Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Kapolri: Polisi Hadir di Aksi Massa untuk Lindungi Demokrasi, Bukan Membatasi

METROJATENG.COM, JAKARTA – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa keberadaan aparat kepolisian dalam setiap aksi demonstrasi bukanlah untuk menghalangi suara rakyat, melainkan menjaga agar kebebasan berpendapat berjalan aman dan tertib.

Pernyataan itu disampaikan Sigit lewat sambutan video dalam dialog publik bertema “Penyampaian Pendapat di Muka Umum: Hak dan Kewajiban, Tindakan Anarkistis Menjadi Tanggung Jawab Hukum” yang digelar di PTIK, Jakarta Selatan.

Dialog ini menghadirkan sejumlah tokoh dengan pandangan beragam, mulai dari akademisi Franz Magnis Suseno, pengamat politik Rocky Gerung, Direktur Amnesty International Usman Hamid, anggota Kompolnas Choriul Anam, hingga perwakilan KontraS Dimas Bagus.

“Polri hadir bukan untuk membatasi, melainkan untuk menjamin kegiatan penyampaian pendapat berjalan aman, tertib, dan tidak mengganggu hak warga negara lainnya,” ujar Sigit.

Menurutnya, kepolisian kini mengedepankan pendekatan pelayanan dan humanis. Demonstran didorong untuk bisa berdialog langsung dengan pihak-pihak terkait, bukan hanya turun ke jalan dengan orasi. “Pendekatan ini menempatkan dialog dan komunikasi sebagai ruang bersama untuk mendengar aspirasi,” jelasnya.

Meski begitu, Sigit tetap mengingatkan adanya potensi penyusupan yang kerap menodai aksi damai. “Beberapa unjuk rasa sering ditumpangi pihak yang ingin membuat kericuhan, hingga berujung anarkis dan menimbulkan korban,” katanya.

Ia memastikan, jika situasi berubah menjadi rawan, Polri akan bertindak sesuai prosedur dengan tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia. “Polri hadir untuk melindungi hak masyarakat luas agar tidak terganggu. Kami memiliki SOP jelas dalam penanganan aksi massa,” tegas Sigit.

Melalui forum ini, Kapolri berharap lahir pemikiran-pemikiran konstruktif untuk meningkatkan profesionalisme aparat sekaligus memperkuat ruang demokrasi. “Diskusi seperti ini penting agar suara kritis masyarakat tetap hidup sebagai alat kontrol, sementara Polri bisa lebih adaptif menjaga stabilitas keamanan,” tutupnya.

Comments are closed.