PLN Resmikan Electrifying Agriculture, Petani Purbalingga Hemat Biaya Operasional 50 Persen
Momen Hari Pelanggan Nasional
METROJATENG.COM, PURBALINGGA – Dalam rangkaian Hari Pelanggan Nasional (HPN) 2024, PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Purwokerto bersama Kementerian Pertanian RI, serta Pemkab Purbalingga meresmikan sistem irigasi perpompaan di Desa Kalialang, Kecamatan Kemangkon. Hal ini merupakan wujud komitmen PLN untuk terus memberikan kemudahan akses kelistrikan bagi pelanggan tak terkecuali pelaku usaha yang bergerak di sektor agrikultur.
Staf Khusus Menteri Bidang Kebijakan Pertanian, Sam Herodian menyampaikan, program irigasi perpompaan merupakan upaya untuk mendukung Perluasan Area Tanam (PAT) di daerah sawah tadah hujan. Irigasi perpompaan merupakan salah satu upaya strategis untuk membantu sawah tadah hujan yang seringkali kekurangan air di musim kemarau.
“Sampai saat ini sudah dibangun 20 irigasi perpompaan di Purbalingga, tetapi nanti akan ada 13 lagi menyusul di tahun ini, mudah-mudahan dalam waktu singkat. Terimakasih atas kontribusi PLN, sistem ini memungkinkan petani untuk meningkatkan masa penanaman dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun”, terangnya.
Lebih lanjut Sam Herodian mengatakan, kehadiran listrik PLN memungkinkan petani berhemat 50% biaya operasional dan mengurani penggunaaan bahan bakar fosil untuk menuju pertanian yang benar-benar green.
“Saya kira ini luar biasa, ke depan kita harus menuju pertanian yang benar-benar green, baik dari segi praktek pertanian sendiri maupun dalam prosesnya. Ini kita memang banyak menggunakan bahan bakar khususnya solar untuk pertanian, paling tidak ke depan kita mengurangi bahan bakar fosil ini menuju yang lebih green, yaitu menggunakan listrik. Nah dengan adanya program irigasi perpompaan,baik menggunakan solar maupun listrik, ternyata dari testimoni petani jauh lebih hemat 50% menggunakan solar, pemeliharaannya juga lebih gampang menggunakan mesin subsimile. Sekarang tidak perlu lagi rumah pompa yang besar cukup switch saja, pompanya langsung masuk ke sungai. Jadi untuk PLN, semoga pertanian kita lebih maju”, terangnya.
Hal senada disampaikan, Ketua Kelompok Sri Utami, Gatot (59) mengatakan, bahwa kehadiran listrik ke persawahan dapat lebih menghemat biaya operasional hampir 50%.
“Sebelum pakai pompa listrik, kita pakai diesel. Alhamdulillah perbedaan itu jauh sekali, hampir 50% hemat biaya. Soalnya waktu pakai solar, satu harinya untuk satu diesel itu bisa menghabiskan sekitar 30 liter. Tapi setelah menggunakan LiPom (Listrik Pompa) satu harinya, beli token Cuma Rp 100.000 saja”, ungkapnya dalam agenda Kegiatan Penambahan Areal Tanam Padi yang diprakarsai oleh Kementrian Pertanian Kabupaten Purbalingga.
Dukung Pelaku Usaha Agrikultur
Sementara itu, Manager PLN UP3 Purwokerto, Firman Raharja mengatakan bahwa melalui program Electrifying Agriculture (EA), PLN ingin mendukung pelaku usaha di sektor agrikultur mendukung program ketahanan pangan nasional,
“Kami sekarang berada di Desa Kalialang, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, bersama kawan-kawan dari Purbalingga, dalam rangka mendukung kegiatan Electrifying Agriculture yang memang menjadi keunggulan program PLN, untuk mendukung dan supporting kepada kegiatan pemenuhan kelistrikan guna mendukung pertanian dalam rangka peningkatan produktifitas. Jika peningkatan produktifitasnya bagus, artinya juga mendukung program ketahanan pangan nasional”, ungkap Firman.
Sampai saat ini tercatat sudah menyambung 20 titik Electrifying Agriculture dengan total investasi disisi PLN hampir Rp 1 miliar. Firman Raharja menyebut, Electrifying Agriculture di Kabupaten Purbalingga salah satu yang paling leading di wilayah kerja PLN UP3 Purwokerto dan akan terus support dalam perluasan jaringan untuk menjangkau sawah-sawah yang berpotensi.
“Dengan hadirnya PLN dan listrik yang menggantikan pola irigasi manual karena sebelumnya memakai BBM (Bahan Bakar Minyak), maka ada efisiensi biaya lebih dari 50% disamping benefit atau manfaat lainnya yaitu untuk operasi maintenance nya yaitu lebih murah. Kami juga menyerap banyak aspirasi dan tantangan ke depan terutama terkait investasi dan supporting PLN untuk perluasan jaringan untuk menjangkau sawah-sawah dengan kondisi konstruksi yang se-efisien mungkin sehingga kita semakin banyak EA”, tambah Firman.
Untuk tahun ini, ada sekitar 69 pelanggan EA sudah tersambung dengan total daya terpasang 346 kVA. Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring dengan potensi elektrifikasi yang tidak hanya menyasar subsektor pertanian, tetapi juga peternakan dan perkebunan.
Program Electrifying Agriculture PT PLN (Persero) merupakan layanan bagi pelanggan PLN yang memiliki usaha di bidang perkebunan, holtikultura, peternakan dan lainnya, yang menawarkan solusi listrik 24 jam yang bertujuan meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya agar produk mampu bersaing di pasaran atau nasional. Salah satunya bagi Kelompok Tani di Kabupaten Purbalingga yang menyampaikan bahwa menghemat biaya operasional hingga 50%.
Comments are closed.