Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Borobudur Tak Hanya Candi, Tapi Napas Kehidupan

METROJATENG.COM, MAGELANG – Di bawah bayang-bayang megah Candi Borobudur, sebuah perayaan intelektual dan spiritual berlangsung. Kamis (24/4/2025), gedung Co-Working Space BRIN Muhilal di Kecamatan Borobudur menjadi saksi peluncuran buku “Borobudur Dalam Seribu Tradisi”, karya terbaru budayawan otodidak nan karismatik, Sucoro. Acara ini sekaligus menjadi panggung diskusi lintas pemikiran dalam forum bertajuk “Sekolah Kehidupan Borobudur”.

Dihadiri secara daring oleh para akademisi, seniman, tokoh masyarakat, dan pemerhati budaya, diskusi ini mengangkat tema Literasi Seni Tradisi dan Relief Borobudur: Sumber Inspirasi Karya Seni Pertunjukan. Borobudur bukan lagi sekadar monumen, tetapi cermin kehidupan dan sumber inspirasi tanpa batas.

Bupati Magelang Grengseng Pamudji mengaku terkesan dengan dedikasi Sucoro. “Karya ini adalah wujud dari ketekunan dan cinta yang dalam terhadap tradisi. Borobudur tidak harus dimaknai oleh akademisi saja. Semua orang bisa memberi tafsir, dari mana pun latar belakangnya,” ujar Grengseng.

Menurutnya, buku ke-11 Sucoro bukan hanya hasil refleksi, tetapi juga sumbangan penting bagi peradaban budaya. “Ini adalah monumen sejarah dalam bentuk tulisan,” tambahnya.

Tak hanya pejabat, kalangan peneliti pun angkat bicara. Novita Siswayanti dari Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN mengapresiasi perjalanan hidup Sucoro yang inspiratif. Dulu hanya seorang loper koran, kini menjadi pengarsip kebudayaan. “Borobudur itu kaya, dan lewat buku ini, kekayaan itu seolah memancar ke seluruh Magelang,” ujarnya.

Pandangan menarik juga disampaikan Hari Setyawan, arkeolog dari Museum dan Cagar Budaya Borobudur. Ia menyamakan Borobudur dengan “hardisk eksternal raksasa dunia” yang menyimpan memori kolektif umat manusia. “Apa yang dilakukan Sucoro—menghidupkan seni budaya di masyarakat—sejatinya telah tertulis dalam relief-relief Candi itu sejak abad ke-8,” katanya.

Namun, di balik romantika budaya, ada pula kegelisahan. Sucoro menyoroti bagaimana industri pariwisata kerap melupakan esensi pelestarian. Ia menggambarkan Candi Borobudur sebagai prasasti sosial yang semestinya dijaga dengan nilai spiritualitas, bukan hanya dijual secara komersial.

“Lewat buku ini, saya ingin mengingatkan: budaya bukan hanya warisan, tapi juga peringatan. Kita harus melestarikannya dengan hati,” ungkap Sucoro dalam penutupan diskusi.

Buku “Borobudur Dalam Seribu Tradisi” pun kini tak hanya menjadi koleksi budaya, tapi juga lentera bagi siapa pun yang ingin menelusuri jejak kearifan lokal dan spiritualitas leluhur di balik batu-batu Borobudur.

Comments are closed.