Dinpertan KP Banyumas Dorong Produksi Kelapa Genjah, Solusi Cerdas Atasi Krisis Kelapa
BERITA ADVETORIAL
METROJATENG.COM, PURWOKERTO – Awal tahun 2025 ini, masyarakat Kabupaten Banyumas dihadapkan pada fenomena naiknya harga kelapa yang cukup signifikan. Harga kelapa tua kini tembus hingga Rp 20.000 per butir, jauh di atas harga normal yang biasanya hanya berkisar Rp 9.000 per butir. Kondisi ini tentu saja menjadi perhatian serius, baik dari sisi petani, pelaku usaha kuliner, hingga masyarakat umum sebagai konsumen.
Namun di balik tantangan tersebut, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dinpertan KP) Kabupaten Banyumas bergerak cepat dan inovatif. Sebuah solusi jangka panjang tengah disiapkan dengan menghadirkan kelapa genjah, jenis kelapa unggul yang dinilai lebih efisien dan produktif.
Kepala Bidang Perkebunan dan Perlindungan Tanaman Dinpertan KP Banyumas, Yusuf Khanafi, SP, menjelaskan bahwa penurunan produksi kelapa mulai terasa sejak Februari 2025. Padahal, tren sebelumnya menunjukkan peningkatan produksi dari tahun ke tahun.
Ada beberapa faktor yang memicu penurunan ini, di antaranya:
-
Usia pohon kelapa yang sudah tua, sehingga tidak lagi produktif.
-
Banyak petani yang beralih ke usaha penderesan, karena hasil dari produksi nira untuk gula semut dinilai lebih menguntungkan.
-
Terjadi pencurian daun kelapa muda, yang berdampak langsung pada produktivitas pohon kelapa.
“Fenomena ini memang cukup kompleks. Dari sisi ekonomi, petani tentu memilih jalur yang lebih menguntungkan. Namun hal ini berdampak pada menurunnya pasokan buah kelapa ke pasar,” jelas Yusuf.
Tingginya harga kelapa tua yang mencapai Rp 20.000 per butir ini mulai terasa sejak satu bulan menjelang bulan puasa, dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan hingga saat ini. Hal ini tentu berdampak luas, terutama bagi pelaku industri makanan, UMKM, dan rumah tangga.
Selain itu, pencurian daun kelapa muda yang marak di beberapa daerah seperti Ajibarang dan Gumelar turut memperparah situasi. Daun muda tersebut diketahui dijual ke Bali untuk keperluan sesaji, sementara para petani sendiri enggan menjual karena dampaknya bisa mematikan pertumbuhan pohon kelapa.
“Beberapa petani sudah melaporkan kasus pencurian ini kepada pihak berwajib. Daun kelapa muda memang tidak sebanding nilai jualnya dengan dampak negatif yang ditimbulkan pada produksi buah,” lanjut Yusuf.

Kelapa Genjah Jadi Solusi
Menghadapi berbagai tantangan ini, Dinpertan KP Banyumas tidak tinggal diam. Berbekal arahan langsung dari Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, mereka mulai menggalakkan penanaman kelapa genjah, sebagai solusi strategis jangka panjang. Jenis kelapa ini berbuah lebih cepat, dibandingkan kelapa biasa dan pohon lebih pendek, sehingga memudahkan perawatan dan pemanenan.
“Saat ini jumlah pohon kelapa genjah di Banyumas masih sekitar 10.000 pohon. Ke depan, kami akan mempercepat program peremajaan pohon kelapa tua dengan kelapa genjah agar ketersediaan kelapa tetap terjaga,” ujar Yusuf optimistis.
Program pengembangan kelapa genjah bukan sekadar solusi teknis, tetapi juga bagian dari komitmen Dinpertan KP Banyumas untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasar dan kesejahteraan petani. Dengan adanya kelapa genjah, diharapkan petani tetap bisa mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Dinpertan KP Banyumas juga aktif dalam pendampingan dan edukasi kepada petani, agar memahami pentingnya menjaga siklus produksi kelapa, sekaligus menawarkan alternatif budidaya yang lebih menguntungkan dan berkelanjutan.
Comments are closed.