Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Tiwul Lava Merapi, Cita Rasa Tradisi Melebur dalam Inovasi dari Lereng Borobudur

METROJATENG.COM, MAGELANG – Siapa sangka makanan sederhana dari masa lalu kini menjelma menjadi kuliner kekinian yang menggoda lidah? Di lereng Borobudur, Kabupaten Magelang, sepasang suami istri berhasil menyulap tiwul, makanan khas berbahan dasar gaplek, menjadi sajian modern yang penuh daya tarik. Mereka adalah Mura Aristina dan Linda Purwaningsih, pasangan kreatif dari Dusun Bumen, Desa Kembanglimus.

Tiwul yang mereka racik tak lagi sekadar pengganti nasi bagi masyarakat Jawa masa lampau. Kini, kudapan ini hadir dalam rupa Tiwul Lava Merapi, lengkap dengan topping meleleh yang menggoda selera, mulai dari gula Jawa dan aren, hingga varian kekinian seperti cokelat, keju, pisang, kopi, dan milo.

“Orang tua biasanya suka yang klasik, seperti gula Jawa. Tapi anak muda butuh sesuatu yang berbeda. Maka kami tambahkan sentuhan keju, cokelat, hingga kombinasi pisang,” ungkap Mura.

Proses pembuatannya pun masih setia pada cara tradisional: tepung gaplek dicampur kelapa parut dan gula Jawa, kemudian dikukus dalam kukusan bambu di atas ceret air mendidih. Setelah matang, topping disiramkan hingga lumer, menyerupai lava panas yang mengalir dari kubah Gunung Merapi.

Justru dari visual menggoda itulah nama “Tiwul Lava Merapi” lahir, usulan dari para pelanggan yang terkesima saat melihat juruh (saus gula Jawa) meleleh dari puncak tumpeng tiwul.

Inovasi di Masa Sulit

Usaha tiwul ini sendiri bermula dari masa sulit, saat pandemi Covid-19 yang melumpuhkan sektor pariwisata. Sebagai staf Balai Konservasi Candi Borobudur, Mura dan istrinya terdorong menciptakan peluang baru. Dari keterpurukan, lahirlah harapan dalam bentuk camilan manis yang penuh rasa dan makna.

Agar tetap semangat, Mura tak kehabisan akal. Ia kerap membuat ‘strategi pemasaran kreatif’, termasuk mengundang public figure untuk mencoba tiwulnya, bahkan kalau perlu dengan sedikit bumbu kisah fiktif agar sang istri tetap termotivasi.

“Saya bilang ada pesanan dari tokoh publik, padahal belum tentu ada. Tapi dari situ kami bisa ambil foto, dan ternyata itu cukup meyakinkan konsumen,” kenangnya.

Harga yang ditawarkan pun ramah kantong,  mulai dari Rp25.000 hingga Rp28.000 tergantung topping yang dipilih. Sebuah harga yang sepadan dengan cita rasa legit dan pengalaman nostalgia yang disuguhkan dalam tiap gigitan.

Di tengah geliat industri kuliner modern, Tiwul Lava Merapi membuktikan bahwa rasa tradisi tetap bisa bersaing, asal diolah dengan cinta, kreativitas, dan semangat pantang menyerah.

Comments are closed.