Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Ancaman Resesi Menguat, Ini Instrumen Investasi yang Paling Tahan Guncangan

METROJATENG.COM, SEMARANG – Ketidakpastian ekonomi global kembali menjadi sorotan setelah berbagai indikator menunjukkan perlambatan aktivitas di sejumlah sektor strategis. Para analis bahkan menilai, tekanan ekonomi yang terjadi pada 2020 berpotensi menimbulkan risiko resesi yang dapat berdampak lebih luas dibanding krisis keuangan 1998, terutama bagi negara berkembang.

Di tengah situasi tersebut, para pakar keuangan menekankan pentingnya mempersiapkan langkah mitigasi, salah satunya dengan mulai berinvestasi pada instrumen yang relatif stabil ketika krisis terjadi. Sejumlah aset dinilai memiliki ketahanan lebih baik terhadap gejolak ekonomi.

1. Emas Masih Jadi Pilihan Utama
Emas kembali menegaskan posisinya sebagai aset lindung nilai. Harga logam mulia yang cenderung meningkat saat inflasi naik membuatnya menjadi pilihan favorit masyarakat. Selain itu, bentuk fisiknya mudah disimpan dan likuid sehingga dapat dijual kapan pun dibutuhkan.

2. Surat Berharga Negara (SBN) Kian Diminati
Instrumen investasi yang diterbitkan pemerintah ini dianggap aman karena dijamin oleh negara. Dengan nominal pembelian mulai dari Rp1 juta, SBN menjadi peluang bagi masyarakat untuk ikut memperkuat pembiayaan nasional sekaligus melindungi nilai kekayaan dari risiko resesi.

3. Deposito Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian
Bagi yang menginginkan instrumen berisiko rendah, deposito perbankan bisa menjadi pertimbangan. Selama tercatat dalam skema penjaminan LPS dengan batas maksimal Rp2 miliar per nasabah di tiap bank, deposito dinilai aman meski kondisi ekonomi tidak stabil.

4. Dolar AS, Aset yang Konsisten Menguat
Dolar Amerika Serikat kerap menjadi pilihan untuk diversifikasi aset, terutama karena nilai tukarnya cenderung menguat terhadap rupiah selama satu dekade terakhir. Penguatan ini membuat dolar dinilai sebagai instrumen yang cukup efektif dalam menahan inflasi tinggi.

5. Reksa Dana Non-Saham Lebih Tahan Gejolak
Jenis reksa dana seperti pasar uang, pendapatan tetap, dan proteksi dinilai lebih stabil dibanding reksa dana berbasis saham ketika ekonomi melemah. Investor hanya perlu memastikan produk tersebut dipasarkan oleh lembaga yang telah terdaftar dan diawasi OJK.

Para ahli menyebutkan bahwa memulai investasi sejak kondisi belum terlalu memburuk adalah langkah bijak. Dengan strategi yang tepat, masyarakat dapat menjaga keuangan tetap stabil meski risiko resesi global masih menghantui.

Comments are closed.