Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Telkom Rampingkan 50 Anak Usaha, 24 Entitas Sudah Tuntas hingga Semester I 2026

 

METROJATENG.COM, SEMARANG – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk terus mempercepat penataan portofolio bisnis dengan merampingkan 50 entitas anak usaha di lingkungan TelkomGroup. Hingga semester I 2026, sebanyak 24 entitas telah menyelesaikan proses streamlining, sedangkan 26 entitas lainnya masih dalam tahap penataan.

Langkah ini menjadi bagian dari transformasi Telkom dari Operating Holding menuju Strategic Holding. Melalui perubahan tersebut, Telkom ingin membangun struktur bisnis yang lebih ramping, memperkuat fokus pada bisnis inti, sekaligus meningkatkan efisiensi dan daya saing perusahaan.

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan, percepatan streamlining dilakukan dengan tetap mengedepankan kehati-hatian dan evaluasi menyeluruh terhadap setiap entitas.

“Arahan pemegang saham kami maknai sebagai mandat untuk bergerak lebih cepat tanpa mengorbankan kehati-hatian. Karena itu, setiap entitas kami evaluasi secara menyeluruh, apakah relevan dengan bisnis inti, berkontribusi pada nilai grup, dan memiliki prospek yang jelas,” ujar Nanang dalam keterangan resmi, Senin (12/10/2026).

Menurut dia, program tersebut bukan sekadar mengejar jumlah entitas yang berhasil dirampingkan. Lebih dari itu, Telkom ingin memastikan sumber daya perusahaan terfokus pada bisnis yang memiliki prospek dan mampu memberikan nilai tambah bagi grup.

“Percepatan yang kami lakukan bukan hanya untuk mengejar jumlah, melainkan memastikan portofolio TelkomGroup semakin sehat, sumber daya terfokus pada empat segmen bisnis TelkomGroup, sehingga setiap OpCo dapat bergerak dengan lebih lincah,” katanya.

Empat segmen bisnis yang menjadi fokus penataan meliputi Business to Consumer (B2C), B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International. Penataan ini diharapkan membuat masing-masing perusahaan operasional atau Operating Company (OpCo) memiliki fokus bisnis yang lebih jelas dan tidak terjebak dalam tumpang tindih kegiatan usaha.

Selama ini, banyaknya entitas anak usaha menghadirkan tantangan tersendiri bagi TelkomGroup. Mulai dari kompleksitas pengelolaan lintas lini bisnis, tumpang tindih usaha, hingga kebutuhan meningkatkan efisiensi operasional dan mempercepat pengambilan keputusan.

Melalui struktur Holding Company–Operating Company (HoldCo–OpCo), Telkom berupaya membangun ekosistem bisnis yang lebih terintegrasi. Model ini diharapkan memberikan ruang bagi setiap OpCo untuk bergerak lebih gesit, mengembangkan inovasi, serta menangkap peluang pasar sesuai kompetensi utamanya.

Bidik Peningkatan Profitabilitas

Penataan portofolio juga diarahkan untuk memperkuat kinerja keuangan. Telkom menilai, pelepasan bisnis yang memiliki margin kecil dapat membantu meningkatkan profitabilitas dan memperkuat penciptaan nilai secara berkelanjutan.

Nanang menjelaskan, program streamlining sejak awal dirancang untuk memperkuat fundamental TelkomGroup sebagai perusahaan telekomunikasi digital atau digital telco.

Portofolio TelkomGroup selama ini mencakup bisnis inti telekomunikasi digital hingga bisnis pendukung dan bisnis yang berkaitan dengan kegiatan utama perusahaan. Melalui evaluasi tersebut, perusahaan dapat menentukan bisnis yang perlu dipertahankan, dikembangkan, atau ditata kembali.

Di tengah pelaksanaan streamlining, penataan organisasi, dan pengelolaan sumber daya manusia, Telkom mencatatkan kinerja positif pada semester I 2026. Perusahaan menyebut pertumbuhan pendapatan tetap positif, disertai peningkatan profitabilitas pada kuartal II 2026.

Salah satu indikatornya adalah margin EBITDA yang kembali berada di atas 50 persen. Capaian ini menjadi salah satu pijakan perusahaan untuk melanjutkan transformasi bisnis.

Telkom juga menargetkan nilai valuasi perusahaan melampaui Rp550 triliun pada 2030. Target tersebut ingin dicapai melalui penguatan bisnis inti, optimalisasi portofolio, pembukaan peluang kemitraan strategis, serta peningkatan nilai dari setiap segmen .

Di tengah agenda perampingan tersebut, aspek ketenagakerjaan menjadi perhatian. Ketua Umum Serikat Karyawan (SEKAR) Telkom, Nashri, menyatakan dukungannya terhadap program streamlining selama pelaksanaannya tetap memperhatikan kepastian kerja dan kesejahteraan karyawan.

“SEKAR Telkom mendukung streamlining sebagai langkah strategis untuk memperkuat daya saing dan keberlanjutan bisnis Telkom. Kami juga mengapresiasi komunikasi yang telah terjalin dengan baik antara manajemen dan karyawan,” kata Nashri.

Ia menegaskan, transformasi perusahaan perlu dijalankan secara terencana, transparan, dan berkeadilan. Menurut dia, keberhasilan perubahan bisnis tidak boleh dipisahkan dari upaya menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan memberikan kepastian bagi karyawan.

SEKAR Telkom juga meminta agar kesejahteraan, kepastian kerja, dan kenyamanan karyawan tetap menjadi bagian penting dalam setiap tahapan transformasi.

Telkom menyatakan setiap penyesuaian sumber daya manusia akan dilakukan secara bertanggung jawab, sukarela, serta dengan menghormati hak-hak karyawan yang terdampak.

Untuk memastikan program berjalan sesuai ketentuan, Telkom menegaskan bahwa setiap keputusan streamlining dilakukan melalui mekanisme tata kelola perusahaan dan ketentuan hukum yang berlaku.

Proses evaluasi mencakup kajian komprehensif dan due diligence dengan melibatkan pihak ketiga independen. Perusahaan juga mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan Business Judgment Rule (BJR) dalam pengambilan keputusan.

Kehati-hatian terutama diterapkan pada inisiatif yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi, termasuk potensi kerugian akibat pelepasan aset atau bisnis (cut loss), penghapusbukuan (write-off), maupun persoalan hukum.

Dalam konteks tersebut, Telkom berharap percepatan penerbitan peraturan pelaksanaan sebagai tindak lanjut Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengelolaan Badan Usaha Milik Negara dapat memperkuat landasan hukum bagi penataan portofolio.

Dengan proses yang terukur dan tata kelola yang kuat, Telkom menargetkan streamlining tidak berhenti pada pengurangan jumlah entitas, tetapi juga menghasilkan struktur bisnis yang lebih sehat, efisien, dan kompetitif.

Transformasi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Telkom membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang, dengan bisnis inti yang lebih tajam, kinerja yang lebih kuat, dan penciptaan nilai yang berkelanjutan bagi perusahaan serta para pemangku kepentingan. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.