Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Chinese Bridge 2024 se-Jawa Tengah di Puhua, Syaratkan Peserta WNI

0

METROJATENG.COM, PURWOKERTO – Ada yang unik dari gelaran kompetisi Bahasa dan Budaya Mandarin Chinese Bridge (Han Yu Qiao) 2024 yang digelar oleh Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan (Puhua) Purwokerto. Meskipun event ini diciptakan oleh Kementrian Pendidikan Republik Rakyat Tiongkok, namun untuk peserta disyaratkan dari Warga Negara Indonesia (WNI).

Kepala Bahasa Mandarin Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan (Puhua School). Lyu Xiao Qian mengatakan, tahun ini Han You Qiao diselenggarakan di Puhua untuk ke-3 kalinya. Sebelumnya sudah pernah diselenggarakan pada Tahun  2011 dan 2016.

Uniknya, meski penyelenggaraan kompetisi ini diciptakan oleh Kementrian Pendidikan Republik Rakyat Tiongkok, namun syaratnya seluruh peserta adalah berkewarganegaraan Indonesia (non native), lahir dan dibesarkan di Indonesia serta pengguna bahasa ibu selain bahasa Mandarin sebagai first language mereka”, tutur Lyu Xiao Qia.

Kompetisi dunia ini diadakan melalui penyisihan tingkat propinsi dan pre-eliminasi se-Jawa Tengah yang berlangsung di Gedung Aula SMP-SMA Puhua, Sabtu (18/5/ 2024).  Kompetisi Chinese Bridge pertama kali diadakan pada tahun 2002 dan kemudian menjadi agenda tahunan yang diselenggarakan di berbagai negara di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Kompetisi ini menyediakan 3 liga yakni antar  Sekolah Dasar (SD) (tahun ke-4), SMP-SMA (tahun ke-17) dan liga Mahasiswa (tahun ke-23).

Caption Foto : Direktur Pusat Bahasa Mandarin di Universitas Sebelas Maret Solo, Dr. Fan Jie. (Foto : Dok.Puhua).

 

Direktur Pusat Bahasa Mandarin di Universitas Sebelas Maret Solo, Dr. Fan Jie mengatakan, Chinese Bridge menjadi agenda penting karena di masa depan bahasa Mandarin sangat dibutuhkan dan semakin banyak generasi muda Indonesia yang mempelajari Bahasa Mandarin. Tantangan terbesar bagi pertumbuhan bahasa mandarin adalah kurangnya guru.

Sehingga, lanjutnya, berkembangnya sekolah tiga bahasa juga universitas dengan fakultas bahasa mandarin akan sangat membantu munculnya generasi muda yang punya standar bahasa Mandarin yang baik. Ini sangat menguntungkan bagi masa depan benerasi muda, terutama karena kerjasama Tiongkok dan Indonesia makin berkembang pesat.

Chinese Bridge menjadi agenda penting, karena ke depan, orang-orang yang mahir bahasa Mandarin semakin banyak dibutuhkan, seiring meningkatkan kerjasama Tiongkok dengan Indonesia”, ucapnya.

Ajang Bergengsi

Event ini juga menjadi bergengsi karena menguji kemampuan bahasa Mandarin yang lekat dalam wawasan yang komperhensif. Seluruh materi dan aturan lomba telah ditentukan oleh penyelenggara Center for Language Education and Cooperation (Yu He Zhong Xin). Kompetisi diawali dengan tes tertulis (khusus SMP/SMA dan Mahasiswa) mencakup pengetahuan umum, sejarah, budaya dan teknologi. Kemudian setiap peserta seluruh jenjang diminta pidato selama 90 detik dengan tema ‘Chinese: Joy & Fun’ untuk peserta tingkat SD, tema ‘Fly high with Chinese’ untuk peserta  SMP/SMA, serta tema ‘One World, One Family’ untuk tingkat universitas. Tahap selanjutnya adalah improptu bagi jenjang SMP/SMA dan universitas, dimana setiap peserta diberikan pertanyaan secara acak dengan kesempatan menjawab dalam 60 detik saja.

“Tak hanya kemampuan bicara atau pidato, namun seni budaya turut dipertandingkan. Karena membangun jembatan antara budaya Tiongkok dan budaya lain dapat memupuk rasa saling pengertian dan apresiasi, serta mempromosikan persahabatan dan kerjasama antara Tiongkok dan Indonesia melalui pendidikan adalah alasan kompetisi ini dilaksanakan setiap tahun”, jelas, senior di Puhua yang sudah 20 tahun menetap di Purwokerto, Laoshi.

Caption Foto : Juara kompetisi Bahasa dan Budaya Mandarin Chinese Bridge (Han Yu Qiao) 2024 tingkat Sekolah Dasar (SD) berfoto bersama. (Foto : Dok.Puhua).

 

Di penghujung kompetisi, setiap peserta diminta menunjukkan bakat budaya Tiongkok dalam 90 detik melalui berbagai pertunjukan mulai dari menyanyi, seni beladiri wushu, membuat hiasan kertas Jianzhi, kaligrafi mandarin Shu fa, wayang Tiongkok, dubbing, story telling, memainkan alat musik Tiongkok, pertunjukan seni budaya minum teh Tiongkok dan masih banyak lagi.

Tahun ini, selain dari sekolah dan universitas di Purwokerto sebagai tuan rumah, peserta juga ada dari sekolah dan universitas yang tersebar di Semarang, Surakarta, Solo, Cilacap, Salatiga, hingga Magelang. Menjaga netralitas dan syarat lomba agar terpenuhi maka ada 3 juri native didatangkan dari Yogyakarta yang tak masuk dalam wilayah lomba. Mereka adalah Laoshi senior asal Tiongkok di wilayah DIY, yaitu Mr. Li Jianwei, Ms. Zhang Binyan, dan Mr, Zong Yongpeng.

Untuk pemenang yang menempati juara 1,2, dan 3 per level akan ditentukan masing-masing 1 orang dan juara satu berkesempatan mewakili Indonesia untuk terbang ke Tiongkok selama dua minggu mengikuti liga Chinese Bridge antar negara.

Juara satu di tingkat SD serta SMP-SMA dimenangkan oleh Marchella Assyarifah Liulee Lugito dan Leecia Jovanna Boedijanto Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan Purwokerto. Sedangkan tingkat universitas dimenangkan oleh Selly Virgo Sari Tan mahasiswi semester 2 jurusan Pendidikan Mandarin Universitas Negeri Semarang

Leave A Reply

Your email address will not be published.