Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Menembus Lereng Merbabu dengan Rp8.000, Saat BYD M6 DM Membuktikan Janji Efisiensi

METROJATENG.COM, SEMARANG — Matahari baru meninggi ketika iring-iringan BYD M6 DM meninggalkan showroom BYD HAKA Semarang. Jalanan kota yang mulai padat menjadi pembuka perjalanan sepanjang sekitar 150 kilometer yang hari itu akan membawa rombongan menuju lereng Gunung Merbabu, perkebunan kopi Banaran, hingga kembali lagi ke jantung Kota Semarang.

Perjalanan ini bukan sekadar test drive biasa. BYD ingin membuktikan satu hal: apakah teknologi Dual Mode (DM) yang baru diperkenalkan di Indonesia benar-benar mampu menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat yang setiap hari menghadapi kondisi jalan yang berbeda-beda.

Mulai dari kemacetan kota, jalan tol berkecepatan tinggi, tanjakan pegunungan, hingga lalu lintas padat akibat perbaikan jalan.

Di dalam kabin BYD M6 DM, suasana terasa berbeda sejak kendaraan mulai bergerak. Tidak ada raungan mesin yang biasa terdengar pada mobil dual mode. Mobil meluncur tenang, nyaris tanpa suara.

Sebagai kendaraan yang mengusung filosofi electric-first, motor listrik menjadi sumber tenaga utama. Hasilnya langsung terasa, terutama saat kendaraan mulai memasuki ruas Tol Semarang-Solo.

“Responsnya sangat cepat. Tapi yang menarik, mobil ini tidak membuat penumpang merasa tersentak. Tenaganya besar, tetapi keluarnya sangat halus,” ujar Fahmi, salah satu pengemudi yang mengikuti perjalanan tersebut. Kesan tanpa hentakan dan nyaman dikendarai itulah yang terpikirkan selama perjalanan.

Saat jalan mulai menanjak menuju kawasan Merbabu Kitchen, Kabupaten Semarang, kemampuan teknologi Dual Mode mulai mendapat ujian yang sesungguhnya.

Kontur jalan berubah drastis. Tanjakan panjang berpadu dengan tikungan-tikungan khas kawasan pegunungan. Namun BYD M6 DM tetap melaju tanpa kesulitan.

Torsi instan dari motor listrik membuat kendaraan tetap bertenaga bahkan saat menghadapi tanjakan yang cukup curam.

“Tidak ada rasa mobil kehilangan tenaga. Saat dibutuhkan akselerasi tambahan, responsnya tetap cepat. Sebagai pengemudi, ini memberikan rasa percaya diri yang lebih besar,” kata Fahmi.

TANTANGAN – Peserta media Challengens mengikuti tantangan unik (tya/redmetrojateng)

 

Sampai di kawasan Merbabu Kitchen tantangan unik menanti peserta media chalengens . Sebuah bola tenis  diletakkan di atas kap depan dan atas mobil.

Tugas pengemudi terdengar sederhana yakni  menyelesaikan lintasan dalam waktu sekitar kurang dari 60 detik. Sepertinya tantangan tersebut sangat mudah.

Tetapi ada syarat yang membuat tantangan ini tidak mudah. Bola tidak boleh jatuh. Padahal memutari lintasan dalam waktu kurang dari satu menit membutuhkan kecepatan tinggi dan performa mobil yang bagus.

Sedikit saja akselerasi terlalu kasar atau pengereman terlalu mendadak, bola akan langsung menggelinding keluar dari kap.

Karakter Kendaraan Diuji

Ketika BYD M6 DM mulai bergerak, bola tenis tetap diam di tempatnya. Mobil melaju, berbelok, lalu berhenti tanpa membuat bola berpindah posisi.

“Awalnya saya mengira ini hampir mustahil dilakukan. Tetapi setelah mencobanya, saya justru memahami bagaimana tenaga mobil ini disalurkan dengan sangat halus dan presisi,” kata Fahmi sambil tertawa karena berhasil mengendalikan kemudi tanpa menjatuhkan bola dalam waktu 18 detik.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Banaran Coffee. Namun sebelum tiba di lokasi, rombongan harus menghadapi situasi yang lebih akrab bagi masyarakat Indonesia, yakni kemacetan.

Perbaikan jalan menyebabkan antrean kendaraan mengular cukup panjang. Kendaraan bergerak perlahan, sesekali berhenti total, lalu kembali merayap.

Bagi banyak mobil, kondisi seperti ini sering menjadi penyebab konsumsi bahan bakar meningkat.

Namun pada BYD M6 DM, situasinya berbeda. Saat kecepatan rendah, sistem lebih banyak memanfaatkan tenaga listrik sehingga mesin tidak terus-menerus bekerja.

Suasana kabin tetap tenang

“Tadi sempat macet cukup lama, tetapi tidak terasa melelahkan. Kabinnya senyap dan nyaman. Kita bisa mengobrol tanpa terganggu suara mesin dan ac sangat dingin,” ujar Candra,  salah satu penumpang.

Menurutnya, kenyamanan justru menjadi salah satu hal yang paling terasa sepanjang perjalanan.

“Biasanya kalau perjalanan jauh, apalagi melewati jalan menanjak dan macet, penumpang cepat lelah. Tetapi selama perjalanan ini saya merasa santai. Perpindahan tenaga sangat halus dan tidak ada getaran yang mengganggu,” katanya.

Sesampainya di Banaran Coffee, tantangan lain kembali menunggu.Kali ini berupa lintasan slalom dengan deretan cone yang harus dilewati secara zig-zag tanpa menyentuh satu pun rambu pembatas.

Meski berstatus sebagai MPV keluarga, BYD M6 DM mampu menyelesaikannya dengan mulus. Bodi kendaraan tetap stabil ketika berpindah arah dengan cepat, dengan pengereman yang mantap tanpa membuat penumpang terguncang.

“Handling-nya di luar ekspektasi saya untuk mobil keluarga. Setirnya responsif dan mobil tetap stabil saat diajak bermanuver,” kata Fahmi.

Perjalanan kemudian berlanjut kembali menuju Semarang. Rombongan keluar tol di Krapyak, melintasi Jalan Siliwangi, Tugu Muda, Jalan Pandanaran, hingga akhirnya berhenti di SPBU COCO Ahmad Yani.

Luar Biasa Irit

Di tempat inilah hasil yang paling ditunggu muncul. Setelah menempuh perjalanan sekitar 150 kilometer dengan kombinasi jalan kota, tol, tanjakan pegunungan, kemacetan, hingga lintasan slalom, kendaraan yang dikemudikan Fahmi tercatat hanya mengonsumsi 0,527 liter bahan bakar.

Jika dihitung menggunakan harga BBM saat ini, biaya yang dikeluarkan hanya sekitar Rp8.000.

Angka itu membuat banyak peserta perjalanan terkejut. Tidak hanya peserta Media Chalengens, petugas dan  pengunjung SPBU ,yang tengah mengisi BBM juga terheran – heran dengan keiritan BYD M6DM.

“Saya sampai mengecek ulang beberapa kali karena sulit dipercaya. Tetapi memang itu angka yang muncul. Untuk perjalanan sejauh ini, biaya bahan bakarnya sangat kecil,” ujarnya.

LUAR BIASA IRIT – Peserta Media Challenggens terheran-heran melihat konsumsi BBM , BYD M6 DM , luar biasa irit saat mengecek langsung pada pengisian BBM di SPBU COCO Pertamina A yani Semarang, hanya 0,537 l atau setara Rp 8.000 setelag berkeliling sejauh 150 km dengan kontur jalan berbeda. (tya/redmetrojateng)

Hasil tersebut sekaligus menjadi pembuktian filosofi G.A.S.S yang diperkenalkan BYD pada teknologi DM, yakni Gesit, Andal, Senyap, dan Super Irit.

 

Karakter gesit terasa saat melaju di jalan tol. Andal ketika menghadapi tanjakan Merbabu. Senyap saat terjebak kemacetan. Dan super irit terlihat dari konsumsi bahan bakar yang tercatat di akhir perjalanan.

Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia, Eagle Zhao, mengatakan Jawa Tengah dipilih karena memiliki karakter perjalanan yang sangat mewakili kebutuhan masyarakat Indonesia.

“Rute Semarang hingga kawasan kaki Gunung Merbabu dipilih untuk merepresentasikan beragam kebutuhan mobilitas, mulai dari perjalanan harian di perkotaan, antar kota hingga aktivitas rekreasi,” ujarnya.

Melalui pengujian ini, BYD ingin menunjukkan,  kendaraan energi baru tidak hanya menawarkan efisiensi energi, tetapi juga fleksibilitas penggunaan untuk berbagai kondisi perjalanan.

Setelah sehari penuh melintasi jalan kota, tol, tanjakan, kemacetan, hingga jalur slalom, BYD M6 DM memberikan satu kesimpulan sederhana yakni  kendaraan keluarga masa kini tidak lagi harus memilih antara performa dan efisiensi. Keduanya kini dapat berjalan berdampingan dalam satu perjalanan yang sama.

Kendaraan yang super Irit diwujudkan melalui kombinasi efisiensi energi dan fleksibilitas penggunaan yang menjadi keunggulan utama teknologi DM, dimana mampu menghadirkan konsumsi bahan bakar hingga 65 km/liter.

Dengan kemampuan menghadirkan konsumsi bahan bakar yang sangat efisien serta jarak tempuh yang panjang, teknologi ini memungkinkan pengguna melakukan perjalanan harian maupun perjalanan lintas kota dengan lebih ekonomis dan praktis.

“Dengan konsumsi bahan bakar hingga 65 km/liter, teknologi BYD DM dirancang untuk menghadirkan efisiensi yang relevan bagi kebutuhan mobilitas masyarakat Indonesia. Kemampuan tersebut telah diperlihatkan melalui berbagai pengujian penggunaan nyata melalui rangkaian Media Challenge yang kami selenggarakan di berbagai kota. Di Jakarta, peserta mencatat efisiensi lebih dari 100 km/liter pada kombinasi perjalanan perkotaan dan jalan tol, sementara di Medan efisiensi yang dicapai mencapai lebih dari 79 km/liter pada rute dengan elevasi tinggi pada tanjakan lintas kota khas Sumatera Utara. Hasil tersebut menunjukkan bagaimana teknologi DM mampu beradaptasi dan mempertahankan efisiensi dalam berbagai kondisi perjalanan yang ditemui masyarakat Indonesia sehari-hari,” ujar Luther Panjaitan, Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia.

Melalui pengenalan teknologi DM di Semarang, BYD berharap masyarakat dapat semakin memahami bahwa teknologi elektrifikasi tidak hanya menghadirkan efisiensi energi, tetapi juga mampu memberikan fleksibilitas penggunaan untuk berbagai skenario mobilitas masyarakat Indonesia. Dengan menghadirkan pengalaman berkendara langsung di berbagai wilayah dan karakter perjalanan yang berbeda, BYD terus berupaya memperluas pemahaman masyarakat terhadap manfaat kendaraan energi baru sekaligus mendorong adopsi mobilitas berkelanjutan. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.