Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Pameran Kaligrafi Tiongkok–Arab di Puhua Purwokerto Jadi Ruang Belajar Budaya dan Diplomasi Publik

METROJATENG. COM, PURWOKERTO – Purwokerto kembali menjadi panggung perjumpaan budaya internasional melalui Pameran Kaligrafi dan Lukisan Tiongkok–Indonesia yang digelar Pusat Bahasa Mandarin Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan (Puhua), 25–27 November 2025. Acara ini bukan sekadar pameran seni, tetapi juga medium edukasi lintas budaya yang memperkuat hubungan diplomatik kedua negara.

Pameran tersebut terselenggara atas kerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok, sekaligus menjadi peringatan tiga momentum sejarah: 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Tiongkok, 70 tahun Konferensi Asia Afrika, serta 620 tahun pelayaran Laksamana Cheng Ho yang berperan besar dalam hubungan awal Nusantara dan Tiongkok.

Dengan mengusung tema “Setinggi Gunung Sejauh Mata Memandang, Berbagi Suka dan Duka,” pameran dibuka Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono. Ia menerima dua karya khusus dari maestro kaligrafi Tiongkok, Prof Wang Liquin, serta tokoh seni rupa Prof Chen Xiaoying.

Prof Wang menghadirkan karya kaligrafi bertuliskan makna “Bhinneka Tunggal Ika,” sebagai simbol harmoni dalam keberagaman. Sementara Prof Chen menyerahkan lukisan gunung dan sungai yang tidak hanya menggambarkan filosofi alam Tiongkok, tetapi juga mencerminkan lanskap Banyumas yang berada di antara Gunung Slamet dan Sungai Serayu.

Dari Indonesia, kaligrafer Arab Amir Husaini turut mempersembahkan karya dengan pesan klasik dunia Islam: “Tuntutlah Ilmu walau sampai ke Negeri China.” Karya ini diserahkan kepada perwakilan Pemerintah Tiongkok, Prof Zhang, Direktur Pusat Bahasa Mandarin Puhua, sebagai simbol pertukaran nilai dan pengetahuan.

Caption Foto : Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastino saat membuka acara Pameran Kaligrafi dan LukisanTiongkok–Indonesia di Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan (Puhua) Purwokerto, Selasa (25/11/2025). (Foto ; Hermiana E. Effendi).

 

Ruang Belajar Lintas Peradaban

Sebanyak 200 karya lebih dipamerkan, terdiri atas kaligrafi Tiongkok, kaligrafi Arab, serta berbagai lukisan tematik. Pengunjung tidak hanya melihat estetika aksara, tetapi juga mempelajari sejarah, filosofi, dan praktik artistik dari dua tradisi kaligrafi tertua di dunia.

“Pameran ini menjadi ruang belajar bahwa seni tidak hanya indah dilihat, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, budaya, dan moral yang sangat kaya,” ujar Kartika Wijaya, Wakil Ketua Yayasan Putera Harapan. Ia menegaskan, inisiatif ini merupakan upaya Puhua sebagai Pusat Bahasa Mandarin Nasional untuk merawat keharmonisan antarbangsa.

Bupati Sadewo menyebut penyelenggaraan pameran ini sebagai kebanggaan bagi Banyumas. Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan nilai luhur kedua bangsa berjalan seiring dan Banyumas mendapat kehormatan menjadi bagian dari sejarah hubungan Indonesia–Tiongkok.

“Melalui pemeran ini, kita dapat menyaksikan dua peradaban saling menciptakan harmono dan melahirkan keindahan dalam keberagaman. Momen ini juga menunjukan bahwa, nilai luruh yang dipegang kedua bangsa berjalan beriringan, Tiongkok dengan falsafah ‘Harmoni yang Berharga’ dan ‘Kerukunan dengan Seluruh Dunia’, serta Indonesia dengan semangat musyawarah dan gotong-royong,” ucapnya.

Melalui pameran ini, masyarakat diajak memahami bahwa diplomasi tidak hanya berlangsung di ruang pertemuan kenegaraan, tetapi juga lewat pertukaran budaya, seni, dan pengetahuan. Pameran kaligrafi ini menjadi contoh nyata bagaimana seni dapat mempererat relasi, membuka dialog, sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda.

Kegiatan tiga hari ini bukan hanya perayaan seni, namun penegasan bahwa hubungan Tiongkok–Indonesia telah terjalin ratusan tahun dan terus diperkuat melalui upaya-upaya kebudayaan yang inklusif.

Comments are closed.