Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Wibowo Prasetyo: Empat Pilar Harus Menjadi Etika Hidup Bersama

METROJATENG.COM, PURWOREJO- Anggota MPR RI Wibowo Prasetyo mengajak masyarakat untuk tidak berhenti memahami Empat Pilar MPR RI sebagai pengetahuan kebangsaan yang diingat dan dihafalkan. Menurutnya, tantangan yang lebih penting justru bagaimana nilai Pancasila, konstitusi, persatuan, dan kebhinnekaan hadir dalam cara masyarakat memperlakukan sesama dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan Wibowo dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar di Rumah Dinas Wakil Bupati Purworejo, Kabupaten Purworejo, Selasa (15/9/2026). Kegiatan tersebut diikuti lebih dari seratus peserta dari berbagai unsur masyarakat.

Wibowo mengatakan, persoalan kebangsaan hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk ancaman besar terhadap negara. Ia justru kerap bermula dari hal-hal yang tampak sederhana: hilangnya penghormatan kepada orang yang berbeda, mudahnya seseorang menghakimi orang lain, semakin kasarnya percakapan di ruang publik, hingga kecenderungan melihat perbedaan pilihan dan pandangan sebagai permusuhan.

“Karena itu, Empat Pilar jangan hanya selesai menjadi materi sosialisasi. Ukuran keberhasilannya bukan berapa banyak orang yang hafal Pancasila, tetapi apakah nilai-nilainya hidup dalam perilaku kita. Apakah kita masih mau bergotong royong, menghargai perbedaan, berlaku adil, dan menyelesaikan persoalan melalui musyawarah,” kata anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Menurut Wibowo, perkembangan teknologi informasi juga menghadirkan ruang baru bagi kehidupan kebangsaan. Masyarakat kini tidak hanya hidup bersama di kampung, desa, sekolah, tempat kerja, atau lingkungan sosial, tetapi juga bertemu setiap hari di ruang digital.

Di ruang inilah, menurut dia, nilai kebangsaan justru mendapat ujian baru. Informasi bergerak sangat cepat, sementara batas antara kritik, perbedaan pendapat, kebencian, dan penghinaan sering kali semakin tipis.

“Dulu orang berbeda pendapat bertemu langsung dan masih melihat wajah orang yang diajak bicara. Sekarang kita bisa marah kepada orang yang bahkan tidak pernah kita kenal hanya karena satu unggahan. Maka Bhinneka Tunggal Ika juga harus hidup di media sosial. Berbeda pendapat tidak berarti kehilangan persaudaraan,” ujarnya.

Empat Pilar MPR RI meliputi Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Wibowo menekankan bahwa keempatnya tidak seharusnya dipahami sebagai konsep yang jauh dari kehidupan masyarakat. Nilai Pancasila, misalnya, dapat ditemukan dalam gotong royong warga ketika membantu tetangga yang kesulitan. Bhinneka Tunggal Ika terlihat ketika masyarakat dengan latar belakang agama, kelompok, maupun pandangan yang berbeda tetap saling menghormati. Sementara kesadaran terhadap konstitusi tercermin dalam penghormatan terhadap hak sekaligus kewajiban setiap warga negara.

Karena itu, ia menilai keluarga dan lingkungan masyarakat memiliki peran yang tidak kalah penting dibandingkan pendidikan formal dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan.

“Indonesia tidak hanya dijaga dari Jakarta. Indonesia juga dijaga dari Purworejo, dari desa-desa, dari keluarga, dari sekolah, dari tempat ibadah, bahkan dari bagaimana kita berbicara kepada tetangga yang berbeda dengan kita,” kata Wibowo.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia sejak awal tidak dibangun dengan menyeragamkan perbedaan. Bangsa ini justru menemukan titik temu di tengah keragaman suku, agama, budaya, bahasa, dan berbagai latar belakang masyarakat.

Oleh sebab itu, menurut Wibowo, tantangan generasi sekarang bukan mencari alasan untuk mempertentangkan perbedaan, melainkan terus merawat ruang perjumpaan agar masyarakat tidak kehilangan kemampuan untuk hidup bersama.

“Saya kira di situlah Empat Pilar menjadi relevan. Pancasila bukan sekadar untuk diucapkan, konstitusi bukan hanya untuk dibaca, NKRI bukan sekadar diteriakkan, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya semboyan. Semuanya harus terlihat dari cara kita hidup bersama,” ujar legislator dari Dapil Jawa Tengah VI yang meliputi Kota/Kabupaten Magelang, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Wonosobo.

Wibowo berharap sosialisasi Empat Pilar MPR RI menjadi ruang dialog kebangsaan yang dekat dengan persoalan nyata masyarakat. Sebab, menurut dia, ketahanan sebuah bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kuatnya institusi negara, tetapi juga oleh kuatnya kepercayaan, solidaritas, dan rasa saling menghormati di antara warganya.

“Kalau kehidupan bersama di tingkat masyarakat kuat, orang masih saling menolong, perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan, dan persoalan dapat diselesaikan dengan musyawarah, maka sesungguhnya di situlah Pancasila sedang bekerja,” pungkas Wibowo.(ris)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.