Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Siswa SMPN 1 Kragan yang Dirawat Tersisa 3 Orang, Pemkab Rembang Tegaskan SOP MBG

METROJATENG.COM, REMBANG – Kabar menggembirakan datang dari para siswa SMP Negeri 1 Kragan yang sempat mengalami keracunan massal. Hingga Jumat pagi (26/9/2025), jumlah siswa yang masih menjalani perawatan di puskesmas semakin menyusut, tinggal tiga orang.

Kepala SMPN 1 Kragan, Dahlan Slamet, menyebutkan mayoritas siswa sudah pulih. Lima siswa yang sebelumnya dirawat di Puskesmas Kragan 1 seluruhnya dipulangkan. Dari enam siswa yang dirawat di Puskesmas Kragan 2, kini hanya tersisa dua orang. Sementara satu dari dua pasien di Puskesmas Sarang 2 juga sudah pulang.

“Alhamdulillah, anak-anak sudah berangsur sehat. Kini hanya tinggal tiga siswa yang masih dirawat,” ujarnya.

Kepala Puskesmas Sarang 1, dr. Joko Paryanto, menambahkan bahwa kondisi para pasien yang tersisa juga terus membaik. Salah satunya, siswa asal Desa Kebloran yang sempat mengeluhkan diare sejak Rabu sore, kini sudah pulih dan diperbolehkan pulang. Sedangkan satu siswa lain dari desa yang sama masih dirawat karena nyeri perut, meski kondisinya semakin stabil.

“Keluhan sudah jauh berkurang, makan minumnya bagus. Hanya butuh sedikit waktu lagi untuk benar-benar pulih,” kata dr. Joko.

Teguran Wabup: MBG Harus Dikelola Serius

Meski situasi mulai terkendali, Wakil Bupati Rembang, M Hanies Cholil Barro’, menegaskan kasus ini harus menjadi pelajaran. Ia menekankan pentingnya disiplin dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Pengelolaan MBG tidak boleh main-main, ini uang rakyat. Masak dan distribusi harus sesuai kebutuhan sekolah. Jangan sampai ada makanan basi hanya karena waktunya tidak tepat,” tegasnya.

Gus Hanies juga mengingatkan agar tidak ada siswa maupun guru yang membawa pulang sisa makanan. Menurutnya, hal itu bisa menghambat evaluasi jika ada masalah dalam menu maupun pengolahan.

“Kalau dibawa pulang, kita tidak tahu apakah ada siswa yang alergi, atau mungkin ada kesalahan masak. Itu semua harus jadi catatan bagi SPPG,” imbuhnya.

Kepala SPPG Kemadu, Andik Setiawan, yang melayani 12 sekolah dengan total 2.073 siswa, mengaku sudah melakukan penyesuaian. Menu kini diatur berdasarkan tingkat kelas, sementara jadwal memasak juga disesuaikan dengan jam makan.

“Untuk kelas bawah, kita dahulukan. Kalau pengiriman siang, proses masak kita mundurkan agar makanan tetap segar,” jelas Andik.

Dengan semakin banyak siswa yang pulih dan adanya evaluasi ketat dari pemerintah daerah, diharapkan kasus serupa tidak lagi terulang. Program MBG di Kabupaten Rembang pun dituntut berjalan lebih aman, sehat, dan tepat sasaran.

Comments are closed.