Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Transformasi Energi Ubah Dapur Portobello Pitza Jadi Lebih Efisien dan Bersih

Buka Peluang UMKM Kuliner Naik Kelas

METROJATENG.COM, SEMARANG – Deru aktivitas dapur, aroma pizza yang baru keluar dari oven, hingga pesanan pelanggan yang silih berganti menjadi keseharian Portobello di Jalan Halmahera Raya 11A, Semarang. Di balik kesibukan itu, ada transformasi yang membuat operasional restoran lebih efisien.

Sejak 2020, Portobello beralih dari LPG ke gas bumi PGN dan merasakan penghematan biaya energi sekitar 30–40 persen. Perubahan ini bukan sekadar soal api untuk memasak, melainkan langkah strategis yang bisa menjadi inspirasi bagi UMKM kuliner untuk menekan biaya tanpa mengorbankan kelancaran pelayanan.

Di dapur ini, waktu adalah sesuatu yang berharga. Bahan makanan harus disiapkan, bumbu diracik, dan pesanan diolah agar segera tersaji di meja pelanggan. Dengan lebih dari 100 pilihan menu, termasuk aneka hidangan Nusantara dan pizza sebagai salah satu andalan, kesibukan dapur membutuhkan dukungan energi yang memadai.

Bagi Irma, salah satu juru masak Portobello, kelancaran pasokan gas membuat pekerjaannya terasa lebih nyaman. Ia tak lagi harus khawatir ketika LPG habis di tengah kesibukan, kemudian meminta bantuan teknisi untuk memasang tabung pengganti.

“Dengan penggunaan gas bumi, kami para juru masak kini tidak perlu khawatir lagi kehabisan gas. Pasokan gas bumi dari PGN tersedia 24 jam. Selain itu, kalau gas habis, saya tidak perlu berteriak kepada teknisi untuk memasang tabung LPG atau mengangkat tabung gas lagi,” kata Irma.

Hal yang mungkin terlihat sederhana itu sangat berarti bagi orang yang setiap hari bekerja di dapur. Ketika pesanan datang bersamaan, perhatian juru masak seharusnya tertuju pada makanan yang sedang diolah, bukan pada urusan mengganti tabung gas.

“Saya kini lebih nyaman dalam menyiapkan masakan untuk para tamu. Tidak perlu takut pesanan datang terlambat karena gas habis,” ujarnya.

Menurut Irma, tingkat panas yang dihasilkan gas bumi tidak berbeda jauh dengan LPG. Api yang berwarna biru juga mendukung aktivitas memasak sehari-hari. Dengan pasokan gas melalui jaringan, ia dan rekan-rekannya merasa lebih leluasa menjalankan pekerjaan.

Bagi dapur restoran, kelancaran proses memasak bukan hanya urusan teknis. Ada pelanggan yang menunggu, ada hidangan yang harus dijaga kualitasnya, dan ada pelayanan yang mesti dipertahankan. Karena itu, ketersediaan energi menjadi bagian dari upaya menjaga agar seluruh proses berjalan sesuai rencana.

Keputusan Tepat

Perubahan di dapur Portobello bermula pada 2020, ketika pandemi Covid-19 mulai melanda. Saat itu, jaringan pipa gas PGN sudah tersedia di sekitar lokasi restoran. Pengelola kemudian mendapat tawaran untuk beralih dari LPG ke gas bumi.

Ayang Ardiana Susilowati, 30, bagian keuangan sekaligus leader Portobello yang mewakili pemilik usaha, mengatakan keputusan tersebut tidak diambil begitu saja. Ada perhitungan biaya pemasangan dan pengeluaran energi jangka panjang yang menjadi pertimbangan.

“Waktu itu kami ditawari PGN karena kebetulan di daerah sini sudah ada saluran PGN juga. Kami hitung lagi, walaupun ada biaya pemasangan ini merupakan keputusan yang tepat, untuk ke depannya biaya penggunaannya bisa lebih ringan daripada kami pakai LPG biasa,” kata Ardiana.

JARGAS – Jaringan Gas (Jargas) yang terpasang di Portobello Semarang, untuk memantau pemakaian gas bumi PGN. (tya/redmetrojateng)

 

Sebelum beralih, Portobello menggunakan LPG tabung 50 kilogram untuk memenuhi kebutuhan dapur. Aktivitas memasak cukup intensif karena dapur tidak hanya menyiapkan hidangan untuk pelanggan, tetapi juga mengolah sebagian bahan makanan sebelum dikirim ke outlet.

Sejumlah peralatan digunakan untuk mendukung pekerjaan tersebut, mulai dari beberapa tungku, kompor bertekanan tinggi, hingga oven. Dalam situasi seperti itu, bahan bakar menjadi salah satu komponen biaya operasional yang perlu dikendalikan.

Ardiana mengatakan, berdasarkan perhitungan internal Portobello, penggunaan gas bumi memberikan penghematan biaya sekitar 30–40 persen dibandingkan LPG.

“Perbedaannya signifikan, sekitar 30 sampai 40 persen daripada kami pakai LPG biasa,” ujarnya.

Ia menyebut tagihan gas bumi pada periode sepi bisa berada di kisaran Rp800 ribu hingga kurang dari Rp1 juta. Ketika aktivitas restoran lebih ramai, tagihan dapat mencapai sekitar Rp1,2 juta.

Bagi Portobello, penghematan tersebut memberi ruang bagi pengelola untuk mengatur pengeluaran operasional. Meski demikian, besaran penghematan dapat berbeda pada setiap usaha, bergantung pada kebutuhan energi, volume pemakaian, tarif, dan biaya bahan bakar pembanding.

Peralihan itu juga membutuhkan pengeluaran awal. Ardiana mengingat biaya pemasangan yang dikeluarkan Portobello saat mulai menggunakan gas bumi sekitar Rp6 juta.

Biaya tersebut menjadi bagian dari pertimbangan investasi. Namun, karena jaringan pipa telah tersedia di sekitar lokasi, Portobello melihat peluang untuk memperoleh manfaat penggunaan gas bumi dalam jangka panjang.

Dari Dapur hingga Meja Pelanggan

Transformasi energi sering kali terdengar seperti urusan besar yang berkaitan dengan infrastruktur, investasi, dan kebijakan. Namun, dampaknya juga dapat dilihat dari ruang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari seperti  dapur restoran.

Di Portobello, perubahan sumber energi dirasakan oleh orang-orang dengan kepentingan berbeda. Bagi Ardiana, efisiensi biaya menjadi salah satu pertimbangan penting. Bagi Irma, kemudahan penggunaan membantu menjaga kelancaran pekerjaan. Sementara bagi pelanggan, yang paling terasa adalah pelayanan dan makanan yang tersaji.

Yahya Budiono, salah satu pelanggan Portobello, mengaku puas dengan pelayanan restoran tersebut. Ia menilai pelayanan berlangsung cepat, sementara cita rasa makanan tetap terjaga, terutama pizza.

“Saya sangat puas dengan layanan Portobello. Selain cepat dalam melayani, rasa makanannya, terutama pizza, tetap enak,” kata Yahya.

TEPAT WAKTU – Pelanggan Pitza Potobello tengah mengambil pesanan tepat waktu berkat gas bumi PGN yang menyala tanpa henti. (tya/redmetrojateng)

 

Kepuasan pelanggan tentu dipengaruhi banyak hal, mulai dari kualitas bahan, keterampilan juru masak, hingga pelayanan. Penggunaan gas bumi bukan satu-satunya faktor penentunya. Namun, kelancaran energi dapat mendukung proses memasak sehingga para juru masak bisa lebih berkonsentrasi menyiapkan hidangan.

Di sinilah perubahan itu menemukan maknanya. Penggunaan gas bumi bukan sekadar mengganti LPG dengan energi yang dialirkan melalui pipa. Perubahan tersebut juga berkaitan dengan cara sebuah usaha mengelola waktu, biaya, dan tenaga untuk mempertahankan kualitas pelayanan.

Bagi Irma, manfaatnya terasa ketika ia tidak harus menghentikan pekerjaan untuk mengganti tabung. Bagi Ardiana, manfaatnya tercermin dalam perhitungan pengeluaran energi. Adapun bagi Yahya, pengalaman bersantap yang memuaskan menjadi hal yang paling penting.

Menjaga Keandalan Pasokan

Meski merasakan manfaat gas bumi, Portobello bukan berarti tidak pernah menghadapi kendala. Ardiana mengingat, sekitar 2022, restoran sempat mengalami gangguan teknis pada pasokan. Namun, ia menilai penanganan yang diberikan cukup responsif.

“Kalau semisal ada gangguan teknis apa pun itu, penanggulangannya cukup cepat, responsif juga,” tuturnya.

Portobello dalam operasionalnya tetap menyediakan LPG sebagai cadangan untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan. Langkah ini menunjukkan bahwa bagi pelaku usaha kuliner, efisiensi perlu berjalan beriringan dengan kesiapan menghadapi risiko pasokan.

Keandalan layanan menjadi hal penting dalam pemanfaatan gas bumi. Pelaku usaha membutuhkan informasi yang jelas mengenai biaya, kapasitas pasokan, cakupan jaringan, dan prosedur penanganan gangguan. Dengan demikian, mereka dapat menghitung kebutuhan energi sekaligus menyiapkan langkah antisipasi.

Area Head Semarang PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, Sugianto Eko Cahyono, menyampaikan, jumlah pelanggan PGN di Jawa Tengah mencapai 22.099 pelanggan. Mereka terdiri atas pelanggan rumah tangga, industri, sektor komersial, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pada periode 2024–2025, jumlah pelanggan tumbuh sekitar 25 persen dibandingkan basis pelanggan sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didukung kebutuhan energi di sejumlah kawasan industri, antara lain Kawasan Industri Kendal, Kawasan Industri Wijayakusuma, Kawasan Industri Candi, Kawasan Industri Terpadu Batang, dan kawasan industri di Demak.

Menurut Sugianto, gas bumi berpotensi memberikan efisiensi biaya hingga 30 persen dibandingkan bahan bakar gas lainnya. Penggunaan jaringan pipa juga membuat pelanggan tidak perlu melakukan penggantian tabung secara berkala, selama jaringan dan layanan tersedia dengan baik.

PGN terus mengembangkan jaringan gas bumi di Jawa Tengah, meliputi Semarang, Sleman, Magelang, Kendal, Batang, Demak, dan Blora. Fokus pengembangan diarahkan ke pusat Kota Semarang serta kawasan industri di Semarang, Demak, Kendal, dan Batang.

Namun, perluasan jaringan masih menghadapi tantangan. Tidak semua lokasi usaha terjangkau pipa gas. Pembangunan jaringan baru untuk menjangkau lokasi yang jauh dari pipa eksisting membutuhkan investasi yang tidak sedikit.

Untuk lokasi di luar jangkauan jaringan pipa, PGN mengembangkan alternatif di luar jaringan, seperti GasLink atau compressed natural gas (CNG), dengan penerapan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kelayakan masing-masing lokasi.

Calon pelanggan dapat mendaftar secara daring atau menghubungi tenaga penjualan PGN. Petugas kemudian melakukan survei untuk menghitung kebutuhan gas dan menilai kebutuhan jaringan serta meter. Setelah evaluasi dan kontrak berlangganan, pemasangan dilakukan hingga gas dapat dialirkan.

Besaran biaya pemasangan berbeda sesuai volume kebutuhan dan panjang pipa. PGN menanggung pemasangan pipa dari pipa utama hingga meter di lokasi pelanggan, sedangkan biaya instalasi internal perlu dikonfirmasi sesuai ketentuan dan kebutuhan masing-masing tempat usaha.

PGN juga menyediakan program pembebasan biaya penyambungan kembali atau re-flowing bagi pelanggan rumah tangga dan UMKM yang sebelumnya berhenti berlangganan. Program tersebut berlaku hingga akhir 2026 sesuai ketentuan yang ditetapkan.

Perubahan Besar dari Dapur Kecil

Bagi Portobello, transformasi energi tidak dimulai dari proyek besar atau perubahan yang mencolok di mata pelanggan. Perubahan itu berawal dari keputusan pengelola untuk menghitung ulang kebutuhan energi, kemudian berlanjut menjadi kebiasaan baru di dapur.

Kini, para juru masak dapat lebih fokus mengolah makanan tanpa harus berulang kali mengganti tabung LPG. Pengelola merasakan manfaat dari sisi pengeluaran, sementara pelanggan tetap menaruh perhatian pada hal yang paling dekat dengan mereka: kecepatan pelayanan dan cita rasa hidangan.

Perjalanan Portobello juga memperlihatkan bahwa transisi energi membutuhkan lebih dari sekadar ketersediaan sumber energi alternatif. Akses jaringan, biaya pemasangan yang terukur, pasokan yang andal, dan pelayanan teknis yang responsif menjadi bagian penting agar manfaatnya benar-benar dirasakan.

Dari Jalan Halmahera Raya 11A, Semarang, kisah itu bermula dari dapur yang setiap hari harus bekerja tanpa banyak jeda. Di sana, energi bukan sekadar bahan bakar untuk menyalakan api. Energi menjadi bagian dari upaya menjaga pekerjaan tetap berjalan, pesanan tersaji tepat waktu, dan pelanggan pulang dengan pengalaman bersantap yang memuaskan.

Dari dapur kecil Portobello, transformasi energi menemukan wujud nyatanya: perubahan sumber energi yang diharapkan membantu usaha lebih efisien, pekerja lebih nyaman, dan pelayanan kepada pelanggan tetap terjaga. (tya)

Comments are closed.