PGN Bidik Potensi Jargas Trenggalek, Bantu UMKM Tekan Biaya Energi
METROJATENG.COM, TRENGGALEK – Keripik tempe dan alen-alen menjadi bagian dari kekayaan kuliner Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Di balik produk-produk unggulan tersebut, ada aktivitas produksi yang membutuhkan pasokan energi secara berkelanjutan. Jaringan gas bumi (jargas) pun berpotensi menjadi salah satu solusi untuk mendukung kebutuhan energi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekaligus rumah tangga.
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) sebagai Subholding Gas Pertamina melihat potensi tersebut sebagai peluang untuk memperluas pemanfaatan gas bumi domestik di Trenggalek. Namun, pengembangannya tetap memerlukan kajian terkait kesiapan pasokan, infrastruktur, kebutuhan pelanggan, dan keekonomian jaringan.
Komitmen itu mengemuka dalam kegiatan bimbingan teknis dan sosialisasi pengaturan serta pengawasan gas bumi melalui pipa yang diselenggarakan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama Anggota Komisi XII DPR RI dan PGN di Kabupaten Trenggalek, 16 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengenalkan manfaat gas bumi sekaligus membahas peluang pengembangan jargas agar akses energi praktis dan efisien dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Direktur Gas Bumi BPH Migas, Muhiddin, menjelaskan bahwa jargas memberikan kemudahan karena gas disalurkan langsung ke rumah pelanggan melalui jaringan pipa. Dengan demikian, pelanggan tidak perlu membeli dan mengganti tabung gas secara berkala.
Lebih dari sekadar kemudahan, pengembangan jargas juga menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan gas bumi domestik dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.
“Dengan adanya program jargas ini, kita akan bisa menekan impor LPG yang sampai saat ini sudah mencapai 7,5 juta ton per tahun,” ungkap Muhiddin.
Anggota Komisi XII DPR RI, Dr. Sartono, menambahkan bahwa pengembangan jaringan gas bumi membutuhkan perencanaan terintegrasi, mulai dari ketersediaan sumber pasokan hingga penyaluran kepada konsumen. Pengaturan dan pengawasan yang baik juga diperlukan untuk menjaga kepastian investasi, daya saing industri, serta perlindungan konsumen.
Menurut dia, wilayah Mataraman, termasuk Trenggalek, memiliki peluang untuk dikaji lebih lanjut sebagai kawasan pengembangan jargas dengan mempertimbangkan potensi daerah dan kebutuhan energi masyarakat.
“Peluang pembangunan jargas perlu dibahas lebih lanjut bersama kementerian dan lembaga terkait dengan mempertimbangkan potensi wilayah serta kebutuhan masyarakat,” kata Sartono.
Gerakkan Usaha Lokal
Bagi UMKM, ketersediaan energi bukan sekadar urusan dapur produksi. Pasokan yang andal turut menentukan kelancaran proses pengolahan, kapasitas produksi, hingga kemampuan memenuhi permintaan konsumen.
Area Head PGN Sidoarjo, Heri Frastiono, mengatakan produk unggulan Trenggalek, seperti keripik tempe, alen-alen, dan berbagai makanan olahan lainnya, menunjukkan adanya aktivitas ekonomi lokal yang membutuhkan dukungan energi.
Gas bumi berpotensi menjadi alternatif sumber energi bagi pelaku usaha apabila pengembangan jaringan didukung pasokan yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
“Gas bumi memiliki keunggulan dari sisi kepraktisan, kenyamanan, potensi efisiensi biaya energi, serta karakteristik pembakaran yang lebih bersih. Bagi pelaku UMKM, ketersediaan energi yang andal dan berkelanjutan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kelancaran proses produksi dan pengembangan usaha,” jelas Heri.
Meski demikian, PGN menegaskan bahwa peluang pengembangan jargas di Trenggalek perlu melalui perhitungan yang matang. Ketersediaan pasokan, kesiapan infrastruktur, potensi jumlah pelanggan, dan keekonomian menjadi faktor penting untuk menentukan kelayakan pengembangan jaringan.
PGN pun membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan guna mengidentifikasi kebutuhan serta potensi pemanfaatan gas bumi di wilayah tersebut.
“PGN senantiasa terbuka untuk berkolaborasi dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam mengidentifikasi potensi pengembangan pemanfaatan gas bumi di berbagai daerah, termasuk Trenggalek. Melalui sinergi dan perencanaan yang terukur, kami berharap manfaat gas bumi domestik dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan pelaku usaha,” tambah Heri.
Melalui sinergi antara regulator, legislatif, pemerintah, dan badan usaha, pengembangan jargas diharapkan tidak hanya memperluas akses energi, tetapi juga membuka peluang peningkatan produktivitas UMKM dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Bagi Trenggalek, peluang pemanfaatan gas bumi menjadi bagian dari upaya mencari sumber energi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan potensi ekonomi lokal. Jika didukung pasokan, infrastruktur, serta perhitungan keekonomian yang memadai, jargas berpeluang menjadi salah satu penopang aktivitas usaha sekaligus mendorong pemanfaatan energi domestik secara berkelanjutan. (*)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.