Metro Jateng
Berita Jawa Tengah

Jas Putih yang Terkulai Layu di Ruang Jaga

 

 

 

 

METROJATENG.COM, SEMARANG- Dokter merupakan tenaga profesional kesehatan yang memiliki peran dan tanggung jawab untuk membina, membangun, dan menciptakan kondisi masyarakat yang sehat. Menjadi dokter bukanlah suatu hal mudah, banyak tantangan dan rintangan yang harus dilalui, bertahun tahun dilalui dengan air mata dan keringat yang bercucuran, ratusan laprak yang harus senantiasa dijalankan siang-malam hanya untuk bisa sampai mengenakan jas putih kebanggaan.

menurut umeds. sudah tercatat dalam kurun waktu awal tahun hingga pertengahan Mei terjadi kasus kematian yang dimana merenggut nyawa teman sejawat. Pengabdian merupakan sebuah tugas wajib dan harus dikerjakan oleh seorang dokter, profesi ini menuntut para dokter bekerja dalam tekanan baik pagi hingga malam, namun pengabdian tersebut tidak menjadikan sebagai alasan untuk mengakomodir kepentingan kekuasaan maupun menjadikan dokter sebagai alat untuk menutupi bejatnya sistem kesehatan yang ada di negeri ini.

Menurut peraturan Kementerian Kesehatan waktu kerja ideal untuk dokter internship adalah sebanyak 40 jam per minggu, atau setidaknya 8 jam per hari Angka “40 jam per minggu” yang tertuang dalam lembar regulasi Kementerian Kesehatan kini tak ubahnya fiksi di atas kertas.

Realitas di garda terdepan memaksa para dokter internship membenturkan tubuh mereka pada jam kerja abnormal yang brutal. Mereka diperlakukan layaknya mesin yang tak punya rasa lelah, terjebak dalam pusaran shift panjang tanpa jeda pemulihan yang layak.

Ketika sistem kesehatan membiarkan jam kerja ideal ini dilanggar demi menambal kurangnya fasilitas dan tenaga medis di daerah, saat itulah negara secara tidak langsung sedang merancang skenario maut bagi para penyembuh.

Kematian para dokter muda ini bukanlah takdir yang tak terelakkan, melainkan akibat langsung dari kelalaian sistem yang menutup mata terhadap eksploitasi tenaga medis.

Kasus seperti ini tidak hanya terjadi sekali, pada triwulan pertama tahun ini sudah terdapat setidaknya 3 kasus kematian yang merenggut teman- teman sejawat. Hal seperti ini seharusnya tidak boleh dibiarkan dan dilanjutkan terus menerus, apabila hal ini dilanjutkan terus menerus maka sistem kesehatan Nasional tidak akan mampu menciptakan lingkungan yang sehat di masyarakat.

Dokter bukanlah pekerja paksaan ataupun bidak yang digunakan untuk menutupi bobroknya sistem tata kelola kesehatan dalam negri, dokter merupakan jembatan antara pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan masyarakat yang sehat dan sejahtera.

Kesehatan tidak akan tercipta apabila tata kelola ataupun sistem kesehatan tersebut tidak sehat. Menunda pembenahan sistem kesehatan berarti membiarkan ruang jaga rumah sakit terus berubah menjadi kamar mayat bagi para dokter muda.

Indonesia tidak akan pernah mencapai masyarakat yang sejahtera jika pilar-pilar penyangganya dibiarkan roboh satu per satu karena kelelahan. Reformasi kesehatan harus dilakukan bukan sekadar untuk mempercantik angka-angka statistik di laporan kerja pemerintah, melainkan untuk memanusiakan manusia di dalamnya.

Menghentikan kematian sia-sia para dokter internship ini adalah ujian moral terbesar bagi pemegang kebijakan hari ini, apakah mereka akan memperbaiki sistem yang bobrok ini, atau tetap membiarkan jas putih berikutnya terkulai layu di lantai ruang jaga?(*)

 

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.