Pacing Finansial di Rute Sport Tourism
*Oleh: Hendra Zajuli - Staf Unit Kehumasan BI Jateng
METROJATENG.COM, SEMARANG- Demam sport tourism tengah melanda Jawa Tengah. Hampir setiap bulan, berbagai ajang olahraga digelar dan selalu berhasil menyedot ribuan peserta. Mulai dari Rupiah Borobudur Playon, Borobudur Marathon, hingga trail run di Dieng, Gunung Ungaran, dan lereng Merbabu. Olahraga kini tak lagi sekadar aktivitas menjaga kebugaran, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus cara menikmati destinasi wisata.
Fenomena ini tentu patut diapresiasi. Event olahraga mampu menggerakkan sektor pariwisata, meningkatkan okupansi hotel, menghidupkan UMKM, sekaligus memperkenalkan potensi daerah. Di sisi lain, masyarakat semakin terdorong untuk menjalani gaya hidup sehat.
Namun, di balik riuhnya garis start dan meriahnya medali finisher, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: kesiapan finansial para pesertanya.
Bagi sebagian pelari, tantangan terberat justru bukan ketika menghadapi tanjakan panjang atau kelelahan di kilometer-kilometer akhir. Tantangan itu datang jauh sebelum lomba dimulai, yakni saat berburu slot pendaftaran.
Ketika registrasi dibuka, ribuan orang serentak berlomba mengamankan nomor peserta. Dalam hitungan menit, bahkan detik, kuota habis. Situasi ini melahirkan fenomena war ticket yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia sport tourism.
Masalah muncul ketika rasa takut tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO) mengambil alih nalar. Demi memastikan bisa ikut, banyak orang langsung menekan tombol pembayaran tanpa menghitung kembali kondisi keuangannya. Fitur paylater dianggap solusi, cicilan terasa ringan, syarat dan ketentuan transaksi diabaikan. Bahkan ada yang rela membeli nomor peserta dari tangan kedua dengan harga berkali-kali lipat.
Niat awalnya sederhana: ingin hidup lebih sehat.
Namun ironisnya, sebelum tubuh berkeringat di lintasan, kondisi keuangan sudah lebih dulu terengah-engah.
Pengeluaran pun tidak berhenti pada biaya pendaftaran. Ada ongkos perjalanan, akomodasi, konsumsi, perlengkapan olahraga, hingga godaan membeli sepatu carbon plate, jam pintar, pakaian lari edisi terbaru, atau berbagai aksesori yang dianggap dapat meningkatkan performa. Sedikit demi sedikit, seluruh biaya itu membentuk pengeluaran yang tidak lagi kecil.
Padahal, olahraga mengajarkan satu prinsip yang sangat penting, yaitu pacing.
Dalam lari jarak jauh, pacing berarti kemampuan mengatur ritme sesuai kapasitas tubuh. Pelari yang terlalu memaksakan diri sejak awal justru berisiko kehabisan tenaga sebelum mencapai garis finis. Sebaliknya, mereka yang mampu mengendalikan tempo biasanya dapat menyelesaikan lomba dengan lebih baik.
Ironisnya, prinsip tersebut sering hilang ketika berhadapan dengan keuangan pribadi. Kita rela “berlari kencang” menghabiskan uang demi mengikuti tren, lalu kehabisan napas sebelum akhir bulan tiba.
Padahal, kesehatan finansial juga membutuhkan pacing. Mengatur pengeluaran, menyusun prioritas, menabung untuk mengikuti event yang diinginkan, dan memahami batas kemampuan merupakan bagian dari disiplin yang tidak kalah penting dibanding latihan fisik.
Mengikuti event olahraga tentu bukan sesuatu yang salah. Sebaliknya, kegiatan seperti ini membawa banyak manfaat bagi kesehatan maupun perekonomian daerah. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai semangat mengejar gaya hidup sehat justru mengorbankan kesehatan keuangan.
Pada akhirnya, esensi olahraga bukan sekadar mengoleksi medali atau mengunggah foto di media sosial. Lebih dari itu, olahraga adalah tentang membangun ketahanan, konsistensi, dan kemampuan mengelola diri.
Nilai-nilai itu semestinya tidak berhenti di lintasan lari, tetapi juga hadir dalam cara kita mengelola keuangan.
Sebab, pelari yang benar-benar tangguh bukan hanya mereka yang mampu mencapai garis finis, melainkan mereka yang tetap bisa tersenyum ketika lomba usai, karena tubuhnya sehat dan kondisi keuangannya tetap kuat.(**)
Comments are closed.