Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Hati-hati, Ini Daftar Makanan yang Bisa Memicu Maag Kambuh

METROJATENG.COM, SEMARANG – Banyak orang masih menyepelekan penyakit maag. Padahal, kondisi ini bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama ketika gejala seperti nyeri ulu hati, perut kembung, mual, hingga muntah datang tiba-tiba.

Maag atau gastritis terjadi ketika dinding lambung mengalami peradangan. Penyebabnya beragam, mulai dari pola makan yang tidak teratur, infeksi bakteri, efek samping obat-obatan, hingga gaya hidup tidak sehat seperti stres, merokok, dan mengonsumsi alkohol.

Menurut para ahli kesehatan, makanan justru menjadi salah satu pemicu paling sering kambuhnya maag. Itulah sebabnya penderita maag perlu lebih selektif memilih asupan sehari-hari.

Berikut ini beberapa jenis makanan yang paling sering membuat maag kambuh:

  • Gorengan dan makanan tinggi lemak jenuh

  • Buah-buahan asam, seperti jeruk, nanas, dan anggur

  • Makanan pedas

  • Makanan instan atau olahan, misalnya sosis, mi instan, dan pasta instan

  • Minuman beralkohol

  • Kopi, minuman bersoda, atau minuman berkafein tinggi

  • Cokelat

Menariknya, tidak semua orang mengalami gejala yang sama setelah mengonsumsi makanan di atas. Namun, jika maag kerap kambuh, sebaiknya makanan tersebut dibatasi atau bahkan dihindari.

Fakta Soal Makanan Pedas

Salah satu makanan yang sering dituding jadi biang keladi maag adalah makanan pedas. Kandungan capsaicin dalam cabai memang dapat memicu iritasi dinding lambung sehingga menimbulkan rasa perih yang mirip dengan gejala maag.

Meski begitu, dokter menegaskan, rasa nyeri setelah makan pedas sebenarnya bukan berasal dari asam lambung, melainkan reaksi tubuh terhadap capsaicin. Artinya, konsumsi makanan pedas dalam jumlah wajar masih bisa ditoleransi, asalkan tidak berlebihan.

Jika maag kambuh setelah mengonsumsi makanan tertentu, penderita bisa mengonsumsi obat pereda asam lambung seperti antasida. Namun, bila gejala tidak membaik, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter.

Dalam beberapa kasus, dokter bisa meresepkan obat khusus seperti penghambat pompa proton, antagonis H-2, atau antibiotik bila penyebabnya adalah infeksi bakteri Helicobacter pylori.

Comments are closed.