Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Wibowo Prasetyo Ajak Kader GP Ansor Temanggung Jadi Penjaga Kebangsaan di Era Digital

 

 

METROJATENG.COM, TEMANGGUNG – Menjaga keutuhan bangsa pada era sekarang tidak cukup hanya dengan mengandalkan semangat nasionalisme. Diperlukan kemampuan membaca perubahan zaman, menghadapi derasnya informasi digital, serta merawat kerukunan di tengah masyarakat yang semakin beragam.

 

Hal tersebut disampaikan Anggota MPR RI sekaligus Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, H. Wibowo Prasetyo, dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Temanggung, Rabu (30/9/2026).

 

Kegiatan tersebut juga menghadirkan Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Temanggung, Isro’ Agus Pamungkas sebagai narasumber.

 

Wibowo mengatakan, GP Ansor memiliki pengalaman sejarah yang panjang dalam mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan semangat kebangsaan. Warisan tersebut perlu terus dikembangkan agar tetap relevan dengan persoalan yang dihadapi generasi muda saat ini.

 

“Dahulu, tantangan kebangsaan banyak berkaitan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan menjaga keutuhan wilayah. Sekarang tantangannya juga hadir melalui ruang digital. Berita bohong, ujaran kebencian, intoleransi, dan provokasi berbasis identitas bisa dengan cepat menyebar dan memengaruhi cara masyarakat memandang sesamanya,” ujar Wibowo.

 

Menurutnya, Empat Pilar MPR RI yang meliputi Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika harus dipahami sebagai nilai yang hidup dalam keseharian masyarakat, bukan sekadar materi yang dihafalkan dalam forum sosialisasi.

 

Ia mencontohkan, pengamalan Pancasila dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap warga yang mengalami kesulitan, penghormatan terhadap perbedaan agama dan keyakinan, serta kesediaan menyelesaikan persoalan bersama melalui musyawarah.

 

Sementara itu, pemahaman terhadap UUD NRI Tahun 1945 juga penting agar kader Ansor memiliki kesadaran mengenai hak dan kewajiban konstitusional warga negara, termasuk hak memperoleh pendidikan, perlindungan sosial, dan kehidupan yang layak.

 

“Nasionalisme tidak boleh berhenti pada upacara, slogan, atau simbol-simbol kebangsaan. Nasionalisme harus terlihat ketika kita membela hak masyarakat, membantu tetangga yang kesulitan, dan menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan,” katanya.

 

Wibowo juga menyoroti pentingnya peran generasi muda Ansor dalam menghadapi perubahan teknologi, termasuk perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin memengaruhi produksi dan penyebaran informasi.

 

Menurutnya, teknologi dapat memberikan manfaat besar bagi pendidikan dan aktivitas ekonomi. Namun, teknologi juga memungkinkan munculnya manipulasi gambar, video, dan informasi yang sulit dibedakan dari kenyataan.

 

Karena itu, kader Ansor diharapkan tidak sekadar menjadi pengguna media sosial, tetapi juga mampu membangun literasi digital di lingkungan masing-masing.

 

“Kader Ansor harus menjadi bagian dari masyarakat yang mampu menyaring informasi, bukan justru ikut menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya. Jangan sampai persaudaraan yang sudah dibangun puluhan tahun rusak hanya karena provokasi di media sosial,” tegasnya.

 

Dalam kesempatan tersebut, Wibowo juga mengapresiasi tradisi pengabdian sosial yang selama ini dikembangkan GP Ansor dan Banser. Menurutnya, keterlibatan dalam kegiatan kemasyarakatan, penanggulangan bencana, dan menjaga kerukunan merupakan bentuk nyata pengamalan nilai kebangsaan.

 

Sementara itu, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Temanggung, Agus Isro’, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara komitmen keagamaan dan tanggung jawab kebangsaan.

 

Menurut Agus, kader Ansor harus mampu menerjemahkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, terutama sikap tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil), dalam kehidupan bermasyarakat.

 

“Bagi GP Ansor, menjaga agama dan menjaga negara bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya merupakan tanggung jawab yang saling menguatkan. Karena itu, kader Ansor harus hadir sebagai perekat masyarakat, bukan menjadi bagian dari kelompok yang memperuncing perbedaan,” ujar Agus.

 

Agus juga mengingatkan bahwa kekuatan GP Ansor terletak pada kedekatannya dengan masyarakat hingga tingkat desa. Jaringan organisasi tersebut, menurutnya, perlu terus dimanfaatkan untuk memperkuat pendidikan kebangsaan, solidaritas sosial, serta kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi warga.

 

Ia berharap sosialisasi Empat Pilar MPR RI tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi penguatan kesadaran bagi kader Ansor untuk terus menghidupkan nilai-nilai kebangsaan dalam aktivitas organisasi.

 

Menutup kegiatan, Wibowo mengajak seluruh kader GP Ansor Temanggung untuk menjadikan semangat hubbul wathan minal iman, cinta tanah air sebagai bagian dari iman, sebagai landasan pengabdian yang terus berkembang mengikuti tantangan zaman.

 

“Indonesia tidak cukup hanya dijaga melalui ingatan tentang sejarah perjuangan. Indonesia juga harus dirawat melalui tindakan kita hari ini. Di situlah kader Ansor memiliki peran penting, memastikan nilai keagamaan, kemanusiaan, dan kebangsaan tetap berjalan beriringan,” pungkas Wibowo.(ris)

 

Comments are closed.