Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Bangkit dari Stigma, Aprina Menjelma Jadi Atlet Disabilitas Berprestasi dengan Dukungan BPJS Ketenagakerjaan

METROJATENG.COM, PURWOKERTO – Terlahir sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bukanlah kenyataan yang mudah diterima, terlebih harus dijalani hingga seumur hidup. Hal tersebut dialami oleh Aprina Setyawati, gadis kelahiran Sokaraja Kulon, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Meski usianya sudah menginjak 34 tahun, namun tinggi badannya hanya 130 meter. dengan berat badan 63 kilogram. Terlihat selalu ceria, namun sejak memasuki bangku sekolah, gadis tersebut tak pernah lepas dari pandangan miring orang-orang sekitarnya. Sehingga, Aprina hanya menempuh pendidikan sampai bangku SMP, karena enggan masuk ke lingkungan yang menurutnya, orang-orang tidak mau menerimanya.

“Saya hanya sekolah sampai SMP, yaitu di SMP 3 Banjaranyar, Sokaraja, itu pun waktu sekolah harus menekan rasa malu bercampur sedih, karena teman-teman tidak mau bergaul dengan saya. Kalau saya mendekat, mereka pergi sambil berbisik-bisik. Saya sangat tahu diri, sehingga setelah tamat SMP, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,” kenangnya sambil tersenyum getir.

Pada Tahun 2004, saat Aprina duduk di bangku SMP, keberadaan ABK memang belum mendapat tempat seramah sekarang. Tidak mengherankan, jika perlakuan masyarakat, terlebih di desa seperti Sokaraja Kulon, masih banyak yang memandang sebelah mata terhadap keberadaan para disabilitas ini.

Lahir dari pasangan suami-istri, almarhum Sholih dan Rustiti yang hidup sederhana, namun masih mampu menyekolahkan anak-anaknya. Aprina merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Semua saudaranya bersekolah hingga tamat SMA, hanya dia sendiri yang tamat SMP.

“Kalau keluarga dan saudara dekat, sudah terbiasa dengan keadaan saya yang tidak sempurna ini. Meskipun begitu, dalam situasi khusus, seperti bercanda atau kalau sedang marah, bapak-ibu atau saudara saya terkadang memanggil saja ‘cebol’, itu sudah biasa dan saya tidak sakit hati. Asalkan mereka masih mau menerima kehadiran saya, itu sudah cukup,” tuturnya.

Meniti Dunia Kerja

Selepas SMP, Aprina yang tidak melanjutkan sekolah mulai mencari ketrampilan yang bisa dijadikan pegangan hidup. Beruntung ia mendapat penawaran untuk mengikuti pelatihan menjahit bagi orang disalibitas di Solo. Selama 4 bulan Aprina belajar menjahit dan ia mengaku sedikit lebih lega, karena bisa meninggalkan rumah dan lingkungan yang membuatkan terkadang kurang nyaman.

“Bayangkan saja, saya disalibitas, orang melihat saya saja kadang ada yang sudah malas, ditambah lagi saya pengangguran dan tidak sekolah, pastinya keberadaan saya dipandang sebagai beban keluarga saja. Sehingga saat  ada tawaran pelatihan dari paman saya, langsung saya setuju dan berangkat ke Solo,” kata gadis tersebut.

Setelah pelatihan di Solo selesai, Aprina lanjut mengikuti pelatihan serupa di Bogor selama satu tahun. Namun, usai pelatihan, ia kurang beruntung, karena tidak bisa mengimplementasikan ilmu yang telah diperolehnya. Aprina kemudian mengisi waktu dengan berjualan papeda di teras rumahnya.

Meskipun sudah membangun usaha sendiri, tetapi rasa kurang nyaman terus menyelimutinya. Hingga pada Tahun 2021 lalu, ada pertemuan disalibilitas dan Aprina berjumpa dengan teman lama semasa di pelatihan menjahit yang sekarang sudah menjadi atlet voli.

Melihat kondisi temannya yang lebih baik dari sisi finansial dan rasa percaya diri juga terbangun, Aprina terbesit untuk mengikuti jejaknya menjadi atlet profesional. Kebetulan pada saat bersamaan, sang teman tersebut juga menawarinya untuk mendaftar jadi atlet di Karawang.

“Teman saya sudah bergabung dengan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Karawang sebagai atlet voli, padahal ia menggunakan kaki palsu, tetapi bisa menjadi atlet voli yang berprestasi. Pada saat itu, Tahun 2022 NPCI Karawang sedang mencari atlet angkat besi dan teman saya langsung menawarkan saya untuk ikut mendaftar,” jelasnya.

Tak mau gegabah dengan pergi merantau ke Karawang, Aprina berusaha mencari informasi tentang NPCI di Kabupaten Banyumas. Tetapi pada saat itu kondisi NPCI Banyumas tidak semapan NPCI Karawang yang sudah menyediakan mess serta memberikan uang makan untuk para atletnya. Sehingga mau tak mau, Aprina memilih untuk bergabung dengan NPCI Karawang sebagai atlet angkat berat.

 

Caption Foto : Aprina Setyawati, atlet disabiltas kini sudah bisa membeli dan mengendarai sepeda motor yang dimodifikasi menjadi roda tiga. (Foto : Hermiana E.Effendi).

 

Mengukir Prestasi, Tak Menyerah Pada Keterbatasan

Merantau dan jauh dari keluarga kembali dijalani Aprina. Sehari-hari ia tinggal di mess dan mendapat jatah makan. Hari pertama latihan, gadis yang sudah memasuki masa dewasa tersebut masih sangat ingat, pelatihnya, Subadi memberikan intruksi untuk melakukan pemanasan dan setelah itu, Aprina langsung dihadapkan pada latihan angkat beban hingga 20 Kg.

Tubuh pendek yang gempal tersebut, harus mengangkat stik besi seberat 20 Kg, hari berikutnya meningkat menjadi 30 Kg dan seterusnya. Lelah dan badan sempat terasa sakit semua sudah pasti, namun Aprina pantang menyerah. Yang terbesit dalam pikirannya, hanyalah keinginan untuk membangun masa depan dan bisa mandiri secara finansial. Rasa lelah ia abaikan, begitupun dengan berbagai konsekuensi yang harus dihadapi.

“Saya menyadari, di dunia olahraga ini tidak akan bisa selamanya, terlebih bagi saya yang disabilitas, pasti waktunya lebih singkat, karena itu saya berusaha memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, dengan terus berlatih tanpa kenal lelah,” ujarnya.

Semua kerja keras, pengorbanan dan perjuangan Aprina pada akhirnya membuahkan hasil yang manis. Pada pertandingan pertama antarkabupaten/kota se-Jawa Barat yang digelar di Bekasi pada bulan November 2022, Aprina berhasil mendapatkan dua medali perunggu di ajang Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) VI Jabar. Dan untuk pertama kalinya juga ia mendapatkan uang dalam jumlah besar yaitu mencapai Rp 70 juta.

Prestasi Aprina masih terus berlanjut, pada pertandingan kedua yang diikutinya, yaitu Peparda XVII di Solo, Aprina berhasil menyabet medali perak dan perunggu. Ia pun mendapat hadiah senilai Rp 35 juta.

“Hadiah pertama kemenangan saya, terus terang tidak dapat bertahan lama, karena saya harus membayar hutang-hutang yang dulu di kampung halaman. Sisanya hanya untuk pegangan menjalani hidup di Karawang. Dan untuk hadiah dari kemenangan kedua ini, Aprina baru bisa mewujudkan mimpinya untuk memiliki sepeda motor yang langsung dimodifikasi di bengkel dan dijadikan sepeda motor roda tiga, agar ia bisa mengendarai dengan nyaman.

Caption Foto : Aprina Setyawati menujukkan surat bukti pembayaran BPJS Ketenagakerjaan miliknya, yang sudah didaftarkan oleh NPCI Karawang, tempatnya bernaung saat ini. (Foto : Hermiana E.Effendi).

 

Mempersiapkan Masa Depan Lewat BPJS Ketenagakerjaan

Kini, sedikit demi sedikit Aprina mulai mapan secara finansial. Ia tidak lagi tinggal di mess yang dihuni banyak atlet, tetapi ia sudah bisa membayar sewa kos, meskipun sederhana. Tabungan di rekening juga cukup aman untuk biaya hidup sehari-hari.

Namun, ada kegelisahan yang menggelitik, di tengah keterbatasan kondisi fisik tubuhnya, aktivitas latihan yang berat harus terus dijalani. Terlebih saat ini ia tengah melakukan persiapan menjelang ajang Peparda 2026. Setiap hari ia berlatih dua kali, pada pagi hari mulai pukul 07.30 WIB sampai pukul 11.00 WIB dan berlanjut sore hari mulai pukul 16.30 WIB hingga 18.30. Barbel dengan berat puluhan kilogram menjadi teman setianya sehari-hari.

“Saya sadar, latihan-latihan berat, tentu juga akan berdampak pada tubuh saya suatu saat nanti. Karena itu, saya harus mulai mempersiapkan hari tua,” katanya.

Saat kegelisahan memuncak, Aprina mendapat tawaran untuk mengikuti program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Ada dua program yang diambil yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian. Beruntung NPCI tempat ia bernaung memfasitasi hal tersebut.

“NPCI yang membuatkan BPJS Ketenagakerjaan, untuk kartunya belum saya terima, karena baru mengurus. Saya baru mendapat surat pemberitahuan pembayaran BPJS Ketenagakerjaan sebesar Rp 16.800,” terangnya.

Saat Aprina mulai mempersiapkan masa depan di Karawang, kampung halamannya, Kabupaten Banyumas juga mulai menerapkan kebijakan untuk memberikan BPJS Ketenagakerjaan pada berbagai golongan yang dinilai rentan, termasuk atlet disabilitas. Sekda Banyumas, Agus Nur Hadie, mengatakan bahwa masih banyak pekerja rentan di Banyumas yang belum memiliki jaminan sosial ketenagakerjaan sehingga perlu gotong royong unutk melindungi mereka. Dan menurut Agus, konsep gotong royong tersebut telah digagas oleh Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono sebagai bentuk kepedulian sosial yang melibatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Banyumas.

“Konsep akan diwujudkan melalui skema penyisihan sebagian gaji ASN untuk membantu membayar iuran BPJS Ketenagakerjaan bagi para pekerja rentan,” terangnya.

Sementara itu, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Kantor Cabang Purwokerto Muhamad Ramdhoni mengungkapkan bahwa hingga saat ini, baru sekitar 30% pekerja di Indonesia yang terlindungi oleh jaminan sosial ketenagakerjaan, menyisakan lebih dari 70% yang belum terlindungi.

“Melalui perluasan program ini, kami berharap para perangkat desa dan kelurahan juga dapat menjadi agen informasi untuk mendorong pekerja informal seperti petani, nelayan, pedagang, dan UMKM ikut dalam program ini,” jelasnya.

Program tersebut didasari oleh Instruksi Presiden yang memberikan dasar hukum bagi pemerintah daerah untuk mengalokasikan anggaran dalam memberikan perlindungan jaminan sosial kepada perangkat masyarakat.

Ramdhoni menambahkan, program BPJS Ketenagakerjaan memberikan perlindungan utama melalui dua skema jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) yaitu memberikan biaya perawatan jika peserta mengalami kecelakaan saat menjalankan tugas, termasuk risiko kerja tinggi seperti pada penyadap nira (penderes) serta Jaminan Kematian (JKM) yaitu santunan kematian sebesar Rp42 juta dan beasiswa pendidikan bagi dua anak hingga perguruan tinggi.

Kisah Aprina adalah cermin bahwa ketangguhan tidak diukur dari kesempurnaan fisik, melainkan dari keberanian memilih bangkit setiap hari. Dari seorang gadis yang kerap dipandang sebelah mata, kini ia berdiri sebagai atlet yang mengharumkan daerahnya sekaligus pejuang hidup yang tak mengenal lelah.

Di tengah segala keterbatasan, ia mengajarkan bahwa masa depan bukan hanya soal keberuntungan, tetapi soal keberanian meraih kesempatan, dan kesiapan melindungi diri untuk hari esok. Melalui BPJS Ketenagakerjaan, Aprina bukan hanya membangun karier sebagai atlet, tetapi juga membangun jaring pengaman untuk hidup yang lebih tenang. Jalan hidupnya mungkin penuh rintangan, namun setiap langkah kecilnya adalah bukti bahwa tidak ada mimpi yang terlalu berat untuk diangkat, selama ada keyakinan dan perlindungan yang tepat.

Karena pada akhirnya, masa depan bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi seberapa baik kita mempersiapkan diri untuk tetap berdiri ketika beban semakin berat.

Comments are closed.