Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Srikandi Pangan, Jurus Pemkot Semarang Lawan Beras Oplosan dari Dapur Keluarga

METROJATENG.COM, SEMARANG – Pemkot Semarang mempunya strategi unik untuk melawan peredaran beras oplosan, yaitu dengan memberdayakan para ibu rumah tangga, remaja, hingga bapak-bapak lewat gerakan Srikandi Pangan. Program yang sempat meredup ini kembali dihidupkan dengan misi besar, membangun ketahanan pangan dari dapur keluarga.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Endang Sarwiningsih, mengatakan bahwa gerakan ini bukan sekadar program formalitas, melainkan bentuk kolaborasi nyata lintas komunitas. Tidak hanya PKK, tapi juga melibatkan Dinas Pendidikan, karang taruna, bahkan komunitas pria di lingkungan RT dan RW.

“Dulu program ini sudah ada, tapi belum maksimal. Sekarang, kita gerakkan lagi lebih serius, lebih luas,” ujarnya.

Gerakan Srikandi Pangan berdiri di atas empat pilar utama, yaitu ketersediaan, distribusi, pemanfaatan, dan stabilisasi pangan. Dengan prinsip sederhana, jika keluarga mampu mencukupi pangan sendiri, maka satu wilayah bisa lebih tangguh menghadapi fluktuasi harga dan isu pangan seperti beras oplosan.

Masyarakat didorong untuk memanfaatkan lahan sempit di rumah dengan urban farming dan menanam sayuran seperti cabai, bayam, atau tomat dalam polybag. Selain menghemat pengeluaran, hasil panen bisa dijual melalui kios pangan warga yang dikelola di lingkungan masing-masing.

“Kalau panennya banyak, bisa dijual kembali dengan harga terjangkau. Ini membantu ekonomi warga dan menjaga sirkulasi pangan sehat,” kata Endang.

Tak hanya soal menanam, program ini juga menyentuh pengelolaan sampah organik rumah tangga. Sekitar 68 persen sampah di Kota Semarang bersumber dari dapur dan itu berpotensi diolah menjadi kompos, pupuk maggot, atau kebutuhan pertanian lain yang lebih ramah lingkungan.

Menariknya, Srikandi Pangan juga mengedukasi warga untuk mengurangi pemborosan makanan. Endang memberi contoh kreatif, seperti mengolah sisa nasi hajatan menjadi empek-empek atau bubur talam yang bisa dijual kembali.

“Kalau kita tanam dan panen sendiri, kita tahu kualitasnya. Tidak pakai pestisida, lebih sehat, lebih hemat. Dan itu bagian dari stabilisasi pangan keluarga,” tutupnya.

Dengan semangat gotong royong dan pendekatan dari akar rumput, Semarang berupaya membangun benteng pangan mulai dari rumah. Srikandi Pangan menjadi simbol bahwa kedaulatan pangan bukan hanya urusan pemerintah, tapi juga kekuatan ibu-ibu, pemuda, dan komunitas.

Comments are closed.