BI Jateng Angkat Kisah Cheng Ho dalam Rupiah Tresno Budoyo 2026
METROJATENG.COM, SEMARANG – Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah mengemas edukasi tentang Rupiah melalui pendekatan budaya dan sejarah dalam kegiatan Rupiah Tresno Budoyo 2026 di Kota Semarang.
Salah satu yang menarik, BI mengangkat kisah perjalanan Laksamana Cheng Ho dalam sebuah pertunjukan spektakel seni. Kisah pelayaran Cheng Ho dari Tiongkok ke Semarang menjadi inspirasi untuk menggambarkan panjangnya hubungan budaya sekaligus konektivitas Indonesia dan Tiongkok hingga era transaksi digital.
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah Anggis Rakhmi Ikhsan mengatakan pendekatan budaya dipilih agar edukasi BI lebih dekat dan mudah diterima masyarakat.
“Ini merupakan upaya kita untuk melakukan edukasi dengan pendekatan budaya dan sejarah. Kami berupaya mendekatkan kegiatan kami dengan budaya masyarakat sehingga harapannya lebih mudah diterima,” kata Anggis, Sabtu malam (26/9/2026) dalam acara Rupiah Tresno Budoyo, yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jateng di Sam Po Kong.
Rangkaian kegiatan berlangsung sejak pagi dengan berbagai aktivitas edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah. BI juga melibatkan pelaku UMKM serta menggelar kegiatan terkait pengendalian inflasi pangan.
Selain itu, masyarakat diajak mengembalikan uang logam yang sudah tidak layak edar melalui kegiatan Gaul. Tercatat 84 orang menukarkan 21.840 keping uang logam dengan nilai sekitar Rp8,3 juta.
“Ini merupakan upaya kami untuk mengembalikan uang logam yang tidak layak edar ke Bank Indonesia sehingga uang logam yang beredar di masyarakat merupakan uang yang layak edar,” ujarnya.
Cheng Ho Jadi Inspirasi
Pada malam hari, rangkaian Rupiah Tresno Budoyo dilanjutkan dengan pertunjukan spektakel yang digarap Eco Dance Company bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Profesor Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A., mengatakan karya tersebut mengangkat tiga gagasan utama, yakni sejarah pelayaran dan perdagangan maritim, akulturasi budaya, serta konektivitas teknologi.
Pertunjukan menampilkan perjumpaan budaya Jawa, Arab dan Tionghoa yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Semarang. Unsur kesenian seperti barongsai, liong dan Gambang Semarang juga ditampilkan dalam kolaborasi tersebut.
“Budaya dan sejarah sekarang bukan lagi sesuatu yang kita anggap sebagai masa lalu. Sejarah nyata-nyata bisa hadir dan memberikan pemahaman kepada generasi sekarang,” kata Eko.
Konsep pertunjukan tersebut dirangkum dalam tema “Two Shows, One Story and One Connection”.
Menurut Anggis, kisah akulturasi budaya antara Indonesia dan Tiongkok juga menjadi inspirasi untuk melihat perkembangan sistem pembayaran kedua negara.
“Ini memberikan analogi bagaimana kita mengakulturasikan sistem pembayaran antara Tiongkok dan Indonesia,” ujarnya.

Dorong Transaksi Non-Tunai
Pesan mengenai konektivitas juga dibawa BI ke dalam upaya mendorong digitalisasi sistem pembayaran di daerah.
BI mendukung Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui BPKAD dan Bapenda dalam mendorong peningkatan transaksi non-tunai untuk pembayaran pajak dan retribusi daerah.
Program tersebut juga dikemas dalam bentuk penghargaan dan insentif bagi pemerintah daerah yang meningkatkan transaksi non-tunai.
Anggis mengatakan digitalisasi transaksi pemerintah daerah diharapkan dapat membangun ekosistem pembayaran yang berkelanjutan sekaligus mendukung peningkatan pendapatan asli daerah.
“Tujuannya supaya ekosistemnya bisa terbangun dan dengan transaksi non-tunai ini akan meningkatkan pendapatan asli daerah,” katanya.
Melalui Rupiah Tresno Budoyo 2026, BI ingin menunjukkan bahwa edukasi Rupiah tidak hanya berbicara tentang uang fisik, tetapi juga bagaimana sistem pembayaran terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
Dari perjalanan Cheng Ho yang menghubungkan Tiongkok dan Semarang melalui jalur laut, kini konektivitas tersebut hadir dalam bentuk teknologi pembayaran yang memungkinkan transaksi berlangsung semakin cepat dan tanpa batas. (*)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.