Menjaga Warisan Pangan Jawa Lewat Kios Umbi, Berkah Kimpul Hadirkan “Harta Karun” di Muntilan
METROJATENG.COM, MAGELANG – Di tengah gempuran makanan instan dan sistem pangan modern, sebuah kios kecil di Dusun Wonosari, Desa Gunungpring, justru menyalakan kembali semangat lama, kembali ke bumi. Nama kios itu Berkah Kimpul, tempat yang tidak hanya menjual makanan, tetapi juga menghidupkan kembali filosofi ketahanan pangan ala Jawa yaitu polo kependem.
Dalam tradisi Jawa, masyarakat mengenal tiga jenis sumber pangan utama berdasarkan cara tumbuhnya, polo gumantung (buah yang menggantung), polo kesampar (tanaman menjalar), dan polo kependem (umbi-umbian yang tersembunyi di dalam tanah). Tiga serangkai ini bukan sekadar klasifikasi, tapi simbol dari kearifan lokal yang menjamin ketahanan pangan sepanjang musim.
Di musim kemarau, saat tanaman menjalar mulai layu dan buah-buahan tak lagi berbuah, orang Jawa menggantungkan hidup pada polo kependem—sumber pangan cadangan yang tumbuh diam-diam di bawah tanah. Filosofinya jelas: diam, sabar, namun menyelamatkan.
Rohman Al Fauzi dan adiknya menangkap filosofi itu sebagai peluang sekaligus panggilan. Sekitar dua bulan lalu, mereka membuka Kios Berkah Kimpul, tempat di mana aneka umbi-umbian bisa ditemukan dalam satu tempat.
“Kami ingin punya kios yang beda. One stop shopping khusus untuk umbi-umbian,” tuturnya.
Bukan hanya ubi dan singkong, mereka bahkan menyediakan umbi langka seperti suweg dan uwi ungu, jenis yang sudah jarang ditemukan di pasar tradisional. Dalam sehari, omzet kios bisa mencapai Rp300.000, dan melonjak hingga Rp800.000 saat akhir pekan atau hari libur.
Menghidupkan Kembali Umbi-Umbian yang Terlupakan
Berkah Kimpul tidak hanya menjual bahan pangan, tapi juga “kenangan” dan “harapan”. Jenis umbi yang tersedia mencakup talas Bogor, ubi ungu, gembili kentang, hingga gembili teropong yang dipercaya mampu meredakan gejala asam lambung karena tinggi kandungan serat dan insulin alami.
“Gembili itu cuma bisa dipanen sekali setahun. Jadi pasokan terbatas, apalagi setelah masa panen lewat,” ujar Rohman.
Sebagian besar barang dagangan mereka berasal dari Wonogiri, daerah yang dikenal sebagai “Kota Gaplek”. Tak heran, karena tanah di sana subur untuk budidaya umbi seperti singkong, porang, hingga talas. Beberapa pembeli datang langsung, tapi sebagian besar lainnya adalah reseller dari Borobudur hingga Yogyakarta.
Pelanggan utama Berkah Kimpul umumnya adalah lansia atau keluarga yang mulai beralih dari nasi. Selain karena tren hidup sehat, alasan utama mereka adalah kandungan gula nasi yang relatif tinggi.
Talas Bogor, misalnya, mengandung pati dan gula dalam kadar yang jauh lebih rendah dibanding nasi, serta memiliki indeks glikemik rendah. Artinya, umbi ini bisa jadi alternatif ideal bagi penderita diabetes atau mereka yang ingin menjaga berat badan.
“Banyak pelanggan datang karena alasan kesehatan. Mereka ganti nasi dengan umbi-umbian, karena kenyangnya lebih awet dan gula darah lebih stabil,” tambah Rohman.
Comments are closed.