Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Di Balik Gemuruh MotoGP Mandalika, Mereka Tetap Bekerja Dalam Senyap Menjaga Energi

METROJATENG.COM, LOMBOK – Saat sebagian besar orang masih terlelap, kesibukan mulai terasa di Integrated Terminal Ampenan di jalan Yos Sudarso, kota Mataram NTT. Di bawah udara dini hari yang dingin, deretan mobil tangki bersiap menjalankan tugas mengantarkan bahan bakar minyak (BBM) ke sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Lombok.

Sebelum mesin kendaraan dinyalakan dan roda mulai berputar, para Awak Mobil Tangki (AMT) lebih dahulu memastikan setiap kendaraan dalam kondisi aman. Ada yang berjongkok memeriksa ban, memastikan kondisinya layak untuk menempuh perjalanan. Ada yang mengecek rem, lampu, dan bagian kendaraan lainnya. Sementara itu, pekerja lain mengelap kaca, membersihkan permukaan tangki, serta memeriksa kembali perlengkapan keselamatan yang harus tersedia.

Aktivitas itu berlangsung dengan penuh ketelitian. Sesekali, mereka berhenti untuk memeriksa bagian kendaraan yang perlu dipastikan kembali. Tak ada yang ingin terburu-buru meninggalkan terminal sebelum seluruh pemeriksaan selesai.

Bagi para awak, keberangkatan bukan sekadar soal kesiapan mengemudikan kendaraan. Ada tanggung jawab besar yang menyertai setiap perjalanan. BBM yang diangkut harus sampai ke tempat tujuan dengan aman, tanpa mengabaikan keselamatan diri, pengguna jalan lain, maupun muatan yang dibawa.

Terlebih, BBM merupakan bahan yang mudah terbakar sehingga penanganan dan pengangkutannya membutuhkan kedisiplinan serta kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Pemeriksaan kendaraan menjadi langkah penting untuk mengantisipasi risiko sebelum mobil tangki memasuki jalan raya.

Di antara para pekerja yang mengawali hari dengan rutinitas tersebut, ada Ilham. Sebagai Awak Mobil Tangki di Integrated Terminal Ampenan yang sejak pagi dini hari audah siap menjalankan tugasnya. Ia memahami, perjalanan yang aman tidak dimulai ketika kendaraan melaju di jalan, melainkan sejak pemeriksaan pertama dilakukan di terminal.

“Ban yang layak, rem yang berfungsi baik, lampu yang menyala, hingga kesiapan perlengkapan keselamatan merupakan bagian dari tanggung jawab yang harus dipastikan. Setelah kendaraan dinyatakan siap sesuai prosedur, barulah perjalanan menuju titik distribusi dimulai,” katanya.

Di balik setiap liter BBM yang dibawa, ada ketelitian dan kewaspadaan yang tak boleh diabaikan. Sebab, tugas mereka bukan hanya memastikan energi tersedia bagi masyarakat, tetapi juga memastikan setiap perjalanan berlangsung dengan aman.

“Pekerjaan itu bukan sekadar rutinitas. Ada amanah yang harus dituntaskan, ada pasokan energi yang harus tiba, dan ada aktivitas masyarakat yang bergantung pada kelancaran distribusi BBM,” katanya.

Ketika Lombok menjadi tuan rumah Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 pada 9–11 Oktober, tanggung jawab itu terasa memiliki arti yang berbeda. Kedatangan para pebalap dunia dan pengunjung dari berbagai daerah membawa kebanggaan tersendiri baginya.

Di satu tempat, para pebalap bersiap menguji kecepatan dan keterampilan di Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika. Di tempat lain, Ilham tetap menjalankan tugasnya, memastikan BBM tersedia bagi masyarakat yang bergerak menyambut perhelatan internasional tersebut.

Ia mungkin tidak berada di tribun untuk menyaksikan langsung para pebalap melesat di lintasan. Ia juga tidak berdiri di garis start, menunggu lampu balap padam. Namun, ada kebanggaan yang tumbuh dalam dirinya karena menjadi bagian dari peristiwa yang membawa nama Indonesia ke hadapan dunia.

“Saya bangga dengan kehadiran para pembalap di Mandalika. Kehadiran mereka tentunya membawa nama Indonesia makin dikenal di dunia internasional. Untuk itu, saya siap menjalankan tugas membawa energi ke seluruh pelosok negeri,” ungkapnya.

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan makna tentang kebanggaan seorang pekerja yang menemukan arti pengabdiannya melalui hal-hal yang dikerjakan setiap hari.

Ilham tidak harus berada di tengah deru motor yang bersahutan digemerlap MotoGP untuk merasa menjadi bagian darinya. Baginya, selama tugas dijalankan dengan baik dan energi dapat sampai kepada masyarakat, ada sumbangsih yang bisa ia berikan untuk negeri.

Sebab, sebuah perhelatan besar tidak hanya hidup dari apa yang terlihat di depan mata. Di balik kemeriahan, ada pekerjaan yang harus terus berlangsung. Ada orang-orang yang tetap menjalankan tanggung jawabnya, bahkan ketika perhatian dunia tertuju ke tempat lain.

CEK BBM – seorang petugas , tengah mengecek BBM sebelum masuk ke dalam tanki yang siap didistribusikan ke masyarakat . (Ist/redmetrojateng)

 

Energi Ada, Perjalanan Berlanjut

Nyoman Marta menjadi salah satu pekerja yang berada di garis pelayanan di SPBU Pertamina 54.835.14 Kuta Mandalika, juga sibuk melayani konsumen yang datang silih berganti ingin melihat Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026.

Saat kawasan Mandalika semakin ramai oleh kedatangan pengunjung, ia bersama rekan-rekannya tetap bersiap melayani kendaraan yang datang silih berganti. Sebagian pengendara mungkin sedang mengejar waktu agar tidak terlambat menyaksikan balapan. Sebagian lainnya hendak kembali ke penginapan atau menjelajahi sudut-sudut Lombok yang menawarkan keindahan alam.

Di tengah beragam tujuan itu, ada satu kebutuhan yang sama yakni  energi untuk melanjutkan perjalanan.

Bagi Nyoman, melayani pengunjung pada momentum internasional seperti MotoGP menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Ia memang tidak menyaksikan langsung persaingan para pebalap dari balik pagar sirkuit. Namun, dari tempatnya bekerja, ia merasakan denyut perhelatan yang menghidupkan kawasan tersebut.

Ada kepuasan dalam diri Nyoman, ketika BBM tersedia, pelayanan berjalan lancar, dan pengendara dapat kembali melanjutkan perjalanan. Namun, bagi Nyoman, pekerjaannya menjadi cara sederhana untuk ikut mengambil bagian dalam peristiwa besar itu.

“Saya senang BBM yang saya antar tiba tepat waktu, dan pengunjung Mandalika bisa menyaksikan para pembalap beradu ketangkasan. Walau kami tak melihat aksi para pembalap, tapi kami tetap bangga, Indonesia kini mendunia,” tuturnya.

Ada sesuatu yang menyentuh dari kebanggaan semacam itu. Nyoman tidak menuntut untuk ikut menjadi pusat perhatian. Ia cukup bahagia mengetahui bahwa pekerjaannya turut mendukung perjalanan orang lain, termasuk mereka yang datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan Indonesia menjadi tuan rumah balapan kelas dunia.

Di balik seragam kerja dan rutinitas pelayanan, ada perasaan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Bagi para penonton, perjalanan ke Mandalika mungkin menjadi pengalaman yang dinantikan sejak lama. Bagi para pebalap, balapan adalah perjuangan menaklukkan lintasan. Sementara bagi Nyoman dan rekan-rekannya, kontribusi itu hadir melalui pelayanan yang harus tetap terjaga.

Mereka tidak menentukan siapa yang akan naik podium. Namun, mereka menjalankan bagian dari pekerjaan yang membantu masyarakat bergerak selama perhelatan berlangsung.

Tidak Semua Perjuangan Terdengar

MotoGP identik dengan kecepatan, keberanian, dan persaingan untuk menjadi yang terbaik. Deru mesin, sorak-sorai penonton, serta ketegangan di setiap tikungan menjadi daya tarik yang menyedot perhatian dunia.

Namun, ketika kamera menyorot para pebalap dan tribun dipenuhi penonton, kehidupan di luar sirkuit tidak berhenti.

Mobilitas masyarakat tetap berlangsung. Wisatawan masih harus menempuh perjalanan. Kendaraan membutuhkan BBM, dan para petugas di lapangan harus memastikan pelayanan tetap berjalan. Di sinilah kisah Ilham dan Nyoman menemukan benang merahnya.

Keduanya bekerja di tempat yang berbeda, dengan tanggung jawab yang tidak sama. Ilham memastikan BBM bergerak dari terminal menuju titik distribusi. Nyoman berada di ujung pelayanan, membantu memastikan kebutuhan energi pengendara terpenuhi.

Mereka adalah bagian dari mata rantai yang saling terhubung. Ketika satu bagian bekerja dengan baik, bagian lainnya dapat menjalankan tugasnya. Energi yang didistribusikan menjadi tersedia di SPBU, lalu digunakan masyarakat untuk melanjutkan aktivitas.

Pekerjaan itu mungkin tidak menghasilkan tepuk tangan. Tidak pula tercatat dalam daftar pencapaian para pebalap. Namun, keberadaannya memiliki arti bagi orang-orang yang mengandalkan layanan tersebut.

 

 

SIAP JALANKAN TUGAS – Para awak mobil tanki (AMT) usai melakukan penecekan, siap menjalankan tugas menjaga energi hingga pelosok negeri.(ist/redmetrojateng)

 

VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan dedikasi para pekerja di berbagai lini, mulai dari terminal BBM, Awak Mobil Tangki, hingga operator SPBU, menjadi bagian penting dalam menjaga keandalan layanan energi selama Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026.

“Di balik kesiapan energi selama Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, ada para pekerja yang terus memastikan pasokan dan pelayanan berjalan dengan baik. Kontribusi mereka menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran mobilitas masyarakat dan memberikan pengalaman pelayanan yang nyaman bagi para pengunjung,” ujar Kitty.

Menurut dia, kelancaran layanan energi tidak terlepas dari kesiapan para pekerja yang menjalankan tugas di lapangan. Ketersediaan BBM dan pelayanan kepada masyarakat menjadi bagian dari dukungan terhadap aktivitas selama penyelenggaraan ajang internasional tersebut.

“Kesiapan itu bukan hanya tentang memastikan pasokan tersedia, melainkan juga tentang peran manusia yang menjaga agar pelayanan tetap berjalan. Sebab, di balik distribusi dan fasilitas, ada orang-orang yang setiap hari menjalankan tanggung jawabnya.Ilham dan Nyoman adalah dua di antaranya,” katanya.

Mungkin ada hari-hari ketika pekerjaan terasa begitu biasa. Berangkat bertugas, memeriksa kendaraan, menempuh perjalanan, memastikan pasokan sampai, melayani pelanggan, lalu kembali menjalani rutinitas. Semua berlangsung tanpa sorotan dan tanpa tepuk tangan.

“Namun, ketika Mandalika menjadi perhatian dunia, rutinitas itu memperoleh makna yang lebih luas,” tambahnya. (*)

 

Comments are closed.