Inovasi Hijau dari Magelang: Petani Ubah Sekam Padi Jadi Pestisida Alami Ramah Lingkungan
METROJATENG.COM, MAGELANG – Siapa sangka limbah sekam padi yang selama ini dianggap tidak berguna, justru menjadi senjata ampuh dalam pertanian organik. Pasangan petani dari Dusun Timoho, Desa Sidorejo, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, membuktikan bahwa pertanian bisa tetap produktif tanpa harus bergantung pada bahan kimia berbahaya.
Sholikin (61) dan sang istri, Ina Saptaningtyas, berhasil menciptakan inovasi pestisida alami berbahan dasar asap cair dari sekam padi. Temuan ini tidak hanya membantu mengendalikan hama tanaman, tapi juga ramah lingkungan dan mengurangi limbah pertanian.
Sholikin menjelaskan proses pembuatan pestisida alami ini. Sekam padi dibakar secara kontinu, menghasilkan asap yang kemudian dialirkan melalui pipa besi ke dalam drum penampung yang ditanam di dalam tanah. Dari proses ini, muncullah cairan hitam pekat yang disebut asap cair.
“Untuk menghasilkan satu liter pestisida, dibutuhkan sekitar 25 kilogram sekam dan pembakaran selama empat jam,” jelas Sholikin. “Cairan ini sangat efektif untuk mengusir ulat, serangga, dan hama lainnya, tanpa merusak tanaman.”
Cairan pestisida nabati ini digunakan dengan cara mencampurnya bersama air. Komposisinya, 200 mililiter asap cair dicampur dengan 16 liter air, lalu disemprotkan langsung ke tanaman padi. Tak hanya efisien, penggunaan pestisida ini juga menghemat biaya produksi secara signifikan.
Yang menarik, asap cair tersebut kaya akan senyawa bioaktif alami yang tidak menimbulkan residu berbahaya. Keunggulan ini menjadikannya solusi ideal bagi para petani organik yang mengutamakan kualitas dan keamanan hasil panen.
Tidak hanya itu, limbah sekam yang tersisa pasca pembakaran juga dimanfaatkan Ina sebagai media tanam. Campuran sekam bakar, tanah, dan pupuk kandang dijual seharga Rp17.500 per sak berukuran 40 x 70 cm. “Satu bahan, dua manfaat. Selain jadi pestisida, sekam bakar ini juga bagus untuk tanaman pot,” ujar Ina.
Inisiatif lokal dari Sholikin dan Ina menjadi contoh nyata bahwa inovasi tak selalu harus datang dari laboratorium. Kadang, solusi terbaik tumbuh dari tanah itu sendiri, dengan ketekunan, kreativitas, dan semangat menjaga alam.
Comments are closed.