Panen Raya di Magelang, Harga Gabah Naik, Beras Tetap Stabil
METROJATENG.COM, MAGELANG – Memasuki musim panen awal tahun ini, para petani di Kabupaten Magelang mendapat angin segar. Harga gabah mulai merangkak naik hingga menembus angka Rp 7.000 per kilogram, sementara harga beras di pasaran justru tetap stabil. Kondisi ini dinilai menguntungkan bagi para petani yang baru saja melewati masa tanam yang penuh tantangan akibat cuaca ekstrem dan serangan hama.
Darmaji, seorang pengusaha penggilingan padi di wilayah tersebut, menyebutkan bahwa harga gabah mengalami kenaikan sekitar Rp 1.500 per kilogram dibandingkan beberapa pekan sebelumnya. “Ini dipengaruhi oleh cuaca dan juga karena belum semua wilayah panen. Banyak petani juga menahan gabahnya selama masa Lebaran dan Syawal,” ungkapnya.
Meski harga gabah naik, beras hasil penggilingan tetap stabil. Beras premium organik masih dibanderol Rp 14.000/kg, dan kualitas medium berada di kisaran Rp 13.000/kg. Ketersediaan stok yang cukup di penggilingan membuat harga beras tak ikut melonjak.
“Stok gabah masih banyak di gudang, pembeli pun ramai sejak puasa kemarin,” tambah Darmaji.
Petani Bersiap Panen Kedua
Sebagian wilayah Magelang kini memasuki awal musim tanam kedua. Intensitas hujan yang tinggi diperkirakan akan mempercepat proses tumbuh padi, dan puncak panen diprediksi berlangsung pada Juni mendatang. Namun, sebagian petani sudah lebih dulu memulai panen di bulan ini.
Di tengah dinamika harga dan tantangan musim, pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang mulai menggiatkan program Mitra Pangan Pengadaan (MPP), sebuah skema kemitraan dengan Perum Bulog untuk menyerap gabah petani dengan harga yang lebih pasti dan menguntungkan.
Program ini sudah berjalan di Kecamatan Ngluwar, dengan melibatkan instansi terkait serta dukungan personil TNI. Petani cukup menyiapkan KTP dan rekening bank untuk bergabung.
Koordinator PPL BPP Kecamatan Ngluwar, Ruri Ariadi, mengungkapkan bahwa hingga saat ini, rata-rata gabah yang telah diserap di kecamatan tersebut mencapai 4,5 ton, dengan harga beli minimal Rp 6.500/kg. “Harga ini memberi kepastian bagi petani dan menghindarkan mereka dari kerugian akibat fluktuasi pasar,” jelas Ruri.
Ia juga menambahkan bahwa sambutan petani terhadap program ini sangat positif. Transparansi dan kemudahan prosedur menjadi daya tarik utama. Diharapkan, skema ini terus berkembang dan menjangkau lebih banyak petani di wilayah lain.
“Jika program ini terus berjalan, ketahanan pangan nasional bisa makin kuat dan petani tidak lagi khawatir soal harga jual hasil panen mereka,” pungkasnya optimis.
Comments are closed.