Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Bioetanol Dinilai Jadi Solusi Strategis, DPR Minta Pemerintah Lakukan Kajian Ilmiah Menyeluruh

METROJATENG.COM, JAKARTA – Wacana pemerintah untuk memanfaatkan bioetanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) dinilai berpotensi besar mendorong transisi energi bersih di Indonesia. Namun, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto, mengingatkan bahwa penerapannya harus berbasis riset ilmiah yang matang agar tidak menimbulkan dampak teknis maupun ekonomi yang merugikan.

“Karena menyangkut hajat hidup orang banyak, pemanfaatan etanol sebagai campuran BBM harus melalui proses yang benar-benar terbukti aman dan efektif. Etanol memiliki sifat kimia khusus, salah satunya bersifat korosif, sehingga harus diuji secara menyeluruh,” ujar Sugeng.

Menurut Sugeng, banyak negara telah sukses memanfaatkan bioetanol sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan. Indonesia pun memiliki potensi besar untuk mengembangkannya, berkat kekayaan sumber daya alam tropis seperti tebu, singkong, dan nira aren. Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada hasil penelitian dan uji coba yang terukur.

“Pemanfaatan bioetanol itu baik, apalagi jika dilihat dari sisi jangka panjang terhadap ekonomi dan lingkungan. Tapi semua harus berbasis kajian ilmiah agar tidak menimbulkan efek teknis yang tidak diinginkan,” tambah politisi Fraksi Partai NasDem tersebut.

Kurangi Ketergantungan Energi Fosil dan Tekan Subsidi

Sugeng menilai pengembangan bioetanol dapat menjadi solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Ia mengungkapkan, konsumsi BBM Indonesia saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara kapasitas produksi dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel per hari.

“Artinya, kita masih mengimpor sekitar satu juta barel per hari. Ini menjadi beban besar bagi APBN karena impor BBM dan subsidi energi terus meningkat setiap tahun,” jelasnya.

Data pemerintah menunjukkan, total subsidi energi, termasuk listrik, solar, dan LPG 3 kilogram  mencapai sekitar Rp308 triliun pada tahun ini. Dengan menerapkan campuran 10 persen bioetanol dalam BBM, Sugeng memperkirakan Indonesia bisa menekan impor bahan bakar sekaligus menghemat devisa negara.

“Kalau 10 persen BBM digantikan dengan bioetanol, impor bisa turun hingga 10 persen. Dampaknya langsung terasa pada penghematan devisa dan pengurangan emisi karbon,” paparnya.

Lebih jauh, Sugeng menilai bahwa Indonesia memiliki modal kuat dalam bentuk bahan baku alami. Selain tebu dan singkong, nira aren disebut sebagai bahan baku yang paling ideal karena kandungan gulanya tinggi serta tidak mengganggu ketahanan pangan.

“Molase dari tebu bisa dimanfaatkan, asalkan diatur agar tidak bersaing dengan kebutuhan gula. Sementara nira aren dan singkong punya potensi luar biasa untuk dikembangkan sebagai sumber bioetanol,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa pengembangan industri bioetanol perlu dirancang dalam skala besar agar efisien dan berkelanjutan. Pemerintah juga didorong untuk memperkuat riset serta inovasi dalam proses produksi, pengolahan, hingga distribusi bahan bakar nabati tersebut.

Sugeng menekankan pentingnya peran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam memperkuat landasan ilmiah program bioetanol. Ia berharap lembaga penelitian nasional dapat menjadi motor dalam pengembangan teknologi dan sosialisasi kepada publik.

“Pemerintah bersama BRIN harus melakukan riset komprehensif dan edukasi publik agar masyarakat memahami manfaat bioetanol, mulai dari penghematan devisa, pengurangan emisi, hingga kemandirian energi nasional,” tegasnya.

Comments are closed.