Kagumi Industri Herbal Sido Muncul, Taiwan Siap Jajaki Pasokan Bahan Baku dari Indonesia
METROJATENG.COM, SEMARANG – Ekspresi kagum terlihat dari rombongan delegasi Taiwan saat menyusuri fasilitas produksi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk di Bergas, Kabupaten Semarang.
“It’s good… Good,” ujar Prof. Yuan Shiun Chang, Profesor Farmakognosi dari China Medical University, Taiwan, saat melihat langsung fasilitas pabrik herbal Sido Muncul.
Kekaguman itu muncul setelah delegasi melihat dari dekat bagaimana tanaman obat yang menjadi bahan baku diproses melalui sistem industri modern hingga menjadi produk herbal.
Rombongan tidak hanya melihat produk jadi. Mereka diajak menyusuri sejumlah fasilitas, mulai dari proses produksi Tolak Angin, laboratorium farmakologi, gudang bahan baku, proses evaporasi hingga fasilitas penelitian dan pengembangan.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari studi lapangan delegasi Taiwan di Indonesia pada 9–17 Agustus 2026. Mereka datang untuk melihat secara langsung potensi tanaman obat Indonesia sekaligus mencari peluang sumber bahan baku herbal untuk kebutuhan Taiwan.
Delegasi terdiri atas akademisi, pemerintah, praktisi Traditional Chinese Medicine (TCM), perusahaan farmasi, importir tanaman obat dan pelaku industri.
Direktur Utama Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, yang mendampingi rombongan, mengatakan delegasi Taiwan cukup serius melihat seluruh mata rantai industri herbal yang dikembangkan Sido Muncul.
“Mereka tadi melihat mulai dari pabrik Tolak Angin, laboratorium, laboratorium farmakologi, kemudian pabrik ekstraksi,” ujar Irwan.
Menurut dia, delegasi juga mendapatkan penjelasan mengenai kelompok tani yang menjadi bagian dari penyediaan bahan baku, penelitian hingga proses produksi.
Bagi delegasi Taiwan, gambaran tersebut penting karena mereka tidak hanya mencari tanaman obat, tetapi juga ingin mengetahui bagaimana bahan baku tersebut diproduksi dan dijaga kualitasnya.
Prof. Yi-Chang Su, Direktur National Research Institute of Chinese Medicine (NRICM) Taiwan, bahkan menegaskan bahwa kedatangan mereka memiliki tujuan berbeda.
“Kami tidak datang untuk menjual produk. Kami ingin membeli herbal dari Indonesia. Selama kualitasnya baik dan harganya wajar, kami ingin meningkatkan pembelian dari Indonesia,” kata Prof. Su.
Terkejut dengan Kelengkapan Fasilitas
Bagi delegasi, Sido Muncul memberikan gambaran bahwa industri herbal Indonesia telah berkembang jauh dari sekadar produksi jamu secara tradisional.
Laboratorium, fasilitas farmakologi, pengolahan bahan baku dan ekstraksi menjadi bagian penting yang menarik perhatian rombongan.
Hal itu sekaligus menjadi kesempatan bagi Sido Muncul untuk menunjukkan bagaimana industri jamu Indonesia menggabungkan pengetahuan tradisional dengan teknologi, penelitian dan standardisasi.
Irwan mengatakan, ketertarikan delegasi Taiwan merupakan perkembangan positif bagi industri herbal Indonesia.
“Bagi kami, kunjungan seperti ini bukan hanya untuk memperkenalkan Sido Muncul, tetapi juga kesempatan untuk saling bertukar pengetahuan mengenai tanaman obat, standar mutu, penelitian dan pengembangan industri herbal,” katanya.
Taiwan Ingin Beli Bahan Baku dari Indonesia
Ketertarikan tersebut bukan tanpa alasan.Taiwan selama ini masih mengandalkan pasokan tanaman obat dari China. Gangguan rantai pasok selama pandemi Covid-19 membuat mereka mulai mencari sumber bahan baku alternatif.
Indonesia menjadi salah satu negara yang dilirik karena memiliki keanekaragaman tanaman obat yang sangat besar.
Delegasi Taiwan bahkan membawa daftar sekitar 100 jenis tanaman obat TCM yang selama ini banyak dibutuhkan.
Mereka ingin mengetahui tanaman mana yang sudah tersedia di Indonesia, daerah budidayanya, kapasitas produksinya serta kemungkinan mengembangkan tanaman baru yang sesuai dengan kondisi Indonesia.
“Kalau mereka tertarik, mereka akan melakukan pembelian ke Indonesia. Di Taiwan tidak semuanya bisa dibudidayakan dan lebih efisien kalau bahan bakunya dibeli dari Indonesia untuk kemudian dibuat menjadi produk,” kata Irwan.

Menurut dia, kebutuhan tersebut dapat menjadi peluang bagi petani Indonesia sekaligus industri herbal nasional.
Irwan melihat kunjungan delegasi Taiwan bukan sekadar peluang perdagangan. Kerja sama dapat berkembang ke penelitian, budidaya, standardisasi, pendidikan hingga pengembangan produk herbal.
“Kalau ada peluang untuk meningkatkan perdagangan tanaman obat dengan Taiwan, tentu kami menyambut baik. Tetapi yang lebih penting adalah membangun kerja sama jangka panjang,” ujarnya.
Ia menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pemasok bahan baku herbal dunia. Kekayaan tanaman obat yang tersebar di berbagai daerah menjadi keunggulan yang tidak dimiliki semua negara.
Persoalannya, kekayaan tersebut harus diikuti dengan kualitas, kontinuitas pasokan dan pembuktian ilmiah.
“Kita mempunyai kekayaan bahan baku dan pengalaman yang panjang. Tugas kita adalah terus meningkatkan kualitas, standardisasi dan pembuktian ilmiahnya,” tegas Irwan.
Kunjungan delegasi Taiwan akhirnya tidak hanya menjadi perjalanan melihat pabrik. Dari balik kunjungan tersebut muncul peluang yang jauh lebih besar: Indonesia berpotensi menjadi salah satu sumber bahan baku herbal bagi industri Taiwan, sementara Sido Muncul menjadi salah satu contoh bagaimana kekayaan tanaman obat Indonesia dapat diolah melalui industri modern.
Kekaguman delegasi Taiwan terhadap fasilitas Sido Muncul pun menjadi sinyal bahwa industri herbal Indonesia mulai semakin diperhitungkan di pasar internasional. (*)
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.