Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Saat Seragam Polisi Menjadi Jembatan Masa Depan Anak-anak Jalanan

METROJATENG.COM, PURWOKERTO – Bagi sebagian anak, perempatan lampu merah bukan sekadar persimpangan jalan. Di sanalah mereka tertawa, bernyanyi, dan berharap. Meski harus berpanas-panasan di bawah terik matahari, beberapa keping rupiah yang terkumpul mampu membantu orang tua menyambung hidup. Jika rezeki sedang lebih baik, uang itu bisa berubah menjadi sebungkus jajanan kecil yang membuat hari terasa lebih menyenangkan.

Marisa adalah salah satunya. Gadis kecil yang kini tercatat sebagai siswa Kejar Paket A di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Satria Purwokerto ini, hampir setiap pagi turun ke jalan bersama teman-temannya. Perempatan Karangpucung menjadi panggung mereka, tempat suara-suara polos anak-anak berpadu dengan deru kendaraan Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Menjelang siang, Marisa pulang ke rumah. Ia makan, beristirahat sejenak, lalu kembali lagi ke jalan. Rutinitas itu sempat berjalan tanpa jeda. Hingga suatu hari, ada perubahan kecil namun berarti dalam hidupnya. Jam mengamen Marisa kini berkurang. Tepat pukul 14.30 WIB, ia harus bergegas menuju PKBM Satria untuk belajar.

Dengan tubuh penuh peluh dan sisa aroma matahari yang menempel di pakaian, Marisa tetap duduk di bangku kelas dengan mata berbinar. Lelah tak mampu mengalahkan semangatnya.

“Beberapa kali guru sempat protes,” ujar Babinkamtibmas Kelurahan Karangklesem, Aiptu Ali Imron, sambil tersenyum. “Katanya, anak-anak harusnya disuruh mandi dulu sebelum belajar. Sebenarnya mereka sudah mandi, hanya saja mereka ngamen dulu sebelum ke tempat belajar, sehingga aroma sabun mandi terhapus oleh terik matahari,”

Di balik senyum itu, tersimpan kepedulian yang dalam. Aiptu Ali Imron bukan sekadar polisi yang bertugas menjaga keamanan wilayah. Ia adalah sosok yang gigih memperjuangkan agar anak-anak di lingkungannya kembali mengenal bangku sekolah. Dari mendatangi orang tua, membujuk dengan sabar, hingga merayu anak-anak agar mau kembali belajar, semua ia lakukan dengan tulus. Tak jarang, dari kocek pribadinya sendiri, ia belikan buku, tas, atau perlengkapan sekolah agar semangat anak-anak itu tumbuh kembali.

“Buat apa sekolah, lebih baik di perempatan saja, sudah dapat uang. Kata-kata yang sering terucap dari orang tua maupun anak-anak tersebut, membuat saya merasa sangat prihatin. Sebab, jika rantai ini tidak diputus, maka generasi selanjutkan akan terus mewarisi budaya yang terbangun di kampung ini,” ucap ayah satu anak ini.

Keprihatinan Ali Imron bukanlah tanpa alasan, mengingat anak-anak tersebut tinggal di Kampung Sri Rahayu, sebuah kampung yang dikenal warga Purwokerto, sebagai kampungnya pengemis, pengamen, serta pekerja tuna susila. Meskipun sudah puluhan tahun, stigma ini sulit untuk diubah, karena sebagian besar warga yang tinggal di lokasi tersebut adalah pendatang, yang bukan hanya tidak memiliki ijazah, tetapi juga tidak memiliki identitas kependudukan.

Berbagai program pemerintah ataupun para pemerhati sosial, sudah pernah dilakukan di kampung tersebut, namun perubahan konkrit belum bisa dicapai. Setelah bantuan berlalu, pembinaan selesai, maka warga Kampung Sri Rahayu akan kembali ke kebiasaan awal, yaitu mengemis dan mengamen.

“Perhatian dan kepedulian itu memang tidak bisa hanya sesaat saja, tetapi harus terus-menerus dilakukan dalam jangka waktu lama. Dan sebagai orang yang setiap hari bertugas di lingkungan ini, saya merasakan sekali kehidupan kampung ini yang masih sangat jauh dari kata ideal. Bukan hanya anak-anak yang tidak bersekolah, tetapi juga kepedulian orang tua terhadap pendidikan masih memprihatinkan,” kata Ali.

Caption Foto : Babinkamtibmas Kelurahan Karangklesem, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas, Aiptu Ali Imron, saat mengajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakt (PKBM) Satria Purwokerto. (Foto : Hermiana E. Effendi).

 

Keprihatinan yang Melahirkan Tindakan

Lebih lanjut Ali bertutur tentang kondisi Kampung Sri Rahayu. Menurutnya, setelah Covid-19, situasi kamtibmas di Kecamatan Purwokerto Selatan butuh perhatian serius. Mulai dari kerawanan sosial, kriminal serta berbagai konflik lainnya terus membayangi kehidupan warga di kampung tersebut. Faktor ekonomi menjadi pemicu utamanya.

“Salah satu kasus yang masih terus saya ingat adalah tawuran yang terjadi di Kabupaten Purbalingga. Ada salah satu anak Kampung Sri Rahayu yang terlibat pada saat itu, namanya Gibran. Ia anak putus sekolah, orang tua bercerai dan Gibran tinggal dengan neneknya yang sudah berusia lanjut. Gibran sempat menginap semalam di Purbalingga, kemudian dikembalikan kepada keluarga karena masih di bawah 17 tahun. Setelah kembali, saya langsung mendatanginya, saya kerap mengajaknya berbincang dari hari ke hati dan Alhamdulillah, sekarang ia sudah mau kembali belajar, Ia ikut program Kejar Paket C di PKBM Satria,” ungkapnya.

Ali meyakini, masih banyak Gibran-Gibran lain yang bernasib serupa di luar sana. Orang tua ataupun pihak keluarga, seringkali sudah menyerah untuk memberikan nasihat, terlebih mereka juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sehingga perhatian yang diberikan kepada anak sangat terbatas.

“Ini seperti tidak ada ujungnya, banyak orang tua yang menyuruh anaknya ngamen untuk membantu ekonomi keluarga, di sisi lain, anak juga merasa senang karena dengan mengamen mendapatkan uang dan bila pendapatannya lebih, bisa membeli jajan,” urai Ali.

Kepada para orang tua di Kampung Sri Rahayu, Ali selalu berusaha menanamkan pengertian, bahwa hidup itu merupakan sebuah keberlanjutan, sehingga pendidikan menjadi faktor penting bagi anak untuk bisa menopang masa depannya kelak. Beberapa orang tua mulai terbuka hatinya, namun tak jarang pula yang masih bersikukuh bahwa anak harus membantu mencari nafkah.

Catur Nugroho adalah bukti bahwa rantai itu bisa diputus. Anak keempat dari enam bersaudara ini pernah putus sekolah saat duduk di bangku STM karena keterbatasan ekonomi. Takdir membawanya bekerja di Polsek Purwokerto Selatan, berdampingan dengan PKBM Satria. Dari situlah, ia kembali menata masa depan.

“Awalnya, saya suka membolos dengan alasan pekerjaan. Tetapi kemudian sering dinasehati oleh Pak Ali, akhirnya saya bisa menyelesaikan Kejar Paket C dan sekarang sudah memiliki ijazah,” tuturnya.

Catur mengaku mendapatkan banyak pengalaman selama kerja di Polsek Purwokerto Selatan. Mulai dari belajar disiplin, belajar berbagi saat Polsek membagikan bantuan kepada masyarakat, hingga pengalaman membantu polisi di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Pernah suatu hari, Catur diminta untuk ikut ke TKP pembunuhan. Rasa was-was membayanginya, namun ia beruntung, saat tiba di lokasi, jenazah korban pembunuhan sudah dibawa ke rumah sakit.

“Waktu diajak ikut ke TKP pembunuhan, sudah pasti takut, karena yang terlintas pertama di benak saya, melihat mayat penuh luka dan berdarah-darah. Untungnya, mayat sudah tidak ada, sehingga saya hanya diminta untuk membantu mencari barang-barang korban di TKP,” ungkapnya.

Terlahir dari keluarga yang sederhana, Catur mengaku sangat bersyukur bisa mempunyai kolega kerja para polisi. Bahkan, oleh teman dan tetangga, ia kerap dijadikan sumber informasi, baik tentang kejadian kriminal, kecelakaan, hingga informasi tentang operasi tilang. Catur juga sangat berterima kasih, karena atas support Ali Imron dan para polisi lainnya, ia akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan di PKBM Satria.

Caption Foto : Babinkamtibmas Kelurahan Karangklesem, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas, Aiptu Ali Imron dan Kepala PKBM Satria, Lusi Hindriyati, saat bercengkrama dengan Catur, salah satu alumni yang kini bekerja di Polsek Purwokerto Selatan. (Foto : Hermiana E. Effendi).

 

Kurikulum Kekeluargaan

Upaya Aiptu Ali Imron di bidang pendidikan, tidak hanya sebatas mengajak dan memfasilitasi anak-anak jalanan untuk kembali bersekolah. Tetapi, ia juga kerap ikut mengajar anak-anak. Peran sebagai guru ini, karena PKBM Satria hanya memiliki 3 guru tetap dan 4 guru bantu, sementara jumlah siswanya saat ini mencapai 100 orang lebih.

Kepala PKBM Satria, Lusi Hindriyati SH, S.Pd mengatakan, ia sangat terbantu dengan kehadiran Ali Imron, mengingat permasalahan di PKBM sangat kompleks. Tidak hanya anak yang terkadang membolos, tetapi juga permasalahan orang tua, hingga anak yang mengalami kondisi khusus.

“Siswa kami ini, sebagian besar merupakan siswa yang termarjinalkan, dari kalangan menengah ke bawah dan keluarga mereka mempunyai permasalahan yang kompleks. Pernah ada orang tua yang menangis di sekolah ini, menceritakan anaknya yang hamil di luar nikah. Kami berikan pengertian sebisa mungkin agar orang tua tidak menambah beban anak, dengan menghujat, tetapi justru harus membarikan support untuk menguatkan mental anak,” jelasnya.

Lusi mengatakan, PKBM Satria menerapkan kurikulum kekeluargaan, sehingga semua permasalahan yang dihadapi anak, akan dicoba untuk diurai bersama-sama, karena yang terpenting adalah anak menyelesaikan pendidikannya.

“Pak Ali Imron sangat membantu kami. Selain mengajar, beliau juga selalu membantu permasalahan yang terjadi dan anak-anak, terutama yang beliau rekrut dari jalanan sangat dekat dengannya,” ucap Lusi.

Caption Foto : Kapolresta Banyumas, Kombes Pol. Dr. Ari Wibowo SIK.MH. (Foto : Hermiana E. Effendi).

 

Polisi Hadir di Tengah Masyarakat

Sementara itu, Kapolresta Banyumas, Kombes Pol. Dr. Ari Wibowo SIK.MH menyampaikan apresiasi atas kiprah dan kepedulian anggota terhadap permasalahan sosial-kemasyarakatan di lingkungannya. Hal tersebut, sejalan dengan pesan-pesan Kapolri dan Kapolda Jateng, agar kehadiran polisi dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Kapolresta mengatakan, apa yang dilakukan Aiptu Ali Imron merupakan hal positif yang membawa perubahan untuk anak bangsa, karena anak-anak dimanapun berada merupakan aset bangsa yang harus diberikan perhatian.

“Ini merupakan salah satu bukti konkret, bahwa polisi hadir di tengah masyarakat dan kehadirannya membawa perubahan positif. Bahwa polisi selalu memberikan pelayanan terbaik, di bidang apapun. Meskipun ada dinas terkait, polisi tetap hadir dan berkolaborasi, karena aset bangsa ini harus diselamatkan,” tegas Ari Wibowo.

Di balik riuh kendaraan dan panas aspal perempatan jalan, selalu ada anak-anak yang bermimpi, meski kerap tak berani mengucapkannya. Marisa, Gibran, dan Catur hanyalah sebagian kecil dari mereka yang nyaris kehilangan arah, sebelum akhirnya bertemu dengan tangan yang mau menggenggam dan hati yang mau mendengar.

Kehadiran Aiptu Ali Imron membuktikan bahwa perubahan tak selalu lahir dari program besar atau anggaran berlimpah, tetapi dari kepedulian yang konsisten dan keberanian untuk tetap peduli saat banyak orang memilih berpaling. Ketika seorang polisi memilih turun ke jalan bukan hanya untuk menertibkan, tetapi juga untuk mendidik dan memanusiakan, di situlah harapan kembali menemukan rumahnya.

Dan selama masih ada sosok polisi seperti Aiptu Ali Imron, perempatan lampu merah tak lagi menjadi akhir cerita, melainkan awal perjalanan menuju masa depan yang lebih terang bagi anak-anak bangsa

 

Comments are closed.