Hujan Ekstrem Picu Rentetan Bencana, BNPB: Bali Catat 17 Korban Jiwa
METROJATENG.COM, JAKARTA – Rentetan bencana alam kembali melanda sejumlah wilayah di Indonesia hanya dalam dua hari terakhir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sejak 13 hingga 14 September 2025, terjadi 24 kejadian bencana. Delapan di antaranya berdampak signifikan, didominasi banjir dan tanah longsor.
“Dalam dua hari terakhir, kami merangkum ada 24 bencana yang terjadi di berbagai wilayah. Mayoritas berupa banjir dan tanah longsor,” jelas Abdul Muhari, Ph.D., Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.
Di Jakarta, hujan deras sejak Jumat (12/9/2025) membuat Kali Pesanggrahan, Kali Krukut, dan Kali Grogol meluap. Lima kecamatan terdampak—Cilandak, Mampang Prapatan, Pasar Minggu, Pesanggrahan, dan Kramat Jati.
“Tercatat 1.832 jiwa terdampak, 215 sempat mengungsi, dan 688 rumah terendam. Kini banjir sudah surut, warga sudah kembali,” jelas Abdul.
Kondisi serupa terjadi di Semarang, Jawa Tengah. Longsoran pondasi pabrik es pada Rabu (10/9/2025) merusak empat rumah warga dan memaksa 25 orang mengungsi. Meski begitu, tidak ada korban jiwa.
Peristiwa paling mematikan terjadi di Bali. Banjir besar menelan korban hingga 17 orang meninggal dunia, sementara lima masih hilang. “Proses pencarian korban hilang masih dilakukan oleh Basarnas bersama tim gabungan. Presiden juga sudah meninjau langsung penanganan darurat di lokasi,” kata Abdul.
Di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, banjir bandang juga meninggalkan kerusakan parah. Tiga orang belum ditemukan, lima meninggal dunia, dan tiga luka-luka. Sebanyak 93 rumah hanyut tersapu arus, dengan Desa Sawu menjadi titik terparah. “Akses jalan dan komunikasi terputus, ini kendala utama penanganan. Namun saat ini sudah ada dua ruas jalan yang diperbaiki, masih ada tiga titik yang perlu ditangani,” ungkap Abdul.
BNPB mengingatkan, curah hujan berintensitas tinggi masih berpotensi terjadi. “BMKG memprediksi musim hujan datang lebih awal. Karena itu, kami mengimbau pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi basah,” tegas Abdul.
Comments are closed.