PELNI Maksimalkan 158 Aset, Perkuat Pendapatan di Luar Subsidi
METROJATENG.COM, SEMARANG – PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) terus mendorong pemanfaatan aset perusahaan guna memperkuat sumber pendapatan di luar sektor angkutan laut. Langkah ini diambil sebagai strategi mengurangi ketergantungan terhadap subsidi Public Service Obligation (PSO).
Direktur Usaha Angkutan Penumpang PELNI, Nuraini Dessy W, mengungkapkan bahwa perusahaan telah mengidentifikasi sebanyak 158 aset sejak 2024. Aset tersebut terdiri dari fasilitas operasional dan komersial yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Dari jumlah tersebut, sekitar 14 persen di antaranya masih belum dimanfaatkan secara optimal. Karena itu, PELNI membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan produktivitas aset yang masih idle.
“Kami membuka peluang kerja sama seluas-luasnya agar aset yang belum optimal bisa memberikan nilai ekonomi,” ujarnya.
Pada tahun ini, PELNI memfokuskan optimalisasi di lima lokasi utama, yakni Belawan, Padang, Semarang, Balikpapan, dan Ternate. Di Semarang, perusahaan tengah melakukan renovasi gedung yang akan difungsikan sebagai area komersial.
Pemanfaatan aset di kawasan tersebut diarahkan untuk sektor food and beverage, termasuk pengembangan coffee shop di kawasan Kota Lama Semarang.
Kerja sama yang dijalin mencakup berbagai sektor, mulai dari ritel modern, usaha kuliner, hingga penyewaan ruang perkantoran. Meski kontribusinya belum signifikan, upaya ini mulai memberikan tambahan pendapatan dari aset yang sebelumnya tidak produktif.
Sementara itu, Vice President Usaha Komersial PELNI, Berryl A. Insanul Firdaus, menyebutkan bahwa optimalisasi juga dilakukan pada aset kapal. Badan kapal kini dimanfaatkan sebagai media promosi dan branding.
“Kontribusi dari sektor komersial memang masih di bawah 10 persen, namun ini menjadi langkah penting dalam transformasi bisnis perusahaan,” jelasnya.
PELNI juga melibatkan pelaku UMKM dalam pengelolaan ruang usaha, sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Selain itu, peluang kerja sama juga terbuka bagi brand nasional dengan tetap mempertimbangkan kesesuaian karakter lokasi.
“Pemilihan mitra dilakukan secara selektif agar memberikan nilai tambah bagi perusahaan maupun lingkungan sekitar,” tandasnya.(ris)
Comments are closed.