Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Api Biru di Jantung RSUP Dr. Kariadi, Nafas Baru Menuju Rumah Sakit Hijau

Dari ruang dapur hingga mesin sterilisasi, api biru kini menyala tenang. Tak ada lagi asap hitam, tak ada lagi bau solar. Di tengah hiruk pikuk pelayanan, hadir udara yang lebih bersih dan semangat baru untuk bumi yang lebih hijau menuju nett zero emision

METROJATENG.COM, SEMARANG – Setiap hari, ribuan pasien datang dan pergi dari RSUP Dr. Kariadi, rumah sakit terbesar di Jawa Tengah. Namun di balik gemuruh mesin dan langkah cepat para tenaga medis, ada perubahan senyap yang tengah berdenyut di jantung rumah sakit ini. Api biru menggantikan asap hitam, menghadirkan babak baru dalam perjalanan panjang menuju energi bersih dan rumah sakit hijau serta efisiensi.

Udara hangat bercampur uap lembap menyelimuti ruang binatu RSUP Dr. Kariadi, Semarang. Deru mesin pengering berpadu dengan, mesin pencuci dan setrika yang berputar tanpa henti. Di balik tirai uap panas itu, sejumlah petugas berseragam hijau muda bergerak cepat, mencuci, mengeringkan, melipat, mengulang lagi tanpa jeda.

Bagi Farokhi, Kepala Instalasi Pemeliharaan Sarana dan Sanitasi RSUP Dr. Kariadi, perubahan ini bukan sekadar soal mesin yang menyala stabil. Perubahan ini adalah simbol dari pergeseran besar perjalanan rumah sakit ini menuju energi yang lebih bersih, lebih aman, dan lebih manusiawi.

“Dulu, semua masih pakai solar, untuk dapur, laundry, sampai sterilisasi alat. Seminggu bisa habis sekitar 8.000 liter.” kenang Farokhi.

Ia mengingat betapa beratnya perjalanan timnya untuk mendapatkan gas alam guna menjaga operasional kala stok solar datang terlambat. Bau asap memenuhi ruangan, membuat paru-paru sesak, sementara tekanan kerja tak pernah berkurang.

Untuk mendapatkan jaringan gas (jargas) PGN, menunggu kurang lebih hampir satu tahun. Hal ini disebabkan , tidak ada jargas yang melintas di jalan dr Sutomo, atau tepatnya di depan RSUP Kariadi. Setelah melalui proses panjang, akhirnya jaringan gas berhasil dibuat oleh PGN.

Namun gas tidak bisa langsung mengalir, karena untuk membuat gas bisa mengalir ke dapur gizi dan binatu, harus dibuat jaringan baru. Pembuatan jaringan baru menuju ruang gizi (dapur( dan ruang binatu (loundry)   menjadi tugas dari rumah sakit. Untuk membuat jaringan baru, RSUP Kariadi harus menginvestasi dana Rp 200 juta-300 juta.

“Alhamdulilah , Direktur Utama RSUP Kariadi,dr. Agus Akhmadi,M.Kes,  setuju dengan proyek penggunaan gas alam PGN, karena sebanding dengan penghematan di masa depan. Bayangkan dengan pemakaian gas alam RSUP Dr Kariadi, melakukan efisiensi yang sangat besar, dan mampu menekan emisi gas 30-40 persen,” kata Farokhi, disela kesibukannya pada Rabu (29/10/2025)

PILIHAN TEPAT – Kepala Instalasi Pemeliharaan Sarana dan Sanitasi RSUP Dr. Kariadi Farokhi SMT, saat memberikan penjelasan manfaat gas alam PGN pilihan tepat untuk meningkatkan
efisiensi serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat di RSUP Dr Kariadi Semarang. (tya/redmetrojateng)

 

Pada awal September 2025, rumah sakit ini resmi menggunakan gas bumi yang disalurkan oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN). Api biru menggantikan asap hitam.Penyaluran gas alam yang harusnya mulai dilakukan pada Nopember, maju dua bulan, karena PGN memandang percepatan harus dilakukan, mengingat efisiensi sangat dibutukan saat ini.

“Gas bumi lebih aman. Kalau bocor, dia naik ke atas, tidak mengendap seperti LPG atau solar. Risiko kebakaran lebih rendah, ruang kerja juga lebih bersih,” jelas Farokhi.

Dari sisi ekonomi, hasilnya nyata. Pengeluaran bahan bakar yang dulu mencapai Rp510–600 juta per bulan kini turun 58 persen atau bisa hemat sekitar Rp250 juta per bulan. Setahun, penghematan hampir Rp3,5 miliar,” ujarnya.

Bagi Farokhi, angka itu lebih dari sekadar efisiensi. “Dana itu bisa kami alihkan untuk pembelian alat medis, sistem sterilisasi, dan peningkatan pelayanan pasien. Jadi, efisiensi ini bukan cuma soal uang, tapi soal kualitas hidup.” ungkapnya.

Dapur Menyala, Harapan Baru Tercipta

Di ruang gizi, Fitriatul Laili menyalakan kompor. Api biru menyala rata, panasnya tinggi dan stabil. Ia menyiapkan makanan untuk lebih dari seribu pasien setiap hari.

“Dulu kalau gas LPG habis, kami harus ganti di tengah jam sibuk, repot sekali. Sekarang gak perlu lagi. Gas alam ini mengalir terus. Apinya rata, panasnya besar. Masak jadi lebih cepat,” ungkap Fitriatul, pramumasak yang sudah bekerja 9 tahun di dapur gizi RSUP Kariadi.

Di sisi lain, Nur Azizah, Kepala Tim Gizi shift pagi, menambahkan, “Kalau api stabil, waktu masak juga bisa kita atur lebih presisi. Kami bisa pastikan makanan pasien datang tepat waktu, hangat, dan terjamin kebersihannya.”

Bagi mereka, gas bumi bukan sekadar bahan bakar. Ia adalah sumber ketenangan, membuat pekerjaan lebih mudah, ruang kerja lebih bersih.

Di ruang binatu, uap panas keluar dari mesin dengan tekanan konstan. Tidak ada perubahan banyak di ruang tersebut, pekerjaan binatu tetap berjalan lancar.

API BIRU TEKANAN TINGGI – Fitriatul Laili, pramumasak RSUP D r Kariadi tengah menyiapkan masakan untuk ribuan pasien. Dengan nyala api biru dan tekanan tinggi memasak lebih cepat dan makanan buat pasien hadir tepat waktu. (tya/redmetrojateng)

Kumarudin, teknisi mesin laundry, tersenyum puas.karena penggunaan gas alam membuat udara menjadi lebih bersih dan ada efisiensi karena tidak menggunakan solar lagi.

“Sekarang tekanannya stabil di 7 bar. Suhu pencucian sekitar 80 derajat, pengeringan bisa sampai 150. Semua lancar, tidak ada gangguan,” ujarnya, sambil menunjukan tempat mencuci, mengeringkan dan menyetrika dengan mesin pres.

Ia tahu, mesin yang bekerja dengan gas bumi jauh lebih bersih. Tak ada residu karbon yang menempel, tak ada kerak minyak yang menghambat putaran.

Hal senada juga diungkapkan Arviananta, Kepala Mekanik dan Mesin Medis. “Mesin jadi lebih awet, tidak cepat aus. Energinya bersih, tekanannya stabil, hasil cuciannya juga lebih cepat selesai dan efisien.

Danang Dewantoro, operator mesin broiler mengatakan penggunaan gas alam lebih bagus, karena tidak ada polusi. Berbeda dengan penggunaan solar, ketika dinyalakan akan mengeluarkan asap hitam dan bau.
“Asap hitam ini tentunya akan membuat pencemaran udara dan tidak baik untuk kesehatan,” katanya

Penggunaan gas alam jauh lebih praktis dan aman. tak perlu takut kehabisan, karena gas mengalir lancar di pipa-pipa berwarna kuning. Tidak ada rasa ketakutan kehabisan, seperti saat menggunakan solar. Meski sudah menggunakan gas alam, rumah sakit tetap menyediakan solar sebagai cadangan seperti disarankan PGN.

“ Penggunaan gas alam lebih praktis, aman dan nyaman. Udara sekitar menjadi lebih bersih, dan tangan tidak kotor karena solar. Yang penting gas alam mampu mengurangi polusi udara,” katanya.

LEBIH BERSIH – Ruang broiler kini lebih bersih dan tidak ada asap tebal yang mengotori udara, sehingga udara menjadi lebih segar. (tya/redmetrojateng)

Namun, di balik angka dan data teknis, ada hal lain yang lebih dalam. “Kami merasa lebih. tenang sekarang,” katanya pelan.

Langkah Nyata Menuju Rumah Sakit Hijau

Area Head PGN Semarang, Sugianto Eko Cahyono, menyebut RSUP Dr. Kariadi sebagai rumah sakit besar pertama di Jawa Tengah yang sepenuhnya menggunakan gas bumi untuk sistem berbasis panasnya.

“Penyaluran ini sebenarnya dijadwalkan November, tapi kami percepat dua bulan. Kami ingin RS Kariadi menjadi contoh bagi rumah sakit lain dalam menggunakan energi bersih,” ujarnya.

Gas bumi menghasilkan emisi karbon 30–40% lebih rendah dibanding minyak dan batu bara. Selain efisien, ia adalah bagian dari langkah nyata menuju target net zero emission Indonesia.

“PGN ingin mendukung sektor publik, termasuk rumah sakit untuk bertransisi ke energi bersih tanpa mengorbankan operasional,” tambahnya.

PT Perusahaan Gas Negara (PGN) selaku Subholding Gas Pertamina resmi menyalurkan gas bumi ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Kariadi Semarang pada 3 September 2025. Pengaliran perdana (gas in) ini menjadi tonggak penting dalam upaya meningkatkan efisiensi, layanan dan keamanan operasional rumah sakit terbesar di Jawa Tengah.

Pengaliran gas pertama ini dilakukan oleh Area Head PGN Semarang, Sugianto Eko Cahyono bersama Direktur Utama RSUP Dr. Kariadi Semarang, dr. Agus Akhmadi,M.Kes.

Sugianto menambahkan, pasokan gas bumi PGN di Jawa Tengah telah memiliki pipa yang terintegrasi seperti dari Jawa Timur, sehingga pasokan sangat aman dan terjamin ketersediaannya bagi masyarakat, rumah sakit maupun industri lainnya.

ENERGI HIJAU – Kota hijau penghitung jumlah kebutuhan gas alam menunjukan keberhasilan PGN menyalurkan energi hijau di di RSUP Dr Kariadi. (tya/redmetrojateng)

“Saat ini yang terdekat gas bumi ini kami pasok dari Kepodang, di mana volume kebutuhan di RSUP Dr. Kariadi Semarang per bulan mencapai 30.000 –40.000 meter kubik, dan secara pasokan masih sangat cukup dan aman,” jelasnya.

Ia menekankan, gas bumi PGN memiliki sejumlah keunggulan. Dari sisi keamanan, gas bumi PGN lebih aman karena lebih ringan dari udara sehingga bila bocor akan naik ke atas dan menurunkan risiko kebakaran maupun ledakan.

Dari sisi lingkungan, emisi gas bumi 30–40% lebih rendah dibanding minyak maupun batu bara. Sementara dari sisi harga, gas bumi PGN relatif lebih kompetitif sehingga memberikan dampak efisiensi lebih besar.

Direktur Utama RSUP Dr. Kariadi Semarang, dr. Agus Akhmadi,M.Kes, mengatakan, penggunaan gas bumi ini memberi dampak yang signifikan bagi rumah sakit yang memiliki 1.221 kamar, terhadap efisiensi biaya operasional, karena dapat menghemat hingga 58-60%.

“Pengeluaran biaya bahan bakar solar dan LPG sebelumnya bisa mencapai Rp 510 juta per bulan, kini bisa menghemat sekitar Rp290 jutaan. Setahun, penghematan hampir Rp3 miliar yang bisa dialokasikan untuk investasi peralatan medis,” jelasnya.

“Kami sangat berterima kasih dengan dukungan PGN, rumah sakit dapat menjalankan operasional secara lebih efisien, aman, dan berkelanjutan,” pungkasnya

Kini, seluruh sistem panas RS Kariadi, mulai dari sterilisasi alat operasi hingga pengeringan linen pasien, terhubung dengan jaringan gas bumi PGN. Tidak ada lagi jeda produksi karena bahan bakar habis, tidak ada lagi gangguan karena tekanan tidak stabil.

“Yang kami rasakan itu kestabilan, karena stabilitas itu membuat semua orang bisa bekerja lebih baik.” kata Arviananta

Namun perubahan ini bukan hanya tentang efisiensi atau teknologi. Ini adalah cerita tentang manusia, para pekerja yang kini bernapas lebih lega, pasien yang mendapat layanan lebih cepat, dan bumi yang sedikit lebih bersih karena satu institusi besar memilih jalan energi bersih.

Menurut Farokhi hadirnya gas alam PGN, menjadi urat nadi baru rumah sakitnya. Penggunaan gas alam ini sesuai dengan program pemerintah untuk menggunakan energi bersih dalan upaya menekan emisi.

Melihat langsung manfaat gas alam, ke depan RSUP Dr Kariadi berencana menambah jaringan untuk ruang-ruang lainnya. dalam waktu kanton-kantin akan menggunakan gas alam yang lebih murah, aman dan efisien.

“Kami ingin jadi bagian dari energi bersih Indonesia.Kalau RSUP Kariadi bisa berubah, rumah sakit lain pun bisa.” harap  Farokhi. (tya)

Comments are closed.