Jelang Hari Pariwisata Dunia 2025, Kemenpar Tekankan Pentingnya Transformasi Berkelanjutan
METROJATENG.COM, JAKARTA – Setiap tanggal 27 September, dunia memperingati Hari Pariwisata Dunia sebagai momentum untuk menyadarkan masyarakat internasional tentang pentingnya pariwisata dalam aspek sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Tahun 2025 mengangkat tema “Pariwisata dan Transformasi Berkelanjutan”, yang menggarisbawahi pariwisata tidak hanya sebagai mesin pertumbuhan ekonomi, melainkan sebagai medium pembangunan adil, pelestarian budaya dan warisan, perlindungan flora dan fauna, kelestarian lingkungan, serta ketahanan masyarakat.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan bahwa tema ini sangat relevan dengan arah pembangunan pariwisata nasional. “Pariwisata bukan hanya soal angka kunjungan atau devisa,” ujar Widiyanti dalam keterangan tertulisnya, “tetapi juga tentang bagaimana kita membangun secara inklusif dan berkelanjutan, memastikan manfaatnya dirasakan merata, sambil menjaga keaslian budaya dan lingkungan.”
Secara global, data dari UNWTO menunjukkan bahwa jumlah wisatawan internasional pada tahun 2024 mencapai sekitar 1,4 miliar, naik 115% dibandingkan tahun 2023. Wilayah Asia Pasifik menunjukkan pertumbuhan 87 persen dibanding era pra-pandemi, menandakan kebangkitan yang kuat di sektor pariwisata.
Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa kunjungan wisatawan mancanegara selama periode Januari–Juni 2025 mencapai 7,05 juta, meningkat 9,44% dari tahun sebelumnya. Wisatawan nusantara juga mengalami lonjakan besar: total perjalanan mencapai 105,12 juta, naik 25,93% year-on-year.
Untuk menyambut Hari Pariwisata Dunia, sejumlah kegiatan telah disiapkan oleh Kementerian Pariwisata, termasuk Politeknik Pariwisata dan Badan Otorita. Salah satu contoh konkret di Makassar, Poltekpar Makassar akan menginisiasi Gerakan Wisata Bersih, melibatkan civitas akademika dan pelaku usaha pariwisata dalam menjaga kebersihan destinasi wisata.
Widiyanti menekankan bahwa kebersihan dan kesehatan lingkungan destinasi adalah aspek krusial dalam daya saing pariwisata Indonesia. “Laporan Travel and Tourism Development Index menunjukkan bahwa skor kita dalam aspek health and hygiene adalah 3,78, masih di bawah rata-rata Asia Pasifik sebesar 4,53,” katanya. “Melalui komitmen nyata seperti Gerakan Wisata Bersih, kita bisa memperbaiki reputasi, kenyamanan wisatawan, dan akhirnya meningkatkan skor kita.”
Pemerintah optimistis bahwa melalui transformasi yang berkelanjutan, pariwisata Indonesia tidak hanya akan tumbuh dari sisi kuantitas tetapi juga kualitas, memperkuat ekosistem lokal, melindungi warisan alam dan budaya, serta mendorong kesejahteraan masyarakat yang lebih merata.
Comments are closed.