Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

“Kemelut di Tanah Leluhur”, Potret Pedih Perjuangan Petani Melawan Raksasa Korporasi

METROJATENG.COM, PURWOKERTO – Ketika ladang-ladang subur di Banyupadi berubah menjadi hamparan kebun karet milik korporasi raksasa PT Rumpun Satu Inti Kuat (SIK), seorang petani muda bernama Karsim bangkit melawan. Ia tidak hanya mewarisi tanah dan kemiskinan dari leluhurnya, tetapi juga dendam yang membara terhadap ketidakadilan.

Dalam novel Kemelut di Tanah Leluhur, Barid Hardiyanto menghadirkan sebuah kisah yang menggugah nurani, tentang keberanian, pengkhianatan, dan harga diri. Karsim bersama rekan seperjuangannya, Jalendra, serta para tetua desa membentuk Serikat Tani Juang (SeTANG), sebuah organisasi akar rumput yang nekat merebut kembali hak atas tanah mereka, dimulai dari aksi menggarap lahan tidur perusahaan hingga memperjuangkannya ke meja DPRD.

Namun, idealisme tak selalu berjalan seiring dengan kenyataan. Ketika pemerintah menjanjikan program redistribusi tanah, harapan muncul, hanya untuk dihancurkan oleh satu syarat kejam, yaitu petani harus membayar kompensasi kepada perusahaan. Perjuangan rakyat kecil pun menghadapi jebakan utang yang tak mungkin ditebus.

Konflik makin pelik ketika Pak Lurah, tokoh desa yang licik, tampil sebagai penengah palsu. Ia membujuk warga untuk menyerah pada kesepakatan yang justru menguntungkan elite. Akibatnya, gerakan pecah, persahabatan hancur, dan idealisme perlahan padam.

Di akhir cerita, para petani memang mendapatkan sertifikat tanah. Namun lahan yang diperoleh kecil, tidak produktif, dan dibebani utang. Banyak yang akhirnya menjual kembali tanah itu. Cipari tetap miskin. Tapi Karsim, yang kini berdiri di atas tanah sempitnya, menyadari satu hal, ia mungkin gagal menang, tapi ia telah mewariskan harga diri pada anaknya bahwa tanah ini, sekecil apa pun, adalah hak yang diperjuangkan, bukan diberi.

Selengkapnya, novel Kemelut di Tanah Leluhur dapat dinikmati secara lengkap dalam format e-book melalui tautan https://lynk.id/sastraaiakademik/wj566wn00klx/checkout

Sekilas Tentang Penulis

Barid Hardiyanto lahir di Kendari, 25 Juni 1978. Ia adalah sosok multidimensi: aktivis, akademisi, politisi, entrepreneur, sekaligus pelaku dunia hiburan. Kiprahnya dalam pemberdayaan masyarakat tercermin jelas dalam karya-karyanya.

Sebagai mahasiswa, Barid turut terlibat dalam gerakan reformasi 1998 yang berhasil menggulingkan rezim Orde Baru. Aktivisme yang ia jalani sejak muda membentuk pandangan kritis dan idealismenya, yang kini terus ia suarakan melalui karya tulis dan gerakan sosial.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya di Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Barid melanjutkan studi magister (S2) di bidang Ilmu Administrasi (Unsoed) dan kemudian meraih gelar doktor (S3) di bidang Ilmu Administrasi Publik dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Saat ini, Barid aktif di Lembaga Penelitian Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH) serta mengajar di UIN Prof. Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Ia juga menjabat sebagai Ketua Umum IKAFU (Ikatan Alumni FISIP Unsoed) periode 2021–2025.

Comments are closed.