Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

PSM 50 Tahun: Dari Relawan Senyap Jadi Pilar Bangkitnya Masyarakat Indonesia

METROJATENG.COM, KULON PROGO – Semangat pengabdian tanpa pamrih mewarnai peringatan 50 tahun lahirnya Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), yang berlangsung meriah dan penuh makna di Kelurahan Kembang, Nanggulan, Kulon Progo, DIY. Lebih dari 1.100 PSM dari seluruh penjuru Tanah Air berkumpul dalam momen langka ini—bukan sekadar merayakan, tapi membuktikan bahwa pengabdian tak harus dibayar untuk memberi dampak besar.

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, menekankan pentingnya peran PSM sebagai motor perubahan sosial. “PSM ini luar biasa. Mereka relawan, tapi bukan sembarang relawan. Mereka pelopor kebangkitan masyarakat,” ujar Agus, yang disambut antusiasme peserta dari berbagai daerah.

Peringatan emas ini juga diisi dengan aksi nyata. Salah satunya, kerja bakti membersihkan 850 meter saluran irigasi yang kritis akibat sedimentasi dan sampah. Lebih dari 500 peserta, termasuk PSM, TKSK, SDM PKH, dan warga, turun langsung ke lapangan demi meningkatkan kualitas air irigasi yang krusial bagi pertanian dan perikanan lokal.

Semangat pemberdayaan juga digaungkan lewat pelatihan ekonomi produktif. Bersama Yayasan Kumala dan Pargono Murakabi, Kemensos memfasilitasi pelatihan inovatif: dari kerajinan pelepah pisang, budidaya keramba ikan, hingga pengembangan kelompok wanita tani tanaman hias. Sebanyak 100 warga mendapat bekal keterampilan yang diharapkan menjadi titik awal kemandirian ekonomi berbasis komunitas.

Melayani, Menjangkau, Mengubah

Peringatan ini juga menjadi momentum kepedulian terhadap kelompok rentan. Sunatan massal, donor darah, layanan kesehatan ibu-anak, bantuan kaki palsu, hingga pemberian bibit buah menjadi bagian dari semangat PSM yang bukan hanya mendampingi secara administratif, tapi benar-benar hadir di tengah masyarakat.

Salah satu momen yang menyentuh adalah kunjungan Wamensos ke Kelompok Disabilitas Kelurahan (KDK). Di sana, ia menyaksikan bagaimana para penyandang disabilitas bertransformasi dari penerima bantuan menjadi insan produktif. Seperti Yusniani, yang menyampaikan rasa syukurnya atas perhatian dan pelatihan yang ia dan rekan-rekannya terima. “Kami tidak hanya dibantu, tapi diberdayakan,” ungkapnya penuh haru.

Kisah inspiratif lainnya datang dari Tustiyanti, seorang PSM senior sejak 1991. Ia bercerita bagaimana PSM menjembatani masyarakat rentan dengan berbagai program pemerintah. “Kami bukan siapa-siapa, tapi kami terus berupaya menjadi penggerak di balik layar,” ucapnya.

Perjalanan yang Tak Pernah Redup

Lahir pada 1975, PSM telah menjadi ujung tombak pelayanan sosial di desa-desa dan kelurahan. Tanpa bayaran, mereka hadir untuk membantu pemerintah menjangkau warga yang paling membutuhkan. Kini, 50 tahun kemudian, keberadaan PSM tak hanya tetap relevan, mereka menjadi kunci dari sistem kesejahteraan sosial nasional yang inklusif dan berkeadilan.

Puncak peringatan ini juga menjadi ajang Silaturahmi Nasional PSM, menghubungkan semangat pengabdian lintas generasi dan daerah. “Ini bukan akhir. Ini awal dari kebangkitan sosial baru,” tegas Agus Jabo di akhir sambutannya. “Tiada hari tanpa pengabdian. Mari terus bergerak, karena di situlah kekuatan bangsa ini dibangun.”

Comments are closed.