Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Panggung Dunia untuk Para Hafiz Tunanetra, Indonesia Jadi Tuan Rumah MTQ Internasional

Pendaftaran Dibuka Hingga 31 Juli 2025

METROJATENG.COM, JAKARTA – Untuk pertama kalinya, Indonesia akan menjadi tuan rumah ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Internasional khusus penyandang disabilitas netra. Kompetisi yang membuka peluang tampil di panggung dunia ini resmi membuka pendaftaran hingga 31 Juli 2025.

Gelaran ini digagas oleh Kementerian Agama (Kemenag) bekerja sama dengan Liga Muslim Dunia dan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Nasional. Uniknya, seluruh peserta adalah penghafal Al-Qur’an tunanetra dari berbagai penjuru dunia.

Dirjen Bimas Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa ajang ini bukan sekadar lomba, melainkan bentuk nyata penghormatan terhadap para hafiz penyandang disabilitas.

“Kami ingin memberi ruang seluas-luasnya bagi sahabat-sahabat tunanetra untuk menunjukkan kecintaan dan kemampuan mereka dalam menghafal Al-Qur’an. Ini adalah bentuk dakwah inklusif sekaligus pengakuan atas kontribusi mereka dalam kehidupan umat,” katanya.

Lima Cabang Lomba Sesuai Usia dan Hafalan

Kompetisi ini terbagi menjadi lima cabang, yang disesuaikan dengan usia dan tingkat hafalan peserta:

  1. Hafalan 30 juz + Nadhom Al-Muqaddimah Al-Jazariyyah (maks. usia 25 tahun)

  2. Hafalan 30 juz (maks. usia 25 tahun)

  3. Hafalan 20 juz (maks. usia 18 tahun)

  4. Hafalan 10 juz (maks. usia 12 tahun)

  5. Hafalan 5 juz (maks. usia 10 tahun)

Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, menjelaskan bahwa proses seleksi akan dilakukan secara online menggunakan platform Zoom, demi menjangkau peserta dari berbagai negara tanpa kendala lokasi.

“Kami pastikan proses seleksi berlangsung adil dan transparan. Teknologi memungkinkan semua peserta berpartisipasi setara, di mana pun mereka berada,” ujarnya.

Peserta diwajibkan mengunggah dokumen berikut saat mendaftar:

  • Akta kelahiran atau KTP

  • Foto paspor

  • Sertifikat hafalan

  • Video murottal berdurasi maksimal 5 menit

  • Surat rekomendasi dan sertifikat lisensi Al-Qur’an (jika ada)

Ajang ini diharapkan bukan hanya mencetak juara, tetapi juga menjadi panggung apresiasi global bagi para hafiz tunanetra, serta simbol komitmen Islam terhadap kesetaraan dan inklusivitas.

Comments are closed.