Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Dari Desa ke Negeri Sakura: Kisah Bagas Duta Respatty, Mahasiswa Unsoed yang Tembus Karier di Jepang

METROJATENG.COM, PURWOKERTO – Siapa sangka, anak seorang petani dan pegawai negeri sipil dari desa kecil di Purbalingga kini melangkah jauh hingga Negeri Sakura. Dialah Bagas Duta Respatty (23), mahasiswa Teknik Elektro Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), yang baru saja meraih kesuksesan setelah menyelesaikan program Magang MBKM di Jepang.

Tak main-main, Bagas magang di bidang energi terbarukan, mulai dari Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) hingga solar panel. Berbekal kerja keras dan ketekunan, perusahaan tempatnya magang akhirnya resmi merekrut Bagas sebagai karyawan tetap di Jepang setelah program berakhir pada Juli 2025.

“Rasanya semua perjuangan tidak sia-sia. Tantangan bahasa, kerja lapangan, hingga adaptasi budaya akhirnya terbayar dengan kesempatan melanjutkan karier di sini,” ujar Bagas penuh rasa syukur.

Selama hampir setahun, Bagas mengaku tantangan terbesarnya adalah soal bahasa. Istilah teknis di lapangan sangat berbeda dengan percakapan sehari-hari. Namun justru di situlah ia belajar arti pantang menyerah. “Kanji dan istilah teknis itu sulit, tapi kalau terus berusaha lama-lama jadi terbiasa. Yang penting jangan patah semangat,” katanya, memberi motivasi kepada juniornya di Unsoed.

Bukan hanya soal kerja, pengalaman hidup Bagas di Jepang pun meninggalkan kesan mendalam. Ia bercerita tentang senior asal Indonesia yang selalu memberi semangat, hingga rekan kerja Jepang yang ramah dan suportif. “Walaupun usia kami terpaut 10 tahun, beliau tetap membimbing dengan hangat. Itu pengalaman yang tidak akan terlupakan,” kenangnya.

Keberhasilan Bagas ini tak hanya membuka jalan karier internasional baginya, tapi juga jadi bukti nyata bahwa mahasiswa daerah mampu bersaing di level global. Ia bahkan bisa menyelesaikan Tugas Akhir melalui program MBKM, sehingga sepulang ke tanah air hanya perlu menjalani sidang pendadaran.

Bagas pun berpesan, kesempatan seperti ini terbuka lebar bagi mahasiswa lain. “Kuncinya serius, tekun, dan jangan takut kalau belum bisa. Di Jepang ada pelatihan, jadi yang terpenting adalah menguasai bahasa,” tegasnya.

Kini, perjalanan Bagas dari Purbalingga hingga ke Jepang menjadi kisah inspiratif bahwa kerja keras dan keberanian mengambil peluang bisa membawa mahasiswa Indonesia bersaing di panggung dunia.

Comments are closed.