Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya harga emas perhiasan sejalan dengan koreksi harga emas global. Kondisi tersebut terjadi karena sejumlah bank sentral dunia, termasuk The Fed, masih mempertahankan suku bunga tinggi sehingga investor mengalihkan dana ke instrumen berbasis bunga dan melakukan aksi ambil untung setelah harga emas sebelumnya melonjak.

Secara spasial, seluruh kota dan kabupaten Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Tengah mencatat inflasi pada Mei 2026. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Surakarta, Kudus, dan Cilacap yang masing-masing mencapai 0,31 persen. Selanjutnya Kabupaten Wonogiri sebesar 0,30 persen, Purwokerto 0,28 persen, Kabupaten Rembang 0,24 persen, Kota Semarang 0,16 persen, Kota Tegal 0,14 persen, serta Kabupaten Wonosobo 0,12 persen.

Untuk inflasi tahunan (year on year/yoy), seluruh wilayah IHK di Jawa Tengah juga mencatatkan kenaikan harga. Kota Cilacap menjadi daerah dengan inflasi tertinggi sebesar 3,22 persen, disusul Kabupaten Wonogiri 3,02 persen, Kota Tegal 2,90 persen, Purwokerto 2,88 persen, Kota Surakarta 2,85 persen, Kota Semarang 2,79 persen, Kabupaten Wonosobo 2,73 persen, Kudus 2,67 persen, dan Kabupaten Rembang 2,59 persen.

Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Tengah serta TPID kabupaten/kota se-Jawa Tengah memastikan akan terus memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas harga. Berbagai program pengendalian inflasi akan difokuskan pada upaya menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi komoditas strategis agar inflasi tetap terjaga dalam rentang sasaran.

Dengan berbagai langkah tersebut, stabilitas harga di Jawa Tengah diharapkan tetap terjaga meskipun dihadapkan pada tantangan cuaca, dinamika pasokan pangan, serta perkembangan ekonomi global. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.